
"Lihat! Itu laut!" Emma menunjuk dengan antusias kearah pemandangan yang terlihat dari atas bianglala.
"Jauh sekali." Komentar Aldrich sambil melihat kearah yang ditunjuk Emma.
"Ka-kalian jangan banyak bergerak! Tempat dudukku bergoyang!" Matt menutup matanya dengan tubuh yang bergetar. Ia tidak habis pikir dengan satu-satunya perempuan di kelompok ini, katanya tidak ingin liburan, tapi setelah itu malah senangnya bukan main. Sampai naik wahana pun tidak bisa diam.
"Jangan bilang kalau kak Matt ini... Takut ketinggian?" Tebak Aldrich yang sepertinya benar, karena Matt hanya terdiam.
Emma menunjukkan senyum usilnya, lalu berdiri dari tempat duduk dan bergerak kesana kemari dengan cepat, membuat tempat mereka bergoyang dengan hebat. "Lalala~"
"Hentikan! Emma stop!" Matt langsung histeris, membuat Emma semakin semangat mengerjainya.
Ya ampun kak Matt payah sekali. Bagaimana mau kubantu dekat dengan kak Emma kalau dia tidak menunjukkan sisi keren sama sekali.
Aldrich menghela nafas kemudian melihat pemandangan yang indah dibawahnya. Taman bermain yang luas itu jadi terlihat lebih kecil, beberapa bangunan yang mengelilinginya juga menjadi lebih jelas. Pikirannya ikut melambung bersama bianglala yang ia naiki, membayangkan apa yang akan ia lakukan setelah ini.
Sebenarnya apa aku boleh melakukan ini? Apa aku boleh merasa senang sebelum membalaskan dendam kedua orang tuaku?
◌
Setelah selesai dengan kehebohan di bianglala, mereka memutuskan untuk makan bersama di restoran yang masih berada di lingkup taman bermain. Emma menghabiskan dua porsi ayam bakar seorang diri, Matt hanya menghabiskan setengah pasta di piringnya karena masih syok dengan insiden bianglala. Sementara Aldrich hanya memakan pancake setelah bersikeras tidak lapar.
"Benar-benar menyenangkan! Kapan-kapan ayo kita kesini lagi." Ucap Emma sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Meskipun aku merasa hampir mati berulang kali, tapi tidak masalah kalau kesini lagi." Matt yang malu, bicara sambil menutup mulutnya.
"Bagaimana menurutmu Al?"
Aldrich tidak mendengar pembicaraan mereka. Ia sibuk memainkan toping stroberi yang tersisa di piring pancake-nya. Rasanya meskipun tubuhnya sedang duduk makan, pikirannya terbang kemana-mana membayangkan banyak hal yang belum terjadi.
"Al?" Emma menepuk pundak Aldrich, dan berhasil membuat anak laki-laki itu terkejut sambil menoleh.
"Kenapa?"
"Seharusnya aku yang tanya. Kenapa kamu melamun? Apa kamu ingin sesuatu? Atau tidak suka dengan perjalanan ini?" Tanya Emma.
Aldrich menggeleng dengan cepat. "Tidak kak, bukan itu."
"Lalu kenapa?"
__ADS_1
"Itu..." Aldrich tersenyum lalu menatap Emma dan Matt bergantian. "Aku hanya tidak ingin ini berakhir."
"Kyaaaa imut." Emma langsung menangkupkan wajahnya diatas meja. Sementara Matt pura-pura melihat arah lain karena merasa terharu.
Andai saja kalian tahu, kalau yang kukatakan ini sungguhan. Karena aku merasa kalau sebentar lagi kita akan berpisah.
Aldrich tersenyum kecut, lalu memakan stroberi yang berada di piringnya tadi.
"Oh iya! Bagaimana dengan foto box?"
Emma langsung mengiyakan usulan Matt. "Ide bagus! Ayo foto bersama!"
Sepersekian detik kemudian tanpa menunggu jawaban Aldrich, Emma langsung menarik tangan anak itu pergi mencari tempat foto. Matt sedikit tertinggal karena harus membayar makanan.
Setelah berlari kesana kemari sambil menarik Aldrich, akhirnya Emma menemukan benda yang dicari. "Ketemu!" Emma berhenti berlari, dan melihat Aldrich sambil tersenyum.
"Astaga kita baru saja selesai makan, kenapa kau berlari secepat itu? Yang lebih mengerikan kenapa Aldrich bisa mengimbangimu?" Nafas Matt hampir habis hanya untuk mengejar Emma yang lari seperti orang kesetanan.
"Aku sudah terbiasa lari-lari dikejar satpolpp dulu." Jawab Aldrich dengan santainya, membuat Matt menyesal sudah bertanya.
"Y-yasudah ayo kita masuk."
