Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Masih Belum Selesai


__ADS_3

Korn terdiam. Sebenarnya ia juga tidak yakin apakah cara mengancam seperti ini bisa membuat keinginannya terkabul atau tidak. Tapi rasanya masih cukup memalukan untuk memohon pada Matt.


"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja." Aldrich menjulurkan tangannya kearah Korn sambil tersenyum. Dan laki-laki yang sedang kebingungan itu langsung menemukan jawabannya.



Di rumah sakit.


"Minum obat dulu nyonya." Ria mulai menyiapkan air minum untuk Yelena.


"Ck! Aku sedang malas minum obat." Yelena membuang muka. "Lebih baik kau cepat suruh orang mengurusi Korn."


"Akan saya lakukan kalau anda sudah minum obat. Ini demi kebaikan anda sendiri." Ucap Ria dengan penuh perhatian.


"Benar ibu. Kalau tidak minum obat, bagaimana bisa sembuh?" Charles ikut menasehati.


Jika benar-benar terkena sesuatu setelah meminum obat dari Aldrich, berarti itu hanya nasib buruknya saja. Ria mencampurkan obat yang ia bawa tadi dengan obat yang harus Yelena minum sekarang.


"Silahkan." Ria menyodorkan beberapa pil kearah Yelena, dan tanpa curiga wanita paruh baya itu meminumnya.


Hening. Ria menunggu reaksi obat itu dalam diam, sementara Yelena tidak menunjukkan gejala apapun. Setelah meminumnya, wanita itu hanya tiduran sambil melihat ponselnya.


Apakah dosisnya kurang?


Drrtt!!!


Ponsel yang sedang dibawa Yelena mendapat panggilan masuk. Ria dan Charles yang masih berada disana melihat semuanya.


"Halo?" Yelena mengangkat telpon itu.


[Nyonya. Bolehkah saya ijin pergi? Bukankah tugas saya menjaga Sylvia sudah selesai?]


Yelena merasa heran dengan laporan salah satu anak buahnya yang ditugaskan menjaga Sylvia dipenjara itu. Kenapa tiba-tiba bilang tugas selesai?


"Apa maksudmu? Terus jaga Sylvia, jangan biarkan dia pergi dari sel."

__ADS_1


[Eh? Bukannya Sylvia sudah dibebaskan? Dia baru saja pergi naik mobil]


"Hah?! Apa kau bilang? Siapa yang menyuruhmu mengeluarkan dia?"


[Tadi saya mendapat surat langsung dari tuan Matt Hamilton untuk mengeluarkan Sylvia. Saya kira, anda juga sudah menyetujuinya. Jadi saya membebaskannya.]


"Apa?! Matt? Aku tidak pernah menyuruhnya melakukan itu! Dengan siapa dia pergi? Cepat tangkap kembali!!!"


[Ta-tadi pergi bersama Korn dan seorang anak laki-laki kecil.]


"Anak kecil... Aldrich sialan!!!" Yelena melempar ponselnya ke dinding hingga rusak. "Dia sudah tahu!"


Charles yang mendengar nama Matt dan Aldrich langsung bertanya. "Ada apa ibu? Apa yang sedang terjadi?"


Yelena duduk sambil memegang kepalanya. "Matt sudah berkhianat, dan dia sekarang berada disisi anak Yunna. Matt juga dengan berani membebaskan Sylvia, yang kugunakan sebagai alat tawar menawar dengan Korn. Sekarang Korn pasti tidak akan berada disisi kita lagi. Dia bisa saja membocorkan semua rencana kita pada anak kecil itu!"


Yelena mulai memijat kepalanya yang entah kenapa terasa semakin berat. "Tunggu dulu! Jangan-jangan nenek Ivan, salah satu bawahanku yang menyergap rumah Emma... Ria! Cepat tanya pihak rumah sakit!"


Ria yang paham langsung melaksanakan tugasnya, dan tak butuh waktu lama, pertanyaannya pada pihak rumah sakit langsung dibalas. "Ka-kata mereka, nenek Ivan juga sudah dipindah dari rumah sakit, setelah mendapat surat perintah Matt pagi-pagi sekali. Mereka juga tidak tahu rumah sakit mana nenek itu dipindahkan."


"Ibu tenanglah!" Charles mencoba menyadarkan ibunya yang tiba-tiba menjadi tak terkendali itu. "Ria panggil dokter!"


