
Suasana malam dengan penuh lampu dan orang-orang yang berpakaian meriah membuat Aldrich terpukau. Kepalanya tidak berhenti bergerak untuk melihat sekeliling. Banyak penjual makanan juga yang tampak semangat menjajakan dagangannya. Beberapa dari mereka menggoreng sesuatu yang baunya sangat enak.
"Lagi-lagi dadakan. Apa kau tidak lihat wajahku yang tidak pakai make up?" Emma menunjuk wajahnya sambil menatap Matt sebal.
"Memang apa bedanya?" Jawab Matt santai. Ia bermaksud mengatakan Emma cantik meskipun tanpa make up. Tapi perempuan itu tidak paham maksudnya.
"Sama dari mana?! Lihat ada bekas air liur di pipiku."
Aldrich menghela nafas dan mengikuti obrolan. "Kak Emma tidak cuci muka dulu? Berarti salah kakak sendiri."
"Tuh kan." Matt merasa senang ada yang sependapat dengannya.
"Ini pasti ajaranmu. Al jadi jahat padaku hiks."
Sayang sekali suasana enak yang sedang dinikmati Aldrich terganggu dengan pertengkaran dua orang dewasa ini.
"Beli takoyaki yuk."
"Ayuk, kelihatannya enak."
Pembicaraan sepasang sejoli yang baru saja berjalan melewati Aldrich membuat anak itu tertarik. Takoyaki?
Aldrich terus menatap kepergian mereka sampai akhirnya berhenti di salah satu penjual makanan. Si pembuatnya menuangkan adonan dengan cekatan saat pasangan itu memesan.
Kelihatannya enak sekali. Aldrich menelan ludah lalu meraba saku celananya. Tapi ternyata ia tidak membawa uang. Emma sempat memberinya uang saat di bandara setelah menukarnya, tapi ia lupa membawanya.
"Huh! Pokoknya salahmu! Lihat kan? Keadaan sudah ramai. Kita tidak akan memiliki tempat untuk lihat kembang api."
"Salahkan saja dirimu yang susah dibangunkan. Lagipula bukannya mandi malah tidur."
Aldrich menghela nafas. Ia sepertinya tidak bisa meminta uang sekarang. Mereka masih sibuk bertengkar.
"Nak kemari." Penjual takoyaki yang dilihat Aldrich tadi memanggilnya sambil melambaikan tangan. Aldrich melihat kanan kiri lalu menunjuk dirinya sendiri. "Iya kamu, sini."
Apa paman itu berniat menghasutku dan menculikku? Sayangnya itu tidak akan berhasil padaku. Tapi...
Aldrich kembali menelan ludah saat si penjual itu mengangkat sebungkus takoyaki sambil memanggilnya sekali lagi.
__ADS_1
Kesana sebentar mungkin tidak masalah. Lagipula aku hafal kereta mana yang harus kunaiki untuk sampai ke hotel.
Aldrich akhirnya mendekati penjual itu dengan cepat. Dan saat sampai, si penjual tersenyum ramah kearah Aldrich. "Ada apa? Orang tuamu bertengkar?"
Aldrich melongo sebentar. Orang tua? Maksudnya kak Emma dan kak Matt?
"Itu hal biasa. Orang dewasa memiliki masalah mereka masing-masing. Ini, untukmu. Tadi paman melihatmu ingin makan takoyaki, tapi karena orang tuamu bertengkar, kamu tidak jadi minta uang jajan pada mereka." Ucap si penjual sambil menyerahkan sebungkus takoyaki pada Aldrich.
Merasa tidak enak. Aldrich sempat menolak, tapi penjual itu tetap keras kepala. "Sudah ambil saja. Berikan pada orang tuamu juga. Takoyaki yang hangat, bisa membuat suasana hati mereka hangat juga."
Aldrich mengangguk kaku sambil tersenyum. Tapi mereka bukan orang tuaku.
"Loh? Al mana?" Emma baru tersadar kalau anaknya yang sedari tadi berdiri didepannya tiba-tiba menghilang.
Matt ikut panik dan melihat sekeliling. "Aldrich!!!"
"Mereka mencarimu dengan suara keras. Apa kamu akan mendapat masalah setelah ini?" Si penjual takoyaki tadi malah prihatin.
"I-ini benar-benar tidak seperti yang paman bayangkan. Tunggu sebentar ya paman." Aldrich berlari mendekati Emma dan Matt yang masih heboh sambil berteriak memanggil namanya. Memicu orang-orang didekat mereka melihat juga.