"Tunggu." Aldrich menahan tangan Emma lalu menunjuk wajah Matt. "Wajah kak Matt berkeringat, tidak bagus kalau di foto."
Tu-tunggu sebentar! Apakah Aldrich sedang membantuku?! Tapi ini terlalu tiba-tiba. Oh tidak, aku senang sekali!!!
Jeritan dalam hati Matt, sesuai prediksi Aldrich.
Emma adalah perempuan yang tidak peka. Ia tidak tahu kalau kelakuannya ini sangat manis di mata orang lain.
Tugasku selesai. Aldrich mengacungkan ibu jarinya kearah Matt, dan laki-laki dewasa itu membalasnya dengan anggukan kepala.
◌
"Nah masing-masing membawa satu foto." Matt membagikan hasil foto kepada Aldrich dan Emma.
"Kenapa kau pelit sekali? Ayo kita berfoto lagi. Uangmu tidak akan habis untuk berfoto seperti ini." Keluh Emma.
"Bukan itu masalahnya. Jika barang yang kita miliki hanya ada satu, pasti akan dijaga sebaik mungkin kan? Aku ingin kita menjaga foto ini seperti barang berharga." Ucap Matt sambil mengusap foto di tangannya.
__ADS_1
"Dih! Perkataan orang pelit."
Seperti kemarin, Aldrich tidak terlalu mendengarkan perdebatan absurd para orang dewasa di dekatnya ini. Ia sekarang lebih memilih menatap foto ditangannya. Disitu Emma terlihat aneh karena memakai wig kribo sambil bibirnya maju ke depan, tapi sebenarnya itu sangat menunjukkan karakter Emma yang memang aneh. Sementara Matt memaksakan dirinya yang jarang tersenyum itu untuk terlihat gembira di depan kamera, malah membuatnya seperti tokoh antagonis yang baru saja menyusun rencana licik.
Lucu sekali. Aldrich tersenyum tipis lalu mengusap fotonya penuh kasih sayang.
Drrrtt!
Matt merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya yang sedang bergetar. "Tunggu sebentar." Ia sedikit menjauh dari Aldrich dan Emma setelah tahu yang menelpon itu adalah ayahnya.
[Matt!!! Kemana saja kamu hah?! Pulang!] suara ayahnya yang sangat keras itu langsung terdengar bahkan sebelum Matt mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Kenapa?"
[Apa maksudmu kenapa?!]
"Kenapa aku harus pulang? Lagipula yang menggerakkan semua bisnis keluarga Hamilton adalah kau dan juga nenek. Tugasku hanya menandatangani dokumen dan memberi stempel seperti orang bodoh. Suruh saja seseorang meniru tanda tanganku dan aku bisa liburan beberapa hari lagi."
[Dasar gila! Jangan coba-coba bicara begitu di depan nenekmu. Atau kau benar-benar akan dikeluarkan dari keluarga Hamilton.]
"Wah? Bukankah itu bagus? Aku akan bilang padanya, tapi kalau sudah pulang liburan."
[Sebenarnya apa masalahmu Matt? Jeff tidak pernah begitu kurang ajar pada keluarganya seperti dirimu.]
"Heh... Aku tidak sebaik kakak yang tutup mata pada kalian. Karena pada akhirnya, kalian juga yang menyingkirkan kakak karena tidak sejalan dengan apa yang kalian rencanakan. Sebenarnya sampai sekarang, aku masih bersabar."
Matt menunggu umpatan yang mungkin akan keluar dari mulut ayahnya. Tapi tidak ada suara apapun dari lawan bicaranya di telpon. Sangat hening hingga sayup-sayup Matt mendengar isakan tangis pelan yang entah berasal dari mana. Apakah dari ayahnya? Atau kelilingnya?
[Maaf, tapi kamu benar-benar harus pulang sekarang. Penyakit nenekmu kambuh, dan kamu harus menemuinya.]
Setelah suara ayahnya yang terdengar bergetar itu, panggilan berakhir. Matt sampai tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Benarkah ayahnya menangis?
Matt kembali ke sisi Emma, dengan berat hati ia akan mengatakan niatnya. "Emma sepertinya kita harus pulang."
Seperti mengerti apa yang terjadi, Emma mengangguk pelan. "Baiklah, ayo kita kembali." Mungkin anak keluarga kaya itu sibuk sekarang.
Matt sadar dengan kurangnya anggota mereka. "Dimana Aldrich?"
"Oh tadi dia ke toilet. Kita tunggu saja."
__ADS_1
Aldrich akhirnya keluar dari tempatnya bersembunyi, yang berada di belakang posisi Matt menerima telpon sebelumnya.
Haha Sepertinya ini waktu yang tepat untuk bertemu kalian.