Dengan cepat Ria menekan tombol darurat di kamar itu. Tidak lupa ia juga diam-diam mengambil kembali sisa obat yang membuat penyakit Yelena semakin parah tadi, supaya tidak ada bukti kalau ia adalah pelakunya.



Di rumah Emma.


"....."


Sudah 5 menit, tapi Emma masih dengan bengis menatap Sylvia yang melakukan hal serupa padanya. Mereka hanya melakukan kontes menatap tanpa ada pembicaraan yang terjadi.


"Kakak tidak usah ikutan." Aldrich menarik Matt menjauhi halaman belakang tempat kontes menatap itu terjadi.


Matt tidak bergerak dan melihat kearah Aldrich. "Aku sudah melakukan semua yang kamu minta. Bahkan mengesampingkan rasa benciku pada Sylvia demi dirimu. Jadi, apakah dengan begini kita bisa membalikkan keadaan?"

__ADS_1


Aldrich tersenyum dan mengangguk. "Sebenarnya kak Matt tidak melakukan itu untukku kan? Tapi untuk kak Emma. Karena sekarang Rose Group sedang berada diambang kehancuran, dan jalan satu-satunya agar bisa bangkit kembali adalah dengan rancanaku."


"Su-sudah! Jawab saja!" Dengan wajah memerah karena malu, Matt menarik pipi Aldrich gemas.


"Haha iya iya. Kita sudah menang kok. Tinggal eksekusi saja. Buat konferensi pers untuk membeberkan semuanya. Bawa bukti foto dari kak jagung, dan jadikan paman Ivan sebagai saksi. Dengan begitu, rencana kotor keluarga Hamilton untuk menjatuhkan kak Emma bisa terkuak."


"Begitu saja? Oke!" Senyum Matt mengembang, lalu mendekati Ryker dan melakukan pembicaraan dengan antusias. Mungkin sedang membuat rencana konferensi pers.


Aldrich menatap sekelilingnya. Halaman belakang yang biasanya sepi, hanya diisi pak Darma yang sedang bekebun, sekarang tiba-tiba ramai. Terlihat Ezra sedang melihat bunga mawar ditemani Ron dan pak Darma yang sepertinya sedang membicarakan filosofi kehidupan. Tak jauh dari mereka, ada Ruri yang diam-diam memotret Korn dari jauh, dia tetaplah fans girl seperti sebelumnya. Sementara Korn sendiri sedang menjaga Sylvia agar tidak memicu keributan dengan Emma. Dan jarak satu meter, ada Ivan yang sedang latihan angkat beban menggunakan pot bunga, dia masih setia melatih otot besarnya.


Aldrich meremas tangannya dengan kuat. Masalah kak Emma selesai. Sekarang tinggal masalahku. Melakukan serangan balik untuk ayah ibu.


Dengan langkah besar Aldrich pergi dari halaman belakang menuju kamarnya. Setelah sampai disana, ia mengambil ransel yang ia tenteng saat pengejaran kemarin. Sebuah stempel yang terlihat mewah berada di dalam sana.


Aku lupa memberikan ini pada Popol.


Aldrich pergi lagi menuju telpon rumah, dan menekan nomor yang sudah dihafalnya. Untung saja hampir semua orang sedang berkumpul di halaman belakang, dan si kembar mengawasi keadaan di lantai atas, jadi Aldrich bebas berkeliaran tanpa ada yang tahu.


"Halo Popol."


[Astaga adik kecilku, maaf lama. Aku tadi tidak tahu cara mengangkat telponnya. Ponselmu sangat canggih aku tidak paham, ini juga asal pencet.]


"Ya terserah. Nanti malam kita bertemu, aku lupa menyerahkan stempelnya."


[Harus pakai itu ya?]


"Ya harus. Lakukan sesuai perintahku sebelumnya."


[Baiklah. Aku mengerti]


Aldrich menutup panggilan telpon dan memeriksa jam tangan mewah pemberian Emma.


Seperti kata kakak, jam tangan ini bisa terhubung pada ponsel dan mengetahui dimana letak posisi ponsel itu. Syukurlah Popol tidak bohong, dia melakukan semua yang kusuruh, dan aku bisa memantau pergerakannya lewat jam tangan ini.


Aldrich tersenyum dan berjalan santai kembali menuju kamarnya. Terimakasih bibi Ria sudah mematuhiku. Tapi sayang sekali, karena kau juga akan hancur ditanganku.

__ADS_1


__ADS_2