Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Lantai Rumah


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Aku pergi dulu ya, Al. Ingat, jangan lupa makan, dan minum vitamin. Aku sudah meminta vitamin ampuh dari dokter, karena kamu terlihat kurus." Emma menyempatkan diri mengelus kepala Aldrich sebelum masuk mobil untuk berangkat kerja.


"Seharusnya tidak perlu kak. Pasti obatnya pahit." Aldrich pura-pura berekspresi takut, agar terlihat sama seperti anak-anak lain yang takut obat.


"Ini vitamin, bukan obat. Akan kusuruh Ruri memberikannya padamu."


Tiba-tiba kaca mobil terbuka, dan laki-laki yang berada di balik kemudi bicara sambil melihat Emma dan Aldrich. "Bagaimana ini kakak Emma, aku lupa SIM-ku tertinggal di rumah ayahku. Aku tidak bisa menyetir hari ini." Ucap Ezra.


Emma menghela nafas, lalu menoleh. "Iya, aku saja yang menyetir."


"Baiklah. Oh iya satu lagi! Tolong cepat ya, aku tidak tahan lama-lama pakai jas didalam mobil yang sedang berhenti seperti ini, panas tau. Apakah kak Emma tidak tahu perjalanan kaki panjangku dari kost kesini?"


Aldrich melirik tangan Emma yang mengepal. Sepertinya perempuan itu tidak tahan dengan celotehan Ezra yang baru pagi hari sudah banyak mengeluh.


Sepertinya tidak akan sampai tengah hari kak Ezra akan dipecat. Semoga sisi kak Emma yang suka bisnis menyabarkan hatinya.


"Besok tidak usah pakai jas, pakai saja seragam office boy!" Balas Emma.


"Wah kakak Emma gitu. Ngancemnya pecat terus. Aku kan jadi takut."


Emma memutar bola matanya dengan malas. Tapi dari tingkahmu tidak kelihatan takut.


"Al, kamu yakin tidak ikut ke kantor?" Lagi-lagi Emma bertanya entah sudah keberapa kalinya.


Aldrich mengangguk dengan mantap. "Aku ingin di rumah saja."


Emma terlihat kecewa lalu memeluk Aldrich lagi. "Tunggu aku pulang ya. Nanti kubawakan cemilan enak."


"Ya ampun, apa ini acara reality show tentang mempertemukan ibu dan anak yang terpisah? Kenapa dramatis sekali? Kapan berangkatnya?" Protes Ezra.


Emma tersenyum dan mengangguk. Nanti ditengah jalan akan kutendang dia keluar dari mobil.

__ADS_1


"Berangkat dulu ya, Al. Tata." Emma melepaskan pelukannya dan melambaikan tangan kearah Aldrich.


Setelah acara yang mengharu biru tentang perpisahan Emma dan Aldrich yang ingin ditinggal bekerja, mobil mereka akhirnya pergi. Dan Aldrich mulai masuk rumah bersama Ron yang sedari tadi hanya berdiri di bibir pintu.


"Mau sarapan dulu nak?" Tanya Ron sambil mengikuti Aldrich yang berjalan kearah dapur. "Akan kakek buatkan roti dan susu."


Aldrich menggeleng. "Aku tidak ingin roti untuk sarapan."


"Lalu? Selama berpuluh-puluh tahun, dapur ini hanya menyediakan roti untuk sarapan. Memangnya kamu ingin makan apa?" Ron terlihat keheranan. Ia cukup terkejut kalau ada orang yang tidak ingin sarapan dengan makanan ringan.


"Aku ingin mie instan."


Mendengar permintaan Aldrich, Ron segera menggeleng. "Itu tidak bagus untuk kesehatanmu. Jika nona tahu, tidak hanya kamu yang dimarahi, tapi kakek juga."


"Sesekali saja, dan jangan bilang kak Emma ya kek." Aldrich menunjukkan tampang imutnya sambil kedua matanya berkedip beberapa kali hingga menciptakan keimutan level maksimal.


"Ba-baiklah. Tapi janji kali ini saja. Kakek akan mengatakan kamu sarapan roti jika nona Emma bertanya."


"Horeee!!! Terimakasih kakek."


"Memangnya kakek bisa?"


"Jangan meragukan pengalaman kakek ya. Begini-begini pernah nyoba makan mie instan di warung pinggir jalan, meskipun setelah itu perut kakek sakit."


Aldrich tertawa pelan. "Kata orang, terkadang kita harus makan makanan yang sedikit kotor. Agar perut kuat. Kakek pasti sering makan dengan prelatan higienis ya, jadi sekalinya makan dengan alat yang kurang bersih jadi sakit perut."


"Sungguh pemikiran yang tidak terpikirkan oleh kakek." Ron menggaruk kepalanya dengan bingung. Kenapa bisa makan dengan peralatan tidak higienis malah membuat perut kuat?


Pintu belakang dapur terbuka. Ruri masuk sambil membawa belanjaan di tangannya. Seperti biasa, dia baru saja pulang dari pasar untuk berbelanja. Meskipun ia sendiri tidak yakin kalau belanjaannya akan dimasak atau tidak. Karena nona-nya sangat pilih-pilih makanan.


"Eh? Aldrich. Tidak ikut nona Emma ke kantor?" Tanya Ruri sambil menaruh belanjaannya diatas meja.


"Tidak bibi."

__ADS_1


"Kenapa? Apa sangat membosankan disana?" Ruri kembali bertanya dengan tangan yang sibuk mengeluarkan belanjaannya dari dalam tas.


"Cukup menyenangkan. Tapi karena teman bermainku hari ini bekerja di hari pertamanya, aku tidak ingin mengganggu. Apalagi orang yang akan ia ikuti mudah tersinggung dan sikapnya tidak bisa ditebak."


"Wah malang sekali nasib temanmu. Untung saja dia tidak bersama nona Emma, karena nona parah anehnya."


Yang kumaksud memang kak Emma.


Ron akhirnya menoleh kearah Ruri setelah fokus menakar air rebusan mie sesuai arahan di bungkusnya. "Ruri? Kenapa kau yang berbelanja? Mana Melin?"


Aldrich diam-diam menyimak. Ia ingat pembantu lain bernama Melin itu. