Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Sisi Lain Matt


__ADS_3

"Tante ternyata bekerja disini ya?" Aldrich pura-pura bertanya. Ia sudah tahu klo Ria bekerja di Hamilton Group lewat kartu nama Ria yang sebelumnya ia pungut.


"I-iya. Kamu ternyata... Kenalannya nona Emma ya." Ria menatap Emma dan sedikit menunduk. Kedudukan Emma lebih tinggi darinya, jadi sudah sewajarnya bawahan seperti dirinya memberi hormat.


"Ah iya. Aldrich sebenarnya adalah-" Belum sempat Emma menyelesaikan kata-katanya. Matt langsung menarik mereka menjauh.


"Jangan buang-buang waktu kalian disini. Ayo keluar. Disini panas, ada api neraka." Matt tanpa memandang Ria lagi terus menarik Aldrich pergi, yang otomatis Emma juga ikut tertarik. Mereka seperti kereta api yang meninggalkan stasiun.


Ria yang paham maksud Matt tidak sedih lagi. Dirinya sudah sering disindir Matt.


Ternyata... Nama anak itu Aldrich. Aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya. Kenapa bisa begitu mirip dengan DIA?



Di suatu tempat.


"Buka! Siapa saja buka pintunya! Cepat!" Sylvia masih terus berteriak dari dalam ruang yang dia sendiri tidak tahu sedang berada di mana. Yang jelas ini adalah sebuah ruangan tanpa jendela dengan lampu berwarna kuning kecil yang menerangi.


Ck sial!


Dak!


Aduh.


Sylvia yang sebal menendang sendiri pintu di hadapannya, tapi sayang malah kakinya yang sakit.


Kenapa Matt bisa tahu semuanya? Sampai masa laluku juga tahu. Kenapa? Padahal sebelumnya dia berjanji tidak akan mencari tahu tentang diriku lebih dalam karena dia percaya padaku. Tapi kenapa sekarang berbeda? Bukankah kemarin baik-baik saja?


Sylvia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir.


Tunggu dulu... Matt mulai cuek setelah acara pertunangan kemarin. Dia beralasan ingin cepat-cepat pulang karena capek. Tapi ekspresinya terlihat sedikit kesal. Padahal pagi harinya dia cukup perhatian padaku.


Apa di acara itu dia bertemu seseorang yang mengadukanku? Tapi sepertinya tidak. Hanya ada para pembisnis disana, dan tidak banyak orang yang mengetahui masa laluku. Bahkan ayahnya, tuan Charles sendiri yang tahu tentang semuanya tidak dihiraukan oleh Matt.


Siapa ya?


Sylvia terus mengingat-ingat kejadian kemarin. Dimulai saat acaranya berlangsung, hingga semuanya berakhir. Lalu ingatannya sampai pada saat Matt masuk ke dalam kotak sulapnya Emma. Dan sejak saat itulah Matt terlihat cuek padanya.


Jangan-jangan karena itu? Tapi, memangnya ada sesuatu yang terjadi selama di dalam kotak?


Anak laki-laki misterius itu... Sejak kemunculannya, Matt mulai berubah. Ya pasti karena dia! Meskipun aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi aku yakin anak itu pakai trik!

__ADS_1


Ceklek!


Pintu ruangan pengap itu terbuka. Lalu seorang laki-laki masuk.


"Panggil tuanmu cepat!" Teriak Sylvia sambil menunjuk Ryker.


"Maaf nona, saya hanya disuruh mengantarkan makan. Tapi-"


"Banyak bicara ya. Cepat panggil dia sekarang! Semuanya hanya salah paham, dan saat Matt memaafkanku, kau akan menjadi orang pertama yang kupecat! Dasar sialan!" Sylvia terus memaki Ryker.


"Begitu ya." Ryker tersenyum sinis lalu memiringkan nampan berisi makanan yang ia bawa hingga membuat semuanya tumpah.


"Apa yang kau lakukan?!" Pekik Sylvia.


"Tuan Matt juga bilang padaku, kalau anda banyak bicara, maka saya bisa memberikan semua makanan ini layaknya memberi makan hewan. Dan beginilah cara saya memberi makan hewan." Ryker mentap nasi dan lauk yang sudah berceceran diatas lantai.