"Kak Emma dan kak Matt bisa diam tidak?! Bertengkar disini dari tadi apa tidak malu? Sekarang diam, dan beri aku uang!"
Emma dan Matt langsung terdiam seperti anak yang sedang dimarahi. Tidak pernah terpikirkan oleh Mereka kalau Aldrich akan marah begitu. Mereka menunduk dengan nyali ciut, dan tangan Emma terulur untuk memberikan Aldrich uang.
"Berapa ini?" Tanya Aldrich sambil merebut uang yang diberikan Emma.
"Sa-satu juta." Jawab Emma dengan ekspresi sedih.
"Bagus. Sekarang kalian diam disini, jangan ada yang bicara. Atau aku akan meninggalkan kalian. Mengerti?!" Bentak Aldrich yang dijawab anggukan kepala lemah dari Emma dan Matt.
Huh! Dasar! Sampai membuatku marah-marah begini. Mereka sungguh keterlaluan! Membuat malu!
Aldrich kembali berjalan mendekati penjual takoyaki sebelumnya. Nampaknya penjual itu melihat Aldrich memarahi Emma dan Matt yang sukses membuat mereka diam sekarang. Saat Aldrich datang, wajah si penjual tampak bingung. Ia kira, anak itulah yang akan dimarahi tapi malah kebalikannya. Apakah ini yang dinamakan orang tua takut anak?
"Paman. Ini uangnya. Kembaliannya untuk paman saja."
"Ha? Eh? Uang?" Dengan mata terbelalak penjual itu lebih terkejut lagi dengan uang yang disodorkan Aldrich. "Kembaliannya terlalu banyak."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, paman. Terimakasih sudah memperhatikan, dan mengkhawatirkan aku. Paman adalah orang baik, jadi pantas menerimanya."
"Terimakasih." Penjual itu masih kebingungan. Ia menerima banyak uang dari anak hasil memarahi orang tuanya yang sebelumnya bertengkar? Seumur hidup inilah kejadian paling unik yang ia alami.
Aldrich kembali pada Emma dan Matt yang benar-benar tidak meninggalkan posisi mereka tadi. Setelah Aldrich datang, kedua orang itu masih menunjukkan ekspresi bersalah.
"Ayo kita lihat kembang apinya, sepertinya akan dimulai." Kata Aldrich sambil membuka bungkusan takoyaki di tangannya.
"Makanan itu harganya satu juta?" Matt melirik dari balik punggung Aldrich untuk melihat makanan apa itu.
"Bukan. Satu juta itu untuk biaya ganti rugi sudah mempermalukanku. Tadi hampir saja aku dikira anak brokenhome yang malang."
"Kenapa kamu bisa dikira anak brokenhome?" Tanya Emma dengan wajah polosnya.
Aldrich lagi-lagi menghela nafas. Hari ini ia lebih sering menghela nafas dari biasanya. Karena ini benar-benar hari yang sangat melelahkan baginya dan otaknya. "Karena ada Kingkong bertengkar dengan Godzilla." Jawab Aldrich ketus.
"Benarkah dimana?! Apa ada yang sedang cosplay?" Emma malah penasaran.
Aldrich melihat ada genangan air di dekat mereka, dan ia langsung menunjuknya. "Di air itu, lalu kak Emma akan melihat Godzilla nya."
"Tidak mungkin. Yang ada hanya pantulan wajahku."
MEMANG ITU MAKSUDNYA!!!
"Lihat!" Matt menunjuk langit, dan seketika itu juga kembang api raksasa meledak dengan indahnya.
"Sudah dimulai ya." Aldrich terpukau melihat kembang api pertama yang diluncurkan. Lalu beberapa detik kemudian, kembang api lain bermunculan.
Matt melihat Aldrich yang sangat tertarik dengan kembang api. Tiba-tiba ia merasa ingin memperlihatkan yang terbaik bagi Aldrich malam ini.
"Disana bisa melihat pemandangan yang lebih jelas." Matt langsung menggendong Aldrich dan membawanya pergi.
"Hei tunggu aku!" Emma mengikuti. "Jangan cepat-cepat."
Matt menoleh kearah Emma yang hampir tertinggal di belakangnya. "Kemari, dan jangan lepaskan." Sambil tersenyum, Matt menggenggam tangan Emma, sedangkan satu tangan yang lainnya menggendong Aldrich.
Aldrich membuang muka dari drama melankolis yang terjadi. Oh ya ampun, kita benar-benar terlihat seperti keluarga.
__ADS_1