
"Kau... Ingin membunuh ibuku?" Charles menjatuhkan ponselnya, dan terfokus pada Ria yang berdiri ketakutan disampingnya.
"Ti-tidak, bukan aku. Aldrich yang memulainya. Dia sebenarnya adalah anak yang kejam! Dia yang menyuruhku! Semuanya bukan kemauanku!" Ria terus mengelak. Tapi semakin ia membantahnya, tatapan Charles semakin tidak yakin.
"Kau menyalahkan anak itu? Lalu apa kau bisa menjelaskan tentang bukti yang dia bawa?"
"I-itu..." Ria menunduk dengan bingung.
Bagaimana bisa anak itu mengambil stempel resmiku?! Kapan dia melakukannya? Dia juga menuduhku menjual perhiasan untuk membeli obat. Aku tidak bisa mengelak, karena nyatanya perhiasanku memang sudah tidak ada. Tuan Charles akan berpikir kalau aku benar-benar menjualnya. Bagaimana ini?!
"Kau bilang Aldrich yang menyuruhmu iya kan? Kalau begitu, bukankah tidak logis kalau seorang anak kecil yang menyuruh wanita dewasa mencelakai orang lain, dan dituruti? Tidakkah itu sangat aneh?"
"Di-dia mengancamku dengan preman! A-apa kau ingat tentang penjaga keamanan rumah sakit yang diikat itu? Nah itu ulah Aldrich!"
Charles mengerutkan keningnya. "Apa kau gila? Polisi sudah memeriksanya, itu hanya perampokan biasa. Pelaku mengikat penjaga untuk mengambil uang di pos keamanan. Bagaimana kau bisa bilang itu ulah Aldrich?"
"Tapi itu benar-benar ulahnya! Dia juga mengambil perhiasan dan stempel resmiku! Itu semua ulahnya! Percayalah padaku!"
Charles berdesis sambil melirik tas jinjing yang dibawa Ria. Ia merebut tas itu dengan paksa lalu menuangkan semua isinya diatas lantai. Dan sisa obat yang dibawa Ria ikut jatuh disana.
"Percaya padamu? Aku pasti sudah tidak waras." Charles melempar tas yang sudah kosong itu pada Ria. "Tunggu saja, aku akan melaporkanmu pada polisi. Seumur hidup, kau tidak akan pernah bisa bahagia! Apalagi mendengar apa yang sudah kau lakukan pada Jeff juga. Jika tidak melihat hukum, aku sudah mencekikmu sampai mati sekarang." Setelah berkata begitu, Charles pergi dengan langkah besar.
◌
Berita menyebar dengan cepat. Hampir seluruh stasiun televisi memberitakan kabar menggemparkan itu. Di tempat yang lain, Popol dan teman-temannya juga terkejut saat tahu kalau sebenarnya adik kecil mereka ternyata calon pewaris keluarga kaya. Mereka hanya diberi tugas membuntuti tanpa tahu itu untuk apa. Senang dan terharu bercampur aduk.
Suasana di rumah Emma hampir seperti pesta pora. Ruri dan yang lain bersuka cita karena bisa membalikkan keadaan bahkan membuat keluarga Hamilton menerima ganjarannya. Apakah ada hal yang lebih menggembirakan dari ini?
Di tempat konferensi pers, Aldrich meletakkan semua bukti yang ia bawa lalu bicara. "Dengan ini, aku ingin melaporkan nyonya Yelena Hamilton, tante Aria Lita, dan tuan Charles Finn Hamilton pada pihak berwajib. Sekian."
Sorakan keluar dari semua orang. Emma mendekati Aldrich dan memeluknya dengan haru, sementara Matt hanya mengusap kepala anak itu.
__ADS_1
"Maaf kak Matt. Keluargamu harus berantakan." Ucap Aldrich pelan sambil menatap Matt.
"Tidak apa-apa. Mereka memang bermasalah. Lagipula sejauh ingatanku, aku tidak punya kenangan indah bersama mereka."
Acara akhirnya selesai. Meskipun para wartawan itu hendak bertanya lebih banyak, tapi mereka dihalangi oleh Matt. Terpaksa mereka harus menunggu kelanjutannya setelah kasus ini ditangani pihak yang berwajib.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya Aldrich, Emma, dan Matt bisa keluar dari gedung itu dengan menaiki mobil. Sementara Korn dan Ivan akan menyusul nanti bersama Ezra dan Ryker.
"Aaa! Lega sekali!" Emma meregangkan badan sambil tersenyum.
"Benar. Akhirnya semua bisa selesai dengan lancar." Kata Matt sambil fokus mengemudi.
Emma mengangguk setelah itu melirik Aldrich yang duduk di kursi belakang bersamanya. Anak itu hanya diam sambil menatap keluar jendela. Ekspresinya datar, tidak seperti orang yang baru saja menang.
"Ada apa Al?" Pertanyaan Emma membuat Matt juga ikut melihat melalui kaca spion.