"Hewan katamu?"


"Silahkan menikmati makanan anda, nona Rubah." Sambil tersenyum sarkas, Ryker pergi meninggalkan Sylvia.


"Tunggu! Buka pintunya!" Sylvia berusaha secepat mungkin menghalau Ryker menutup pintu, tapi ia kalah cepat dengan laki-laki berwajah datar itu.



Ryker memasuki ruangan Matt untuk melakukan tugas layaknya sekretaris pada umumnya. Tapi ia malah disambut wajah bingung tuannya.


"Apa ada yang salah tuan? Apakah nona Emma dan nak Aldrich sudah pulang?" Tanya Ryker sambil mengambil beberapa tumpukan berkas dari meja Matt.


"Mereka sudah pulang. Tapi aku masih penasaran dengan sesuatu." Matt mengusap dagunya sambil meneliti meja kerjanya.


"Tentang apa?"


"Aldrich kenapa bisa pingsan ya? Apa ada hal yang bisa membuatnya takut disini? Apa menurutmu dia melihat penampakan dan pingsan?" Tanya Matt dengan ekspresi serius.


"Saat itu, nak Aldrich sedang bersama anda. Apakah anda mengatai diri sendiri?" Ryker mengangkat sebelah alisnya.


"Iya juga." Matt kembali terlihat bingung.


"Baiklah saya akan mengantarkan berkas ini pada bu Ria." Ryker mengangkat berkas di tangannya, dan hendak pergi dari ruangan. Tapi Matt tiba-tiba menahannya.


"Tolong sekalian cek cctv ya. Apa yang terjadi saat Aldrich kutinggal sendirian disini. Siapa tahu benar-benar ada penampakan."

__ADS_1


Melihat wajah tuannya sangat yakin, Ryker hanya bisa mengiyakan. "Baiklah. Saya akan pergi sekarang, anda akan sendirian disini. Tidak apa-apa? Kalau ada penampakan bagaimana?"


"Kau pikir aku takut hantu? Konyol!" Matt membuang muka.



Di ruang cctv.


"....." Ryker melirik Matt yang berdiri tepat di sampingnya.


"Kenapa? Ja-jangan berpikir aku ikut denganmu karena aku takut disana sendirian. Aku penasaran jadi ingin lihat videonya langsung. Lagipula di dalam ruangan terus tidak baik untuk kesehatan." Elak Matt dengan tatapan kebohongannya.


Bukankah ini juga di dalam ruangan?


Ryker hanya membuang nafas lelahnya. Ia sudah dipusingkan dengan kerjaannya yang menambah. Dan menanggapi tuan yang tsundere bukanlah bidangnya.


Dengan cekatan Ryker mengotak atik komputer di ruang cctv. Sampai pada adegan yang dinanti Matt tiba. Entah karena tegang atau apa, Matt menutupi kedua matanya dengan telapak tangan, dan membuat sedikit celah diantara jarinya untuk melihat apa yang terjadi. Sampai rekaman cctv telah berakhir.


"Tidak ada penampakan. Tuan bisa tenang sekarang." Ucap Ryker.


"A-aku tidak takut."


"Lalu kenapa anda menutup wajah?"


"Wajahku gatal. Kau sok tahu sekali." Matt membuang muka dengan menahan malu.


"Sepertinya anda harus cuci muka. Ah iya, mungkin di kamar mandi juga ada penunggunya."


Ucapan Ryker membuat Matt merinding. Ia tidak bisa membayangkan kalau sedang cuci muka, lalu saat membuka mata disambut sesuatu yang menyeramkan.


"Ehem! Baiklah mungkin aku harus cuci muka. Tapi kau ikut denganku."


"Kenapa saya harus ke kamar mandi bersama anda?"


"Ada kran air yang rusak!"


"Apakah saya juga harus memperbaiki kran air? Anda bisa memanggil tukang."


"Cerewet sekali! Ayo!" Matt menarik paksa Ryker.


Seharusnya aku tidak menyuruh dia cuci muka. Hidupku sangat melelahkan. Semoga gajiku bertambah.

__ADS_1


__ADS_2