Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Rencana Aldrich


__ADS_3

Emma berjalan dengan hati-hati kemudian bersembunyi dari satu tembok ke tembok yang lain. Ia melakukan itu berulang kali hingga membuat orang-orang yang berjalan melewatinya melirik dengan aneh.


"Kak, jalannya biasa saja. Kenapa harus sembunyi?" Tanya Aldrich yang berjalan layaknya orang-orang, begitupun dengan Ruri.


"Katanya aku terkenal."


"Kan nona sudah dandan jadi cantik." Ruri menahan tawanya.


"Cantik apanya!"


Setelah berjalan sebentar, akhirnya mereka sampai di sebuah mall yang cukup mewah. Hal pertama yang Aldrich dan lainnya kunjungi adalah toko baju.


"Wah ini cocok sekali denganmu, Al." Ucap Emma sambil menempelkan sebuah baju dengan gambar anak ayam kuning ke badan Aldrich.


"Tapi ini mahal sekali." Aldrich menatap gantungan harga yang melekat pada baju itu.


"Murah ini. Cuma 40 dollar." Kata Emma enteng sambil membawa baju itu untuk diberikan pada pegawai.


"Eh? Apa cuma aku yang tidak tahu 40 dollar itu berapa?" Ruri menatap Emma dan Aldrich dengan bingung.


"Pokoknya murah. Sudahlah, kau juga pilih baju sana. Nanti berikan padaku ya."


"Kalau itu sih oke non." Ruri langsung melesat ke bagian baju perempuan.


Aldrich melihat-lihat lagi baju yang tergantung di depannya. Semua harganya lebih dari 30 dollar, malah ada yang sampai 50 lebih hanya untuk baju atasan. Meskipun ia sudah tidak mengikuti perkembangan kurs uang. Tapi setidaknya ia bisa menebak harga dari baju-baju itu.


"Kenapa terlihat tidak senang, Al? Jelek ya? Kita pindah toko saja?" Emma berjongkok di depan Aldrich dan mengusap kepalanya.


"Bagus kak. Tapi harganya juga bagus. Malah terlalu bagus untukku."


"Bicara apa kamu ini? Sekarang kamu adalah anak Emma Rosaline. Semua baju yang kamu pakai harus yang terbaik. Malah kurasa ini terlalu murah."


"Apa kakak ingin membuatku jantungan? Ini terlalu mahal. Malah mau diberi yang lebih mahal lagi."


"Hahaha kamu lucu sekali. Ingat, pilih satu jaket hangat dan sepatu lagi. Jangan lihat harganya, atau aku akan menyuruh pegawai disini menutupi semua harga saat kamu sedang memilih."


Aldrich tersenyum dan mengangguk. "Baik kak, aku akan memilih." Setelahnya ia berlari menuju rak sepatu.

__ADS_1


Ya ampun malaikat kecilku lucu sekali. Oh tidak! Aku akan mimisan karena tidak tahan dengan keimutan ini.



Setelah membeli baju, mereka bertiga berjalan bersama untuk mencari tempat makan.


"Kenapa total belanjaan Al lebih murah darimu?" Emma melirik Ruri tajam.


"Padahal punyaku mudah-murah loh. Kebanyakan 60 dollar. 60 dollar itu 60 ribu kan? Murah itu. Di pasar lebih mahal lagi." Ucap Ruri dengan polosnya.


Sabar Emma... Meskipun itu mahal, tapi dia tidak tahu harganya, jadi bukan salah Ruri. Sabarlah wahai hatiku.


"Tapi bibi Ruri salah. 60 dollar itu-"


Emma langsung menutup mulut Aldrich untuk membuatnya berhenti bicara.


"Sudah, kita makan disana saja ya?" Emma menunjuk sebuah restoran yang tidak terlalu ramai.


"Eh? Mereka!" Aldrich menunjuk sepasang kekasih yang sibuk makan di dekat jendela restoran.


