
Setelah mencerna berita yang ditemukan, Aldrich buru-buru melipat kedua potongan koran itu menjadi kecil dan mengantonginya. Lalu ia merapikan kembali kotak kardus seperti sebelumnya.
Tuan Cassius, aku pinjam dulu. Kalau semuanya sudah selesai akan kukembalikan.
Aldrich sedikit membungkuk di depan kardus yang ia obrak-abrik tadi. Bagaimanapun ini bukan barangnya. Tapi meskipun begitu, ia membutuhkannya untuk mencari tahu semua rahasia kematian orang tuanya.
Setelah membaca tulisan tuan Cassius tadi, bisa disimpulkan kalau keluarga Hamilton tidak disukai oleh para pengusaha lain. Karena aku yakin tidak hanya Rose Group yang berpikiran begini.
"Aldrich lihat! Aku membawakan kipas angin yang besar." Molly masuk dengan kesusahan karena pintu tertutup. Tentu saja sebagai anak yang ingin dipandang baik, Aldrich membantunya.
"Maaf jadi merepotkan kak Molly."
"Jangan begitu, ini memang tugasku." Molly mulai memasang kipas angin untuk Aldrich.
"Oh iya, kenapa kak Milly dan kak Molly jarang ke bawah? Bahkan sampai aku tidak pernah melihat wajah kakak."
"Selain malas, karena tidak ada hal lain yang harus dikerjakan di bawah. Di lantai 2 ada dapur kecil, jadi bisa masak disana, dan di kamar kami ada kamar mandi pribadi. Tapi tetap saja harus ke bawah untuk menyetok alat pembersih, dan makanan. Terakhir kami ke bawah, saat kamu dan nona Emma pergi ke luar negeri. Jadi kebetulan saja tidak bertemu. Kalau masalah kabar, tentu saja kami tahu kalau nona mengangkat seorang anak." Jelas Molly sambil mendekati sakelar untuk menyalakan kipas angin.
Kipas angin akhirnya menyala, menerbangkan debu kecil, dan menggerakkan beberapa tumpukan kertas. Rasa pengap yang sebelumnya menyelimuti ruangan itu mulai hilang.
__ADS_1
"Nah bagaimana kalau kita membaca buku bersama?" Molly mengambil buku secara acak yang berada di rak.
"Katanya tidak suka baca buku."
Molly tertawa sambil menggaruk tengkuknya. "Makanya sekarang coba baca biar suka."
"Iya deh." Aldrich mulai membaca buku bersama Molly yang duduk tanpa alas di seberangnya. Sebenarnya Aldrich juga tidak tahu buku apa yang sedang ia baca, tapi selama itu masih mencakup bahasa yang ia mengerti, maka libas saja.
"Halo halo, i'm come on." Ruri datang bersama Milly yang ikut membawakan cemilan.
"I'm come on artinya apa bibi?" Tanya Aldrich.
"Aku datang. Bahasa Inggris itu. Hebat kan aku? Baru beberapa hari di luar negeri sudah bisa bahasa Inggris." Jawab Ruri sambil menepuk dadanya dengan sombong.
Tapi kan kalian orang luar! Masa benar-benar tidak ingat?
Akhirnya semua berakhir dengan acara membaca buku bersama. Aldrich sendiri memilih makan mie buatan Ron yang rasanya tidak beda jauh dari buatannya, apanya yang spesial? Aldrich makan sambil sesekali melihat sekitar, siapa tahu ia bisa menemukan petunjuk lainnya tentang keluarga Hamilton.
"Oh iya Al, sebelumnya nona Emma pernah cerita kalau dihadang preman di jalan. Tapi saat tahu dia mengenalmu, mereka langsung membebaskannya. Kenapa kamu bisa berteman sama preman? Tidak takut?" Tanya Ruri yang membuat Milly dan Molly ikut penasaran, dan merapatkan tempat duduk mereka.
__ADS_1
Aldrich tersenyum sebentar, lalu menjelaskan. "Kalau hidup di jalanan, jangan takut. Prinsip mereka, yang kuat adalah pemenangnya. Tapi aku berhasil merubahnya. Dimana aku membuktikan bahwa, yang pintar adalah pemenangnya."
"Bagaimana cara merubah hukum rimba itu? Biasanya kan preman selalu memalak anak jalanan, dan memerintah mereka seenak jidat." Komentar Molly.
"Cukup buktikan saja. Aku mencoba memberikan informasi pada mereka tempat untuk memalak yang aman, dan juga aku membantu membuat strategi tawuran dengan persentase kemenangan 100%. Meskipun awalnya tidak digubris, tapi saat mereka mencobanya benar-benar berhasil. Lalu mereka menyembahku seperti dewa. Setelah itu, aku memanfaatkannya untuk melakukan kesepakatan agar tidak menggangguku dan teman sebayaku kedepannya. Tada! Berhasil. Selain itu, mereka akan secara refleks menyelamatkanku ketika aku berada dalam bahaya, karena mereka tidak ingin sumber informasinya hilang."
"Habat! Kamu melakukan itu seorang diri? Keren sekali. Bagaimana bisa kepikiran sampai sana?" Tanya Milly.
"Aku hanya terinspirasi dari komik yang kubaca di koran bekas." Jelas Aldrich sambil tertawa ringan.
Ruri hanya menatap Aldrich saat si kembar itu memujinya dengan gila-gilaan. Sudah kuduga Aldrich anak yang spesial. Mana mungkin anak kecil seumurannya memikirkan hal seperti itu? Lagipula aku sudah curiga karena dia bisa baca tulis dengan lancar. Siapa yang mengajarinya? Relawan yang menjadi pahlawan anak jalanan? Itu mungkin saja, tapi bisa menguasainya di umur sekecil ini cukup mengejutkan. Apalagi saat liburan kemarin, dia terlihat paham bahasa Inggris. Jika memang Aldrich anak seperti itu, berarti nona Emma menemukan permata di dalam lumpur.
"Kenapa bibi Ruri hanya melamun?" Tanya Aldrich yang membuat pikiran Ruri langsung buyar.
"Biasalah, mikirin nanti mau masak apa?" Elak Ruri sambil tertawa. Dan Aldrich mengangguk paham.
"Lihat deh, buku yang kubaca bagus tau. Cerita tentang anak kecil yang berubah jadi tomat." Molly dengan antusias mengangkat buku cerita ditangannya.
"Aku mau baca juga dong." Milly langsung merebutnya.
__ADS_1
"Eit! Buat Aldrich dulu." Molly merampasnya lagi.
Mereka malah berebut buku, sementara Aldrich menonton perkelahian seru itu sambil makan cemilan.