
Hari sudah mulai larut. Menurut jam tangan mewah yang sudah kembali ke Aldrich, sekarang adalah waktunya tidur.
"Kenapa kak Emma masih belum keluar kamar?" Tanya Aldrich yang baru saja menghabiskan cemilan dari Ron.
"Memang kali ini lebih lama dari biasanya nona menangis. Mungkin sangat berat kehilangan keluarga." Ucap Ron sambil membereskan piring diatas meja.
Aldrich masih belum beranjak dari dapur semenjak makan malam. Ia sebenarnya menunggu Emma untuk makan bersama. Tapi ibu angkatnya itu masih mengurung diri di dalam kamar. Sebenarnya ia sangat khawatir sekaligus merasa bersalah, dan beberapa kali ingin mengetuk pintu kamar yang sunyi di samping kamarnya, tapi Ron menghentikan tindakannya.
"Tuan Ron."
Aldrich dan Ron sepontan menoleh pada seorang laki-laki yang masuk dari pintu belakang di dekat dapur. Dia adalah pak Darma.
"Ada apa?"
"Tadi ada kurir mengantarkan paket." Pak Darma menyodorkan sebuah kotak pada Ron. "Katanya nona Emma yang-"
Brak!!!
Gludug gludug~
Duak!
Drap! Drap!
Setelah bunyi keributan yang berasal dari kamar Emma, tiba-tiba penghuninya muncul.
"Akhirnya sampaiii~" Emma datang sambil melompat ke hadapan Ron. Ia dengan beringas merampas paket yang baru saja dipegang Ron. Perempuan itu cekikikan sambil memeluknya.
Eh? Kak Emma sudah kembali ceria.
"Itu apa nona?" Tanya Ron.
"Jangan kaget ya..." Emma tersenyum dengan misterius lalu membuka paketnya. "Tada!!! Ini adalah dasi untuk Aldrich. Ada gambar dinosaurusnya loh!"
Haaa?!
Semua orang terdiam. Mereka menatap dasi yang sudah direntangkan Emma dengan bangga itu.
"Bagus kan? Aku mencarinya di toko online sampai 3 jam. Meskipun murah tapi ini unyu banget. Tidak sengaja lihat iklan video, langsung kucari deh."
Jadi sedari tadi diam di kamar itu lihat-lihat online shop?!
Aldrich menggeleng pelan sambil memijat dahinya. Mungkin ia terlalu khawatir dengan Emma.
"Kenapa tidak ada yang menjawabku? Ini bagus kan?" Tanya Emma sekali lagi.
"Ya bagus." Pak Darma hanya bicara pelan kemudian keluar.
"Saya akan menyiapkan makanan anda." Ron mendekati kompor, dan sebisa mungkin tidak menanggapi Emma.
"Ya ampun, ekspresi kalian santai sekali."
"Kemari kak. Duduk disini." Aldrich menunjuk kursi di sampingnya, Emma menurut dan duduk disana.
__ADS_1
"Sudah makan Al?" Tanya Emma.
"Sudah kak. Masakan kakek enak sekali."
"Iya? Ron masak apa?"
"Namanya susah kak. Aku lupa." Aldrich tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
Setelah berkata begitu, Ron datang sambil membawa piring untuk nona mudanya makan.
"Masak apa Ron?"
"Lasagna." Ron menaruh piring dihadapan Emma. Dan masakan yang tersaji disana sesuai dengan apa yang dikatakannya.
"Ya ampun. Malam-malam kok makan lasagna. Lebih enak bakso, atau mie ayam. Lasagna tidak cocok." Emma mendorong piring dihadapannya sambil membuang muka.
"Baiklah, nona ingin saya buatkan-"
"Jangan begitu kak." Aldrich menyela Ron dan mendekatkan kembali piring berisi lasagna. "Kakek membuatnya dengan sepenuh hati loh. Rasanya juga sangat enak. Menurutku ini cocok dimakan pagi atau malam."
Emma menatap Aldrich yang sedang tersenyum sambil membawa piring lasagna. Imut sekaliii
"Oke akan kumakan." Emma akhirnya mau memakan lasagna buatan Ron.
Nak Aldrich ternyata benar-benar malaikat! Sekarang aku bisa menghemat stok bahan makanan. Tidak seperti sebelumnya, kalau ditanya mau makan apa, nona pasti jawab terserah. Tapi setelah itu kalau tidak cocok dengan menunya, dia tidak mau makan.
Ron hampir saja menangis haru, tapi Emma segera bertanya padanya.
"Mana Ruri?"
"Kenapa dia bekerja? Sudah kubilang biarkan dia istirahat dulu. Kasihan, perutnya sakit." Protes Emma.