Aldrich menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja... Aku sedikit merasa bersalah. Tidak ada orang yang lebih jahat dariku, melaporkan keluarganya sendiri didepan publik."
Itu memang aku. Aldrich menunduk.
"Mungkin semua akan baik-baik saja jika aku tidak mengetahui apapun dari awal. Meski tanpa ibu, aku tetap akan melanjutkan hidupku seperti biasa. Tapi sekarang, jadi serba salah. Rasanya ingin membalas mereka dengan kejam, tapi disisi lain aku merasa sedih karena mereka adalah keluargaku juga."
Emma sepontan memeluk Aldrich. Akhirnya dia mengatakan kegelisahannya padaku.
"Kalau menurutku, lebih baik kamu mengetahui semuanya. Mungkin saja ibumu sudah memikirkan ini. Dia tidak ingin kamu hidup seperti sebelumnya. Meskipun ibumu tahu di keluarga Hamilton ada yang tidak baik, tapi dia juga tahu kalau kamu bisa merubahnya. Agar keluarga Hamilton berikutnya tidak ada yang memiliki kisah hidup yang menyakitkan seperti sebelumnya."
"Ehem! Aku sependapat." Matt ikut buka suara. "Sebenarnya aku juga ingin mengubah keluargaku tapi tidak tahu caranya, dan tidak memiliki keberanian untuk memulai. Sejak kecil, aku sudah tidak dianggap, fokus mereka hanya pada kakakku. Nenekku pernah bilang kalau aku merusak pemandangannya, jadi harus tetap di kamar kalau nenek sedang berkunjung. Setelah kakak meninggal, akhirnya dia mau bicara denganku karena hanya tinggal aku yang akan menjadi pewaris keluarga. Sejak saat itu aku merasa jijik pada mereka."
Emma mengusap kepala Aldrich pelan. "Lihat? Berkatmu semua berubah. Jangan sedih lagi."
Aldrich menghela nafas panjang. "Aku sedikit lega. Tapi tetap saja masih ada sesuatu yang mengganjal."
__ADS_1
"Aku mengerti. Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit tempat nenekku dirawat? Bukankah kata salah satu wartawan tadi, dia sedang sekarat? Mungkin kalau melihatnya baik-baik saja, kamu jadi sedikit lega." Usul Matt.
Kak Matt benar, mungkin rasa bersalahku karena itu.
"Baiklah ayo kita kesana."
Matt langsung menginjak pedal gas lebih dalam, dan mengambil rute kearah rumah sakit. Dan tak berselang lama, mereka akhirnya sampai. Tanpa basa basi mereka langsung menuju kamar rawat Yelena.
Dari jauh terlihat Charles sedang duduk di lorong dengan tatapan kosong. Tidak ada siapapun selain pria itu disana.
"Ayah." Sapa Matt yang membuat Charles terkejut setengah mati.
"Matt?" Charles berdiri perlahan dan tatapannya langsung mengarah pada Aldrich yang berdiri diantara Matt dan Emma. "Akhirnya kita bertemu lagi." Entah kenapa tatapan mata Charles terlihat sendu melihat Aldrich.
"Katanya nenek kritis. Bagaimana kondisinya sekarang?"
"Baru saja dokter selesai menangani masa kritisnya. Syukurlah dia selamat. Kata dokter, nenek tidak akan seperti sebelumnya lagi. Kemungkinan besar terkena stroke."
Rasanya sedikit lega saat tahu dia masih hidup. Mungkin jauh dilubuk hatiku, aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi. Aldrich memegang dadanya yang tadinya sempat khawatir.
"Aldrich, aku kakekmu." Charles berjongkok di depan Aldrich.
"Aku tahu."
"Benar juga. Hal sekecil ini pasti kamu akan tahu. Bahkan hal yang tidak kuketahui pun kamu tahu. Benar-benar mirip Jeff." Charles tersenyum. Ia benar-benar melihat sosok Jeff lewat Aldrich. Meskipun tidak pernah bertemu dengan anak ini, tapi entah kenapa rasanya sangat rindu. "Bolehkah kakek memelukmu?"
Aldrich menimbang-nimbang sebentar. Salahkah jika aku menjadi orang yang curigaan? Baru saja aku melaporkan dia, dan dia ingin memelukku? Apakah ada sesuatu? Tapi baju bagian tangannya terlihat tipis, tidak mungkin ada pisau tersembunyi disana.
"Boleh."
Mendengar jawaban Aldrich, Charles langsung memeluk anak itu. Ia merasa bersalah sekaligus ikut sedih untuk Aldrich. Karena kelalaiannya, Yunna harus tersiksa selama bertahun-tahun. Ia bahkan tidak tahu tentang racun itu. Semua terjadi dibelakangnya, dan orang-orang disekelilingnya berbohong tentang kejadian yang sebenarnya. Sehingga ia ikut membenci Yunna dan anaknya. Mungkin ucapan minta maaf tidak akan bisa menebus semua.
__ADS_1
"Terimakasih." Charles melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Aldrich. "Aku percayakan keluarga Hamilton padamu. Pemimpin kecil."