Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Potongan Kisah


__ADS_3

Aldrich melihat betapa berantakannya keadaan lantai 2. Meskipun begitu, Ruri bercerita kalau Emma yang melarang siapapun untuk memindahkan barang disana. Kebanyakan adalah barang-barang milik ayah angkatnya, tuan Cassius.


"Lalu disini ada gudang." Ruri cukup piawai menjadi tour guide bagi Aldrich. "Pokoknya lantai 2 ini kosong. Cuma terkadang si kembar yang suka bersliweran untuk bersih-bersih."


Aku mulai penasaran dengan si kembar itu. Sepertinya mereka cukup sibuk.


Aldrich berjalan mengekori Ruri untuk menuju tangga lantai 3. Saat melewati sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka, Aldrich tidak sengaja melihat foto raksasa yang terpajang diatas ranjang tempat tidur. Itu adalah foto sebuah keluarga kecil dengan satu anak perempuan berkepang dua yang imut. Aldrich sempat berhenti untuk melihat foto itu dari luar kamar. Tapi Ruri tiba-tiba menepuk bahunya sambil bicara dengan pelan.


"Itu adalah foto tuan Cassius bersama istri dan anaknya. Sayangnya, mereka meninggal karena kecelakaan. Setelah itu, tuan Cassius memutuskan untuk tidak menikah lagi, dan hanya mengadopsi anak untuk menjadi pewaris Rose Group."


Aldrich mengangguk, dan Ruri kembali membawanya untuk menuju lantai 3.


"Ruri."


"Ruri."


Baru saja menaiki setengah tangga, Aldrich dan Ruri disambut oleh dua perempuan yang memiliki wajah serupa. Dengan rambut pirang dan mata biru, memperlihatkan bahwa mereka bukan berasal dari negara ini.


"Mereka cantik kan? Seperti boneka. Namanya Milly dan Molly."


Aldrich langsung membungkuk dengan sopan didepan perempuan kembar yang nampak lebih muda dari Emma itu. "Salam kenal. Namaku Aldrich."


"Imut. Mirip seperti nona Emma."


"Kenapa bisa ada anak seimut ini?"


Aldrich hanya tersenyum. Ia tidak tahu siapa yang berbicara. Wajah mereka sama, dan suaranya pun sama. Bahkan sampai gaya rambut pun sama. Bagaimana cara membedakannya?


"Sedikit tips." Ruri berbisik pada Aldrich. "Molly itu giginya gingsul, kalau Milly tidak."


Aldrich mengangguk. Kemampuan bibi Ruri dalam membaca keadaan sangat bagus.


"Salam kenal juga Aldrich. Kita sebelumnya adalah anak tanpa identitas yang dibawa tuan Cassius dari luar negeri saat perjalanan bisnisnya. Namaku Milly, dan dia adalah adik beda menitku, Molly."


"Halo, aku Molly."

__ADS_1


Aldrich tersenyum sambil mengangguk. Mungkin susah dibedakan jika mereka diam saja dan tidak bicara. Giginya tidak kelihatan.


"Milly, dimana Melin? Tadi aku melihatnya di lantai 3. Kasihan dia sakit." Tanya Ruri.


"Dia sudah turun tadi, dan Melin tidak sakit kok. Malah sangat bugar. Dia mengajak aku dan Molly lari pagi bersama. Tapi kami sangat malas, bahkan hanya sekedar turun ke lantai dasar pun malas. Jadi setelah ditolak, dia pergi."


Pantas saja aku tidak pernah melihat kakak kembar ini. Ternyata mereka pemalas. Tapi kenapa sering bersih-bersih? Mungkin kata pemalas yang mereka ucapkan hanya untuk basa-basi agar lolos dari tawaran lari pagi.


"Ah oke. Karena sudah sampai disini, bagaimana kalau lihat-lihat buku dulu? Kamu suka buku kan? Siapa tahu kita bisa menemukan buku dongeng langka disana." Usul Ruri sambil melihat kearah Aldrich.


"Iya mau kak."


"Ayo biar kuantar ke tempatnya." Molly langsung menarik tangan Aldrich dan membawanya pergi seolah tidak sabar.


"Aku akan mengambil cemilan." Teriak Ruri.


Molly membawa Aldrich memasuki sebuah ruangan di ujung lantai. Saat membuka pintu, mereka langsung disambut beberapa rak buku besar yang berisi banyak buku. Beberapa kardus yang terlihat berdebu juga menumpuk disana.


"Tada! Ini semua bukunya. Tapi sangat berantakan. Aku tidak bisa menatanya. Tidak seperti tuan Ron yang sangat teliti itu. Disini bukunya tidak pernah berpindah tempat sejak ditaruh pertama kali oleh tuan Ron. Aku dan Milly tidak suka baca buku."


"Itu apa?" Akhirnya Aldrich bertanya sambil menunjuk kotak kardus.


"Oh itu potongan koran yang dikumpulkan tuan Cassius. Dulu, tuan suka menyimpan potongan koran yang berisi berita penting."


Berita penting? Aku mungkin bisa menemukan berita tentang keluarga Hamilton.


"Sepertinya aku ingin baca buku disini saja." Ucap Aldrich sambil pura-pura mengambil salah satu buku. Ia sebenarnya mengincar kotak kardus itu.


"Oke tunggu sini ya. Akan kuambilkan kipas angin. Sayang sekali tidak ada AC di ruangan ini."


"Ah iya. Dimana kak Milly?" Tanya Aldrich untuk memastikan kalau tidak akan ada orang yang bisa memergokinya saat mengobrak-abrik barang tuan Cassius itu.


"Dia lanjut membersihkan lantai 2. Tadi belum selesai mengelap jendela." Setelah menjelaskan, Molly pergi untuk mengambil kipas angin.


Aldrich melihat sekitar, lalu menutup pintu dengan tenang. Setelah itu ia langsung mendekati kotak kardus tadi dan membukanya. Untung saja kardusnya tidak ditutup dengan perekat atau sebagainya.

__ADS_1


Setelah disambut oleh debu yang berterbangan, Aldrich melihat potongan kertas yang berada dibagian paling atas. Itu adalah potongan sampul koran dengan foto besar yang memperlihatkan dua kendaraan hancur karena kecelakaan. Mobil yang ringsek, dan sebuah bis antar kota dengan bodi sampingnya yang penyok.


Kenapa yang seperti ini disimpan segala? Apa bagusnya berita kecelakaan? Mungkin aku saja yang berpikir terlalu jauh kalau disini ada berita tentang keluarga Hamilton.


Saat Aldrich hendak menaruh kertas itu, ia baru sadar kalau mobil yang ringsek itu dicoret-coret oleh tanda panah menggunakan pena.


Apa tuan Cassius yang mencoretnya? Kenapa diberi panah? Dan kenapa hanya di bagian-bagian tertentu?


Aldrich membaca tulisan dibawah foto itu dengan cepat.


Kecelakaan yang terjadi antara mobil sedan hitam dan bis antar kota ini memakan satu korban jiwa. Tapi tidak ada yang bisa menjelaskan siapa dia. Polisi bungkam, hingga memunculkan tanda tanya besar. Bahkan pihak rumah sakit yang menangani jenazahnya terkesan menutup mulut dari awak media. Siapakah dia?


Aneh sekali. Apa tuan Cassius tertarik dengan berita misteri?


Aldrich mengambil potongan kertas koran lain. Itu menunjukkan foto seseorang yang ingin masuk mobil dengan dikawal banyak bodyguard. Wajahnya ditutupi dengan tangan seolah tahu kalau akan ada orang yang memotretnya diam-diam.


Dibawah foto itu tertulis. Bikin penasaran! Apakah ini sosok penerus keluarga Hamilton? Usianya belum ada 26 tahun, mari kita tunggu acara pengenalannya.


Ada keluarga Hamilton!!!


Tunggu dulu...


Aldrich baru sadar, di foto orang yang ingin masuk mobil ini, terdapat coretan pena juga di beberapa bagian mobil persis seperti sebelumnya.


Jangan-jangan...


Aldrich segera mengambil potongan koran sebelumnya, dan mensejajarkannya. Ternyata tuan Cassius tidak asal menandai, ia menandai dibagian yang sama persis seperti mobil yang ringsek sebelumnya. Dengan syok, Aldrich membalik koran dengan gambar mobil ringsek, dan ternyata ada tulisan tangan disana.


Mobil yang sama. Dimulai dari letak stiker, baret di bemper, dan kesamaan lainnya. Mereka bisa menipu publik, tapi tidak bisa menipu mataku.


Keluarga Hamilton akan beristirahat sebentar. Calon pewaris andalan mereka meninggal. Ini adalah saat yang tepat bagi Rose Group untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Meskipun aku tidak suka bangkit dari keterpurukan orang lain, tapi keluarga Hamilton memang terlalu sombong.


Beristirahatlah dengan tenang, JH


JH? Jeff Hamilton?

__ADS_1


Aldrich terduduk dengan lemas. Berarti ayahku meninggal karena kecelakaan?


__ADS_2