"Begini, tadi Ruri memang ingin istirahat. Tapi Melin mengeluh kelelahan karena pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan Ruri, sepenuhnya digantikan Melin. Karena merasa bersalah, Ruri menggantikannya kerja hari ini." Jelas Ron.
Heh? Kenapa bibi Ruri seperti ditindas? Urusan pekerjaan kan terserah bossnya. Kenapa mengeluh?
Aldrich menopang dagunya sambil berpikir.
"Kau tidak melarangnya?"
"Sudah nona. Tapi Ruri bersikeras ingin menggantikan Melin hari ini. Setelah ini saya juga akan cuci piring untuk meringankan tugas Ruri."
"Bagus. Hati-hati nanti encokmu kambuh." Emma bangun dari kursinya sambil tersenyum jahil.
"Saya belum setua itu!!!"
"Hahaha, ngomong-ngomong suruh Ruri ke kamarku sekarang. Aku tidak peduli pekerjaan sudah selesai atau belum."
"Baik Nona."
Emma melihat kearah Aldrich lalu meraih tangan anak laki-laki itu. "Ayo, kamu juga ikut."
"Eh? Memangnya mau apa kak?"
__ADS_1
"Tentu saja berdiskusi untuk acara besok. Pertunangan Matt harus meriah bukan?"
◌
Tuk! Tuk!
Emma menunjuk gambar di papan tulis menggunakan tongkat kayu. Ekspresinya seperti guru yang sedang serius membimbing muridnya.
"Oke! Jadi posisiku berada disini." Emma menunjuk gambar paha ayam yang sebelumnya sudah digambarnya. "Lalu Matt akan berada disini." Emma menunjuk gambar iblis yang menandakan posisi Matt.
"Kenapa pakai digambar segala non?" Tanya Ruri yang disetujui Aldrich.
"Ish ish ish... Begini kalau detektif sedang bekerja. Makanya nonton film. Jangan nonton sinetron azab mulu."
"Memangnya denah ini berhubungan dengan rencana kakak?" Tanya Aldrich.
"Eee... Tidak sih."
Gubrakk
"Lalu, apakah nona sudah memikirkan ide untuk memberitahu tuan Matt tentang perselingkuhan itu?"
"Aku sudah memikirkan sketsa kasarnya." Emma dengan bangga mengusap dagunya sambil tersenyum.
"Sketsa?"
"Aku ingin memberi usul." Ruri mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Baiklah, katakan saudara Ruri."
"Bagaimana kalau ditengah acara, anda bilang ingin memberikan sebuah kado istimewa. Lalu anda menyuruh orang untuk menyabotase proyeksi disana, dan perlihatkan semua bukti yang sudah kita kumpulkan. Bom!!! Pasti semua orang yang hadir disana jadi tahu, dan membuat Sylvia tidak tahu diri itu menyesal."
Eh? Bibi Ruri berpikiran sangat kuno. Mungkin karena efek suka menonton sinetron tokoh utama yang ingin balas dendam. Tapi dalam kasus ini berbeda. Rencana bibi Ruri, malah akan membuat...
"Rencanamu sangat jelek, Ruri." Emma menggeleng. "Itu malah akan membuatku seperti penjahatnya."
Eh? Kak Emma juga sadar? Memang pintar.
"Kenapa begitu non?"
"Dengar, Matt sangat mencintai Sylvia dan orang tuanya yang mengijinkan acara pertunangan pastilah juga menyukai Sylvia, bukankah seperti keluarga harmonis? Lalu tiba-tiba aku sebagai saingan bisnis keluarga Hamilton, tidak ada angin tidak ada hujan menyebar foto perselingkuhan Sylvia di hari bahagianya. Siapa yang akan percaya? Malah orang-orang akan menganggapku ingin menjatuhkan keluarga Hamilton dengan cara itu."
"Eh? Meskipun kita sudah punya buktinya? Bahkan ada rekaman cctv?" Ruri kembali bertanya.
"Sylvia bisa mengarang cerita kalau dia tidak kenal si Kingkong. Sekali lagi, orang-orang akan mengira aku menjebak Sylvia dan sengaja mengambil rekaman cctv agar seolah-olah menjadi bukti."
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan? Tidak ada cara lain."
Aldrich tersenyum dan menatap Ruri. "Bukankah beda ceritanya kalau hanya kak Matt yang tahu?"
"Aldrich benar!" Emma bertepuk tangan. "Kita hanya harus memberitahu Matt. Dengan begitu, dia bisa membatalkan sendiri acara pertunangannya."
"Bagaimana cara memberitahu tuan Matt saja? Dia pasti akan menjadi sorotan orang-orang besok."
__ADS_1
Emma mengambil sebuah kain panjang berwarna hitam dari dalam lemari pakaian. "Aku ingin memanggil pesulap!"
"Maksudnya?" Aldrich dan Ruri melongo.