"Sstt!!! Itu Sylvia?" Tanya Emma setengah berbisik pada Aldrich.


"Eh eh eh?!" Ruri tiba-tiba terlihat antusias. "Laki-laki yang duduk di depannya kan King Kron."


"Hah? Kingkong?" Emma memiringkan kepalanya dengan bingung.


"Bukan kak. Tadi bibi Ruri bilang singkong." Kata Aldrich.


"Ih bukan Kingkong! Apalagi singkong! Tapi King Kron. Dia model, namanya Kron dan fansnya sering memberikan julukan King padanya. Akhirnya dia memakai nama panggung King Kron."


Pantas saja aku juga tidak tahu. Majalah yang membahas dunia permodelan sangat jarang kutemui. Paling banyak juga berita artis di koran, tapi dia juga tidak pernah muncul. Aldrich hanya mengangguk.


"Aku tidak tahu siapa dia. Yang jelas, dia lebih jelek dari Matt. Apa bagusnya coba?"


"Nona bicara apa? Kalau dibandingkan tuan Matt, jelas King Kron lebih tampan."


"Matamu katarak? Matt lebih tampan!"

__ADS_1


"Tidak! Tapi King Kron!"


"Aduh jangan berdebat disini. Kakak sama bibi menarik perhatian orang-orang." Lerai Aldrich.


Setelah merasa malu karena dilerai anak kecil, mereka akhirnya memilih tempat duduk yang dekat dengan pasangan kekasih terlarang itu. Agar bisa diam-diam mengambil foto.


Ruri mengeluarkan ponselnya lebih dulu dan mulai mengambil foto diam-diam.


"Kau sudah mengambil foto mereka?" Tanya Emma setelah melihat Ruri mengambil banyak gambar.


"Tidak, aku hanya memotret King Kron."


"Omg dragon! Tidak bisakah kau bekerjasama? Katanya mau ikut jadi detektif."


"Tenang saja kak. Aku sudah memotret mereka dengan kamera pocket ini." Aldrich menunjukkan kameranya dari balik meja.


"Anakku memang terbaik. Good job!"


Setelah makan tidak sampai 10 menit. Pasangan yang sedang dibuntuti itu pergi dari restoran.


"Yahh pergi. Ikuti tidak?" Tanya Emma.


"Tidak usah kak. Kalau tidak sengaja bertemu saja baru difoto. Mereka mungkin sangat waspada, namanya juga selingkuh, pasti sering melihat sekitar. Kalau dibuntuti pasti ketahuan." Ucap Aldrich sambil menatap bingung kearah piringnya yang hanya berisi sepotong ikan kecil dengan hiasan saus.


"Lalu sekarang bagaimana? Dibiarkan saja?"


"Tidak. Saat sampai di hotel nanti, gunakan kekuasaan kak Emma untuk melihat rekaman cctv hotel. Kalau bisa saat di lobby dan lorong. Cari tahu juga berapa lama mereka akan menginap disana. Minta juga bukti pembayaran kamar hotel, akan tertera waktunya."


"Wah kamu pintar sekali Al. Memang pantas jadi anakku." Emma memeluk Aldrich dengan haru.


Kejadian lagi. Aldrich terlihat sangat pintar. Bahkan nona Emma sendiri tidak kepikiran. Bagaimana bisa seorang anak usia 10 tahun memikirkan hal itu? Ruri kembali menatap Aldrich heran.


"Apa kamu suka baca komik detektif? Karena Aldrich pintar sekali loh." Ucapan Ruri membuat Aldrich terkejut. Dia tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuk.


"I-iya bibi Ruri. Aku suka membaca komik detektif hehe."


Gawat! Aku lupa masih harus pura-pura jadi anak 10 tahun pada umumnya. Bibi Ruri mulai curiga. Tapi kenapa kak Emma biasa saja? Dia kan pintar. Seharusnya lebih peka dari bibi Ruri.

__ADS_1


Aldrich menatap Emma yang sedang makan selada seperti kambing.


__ADS_2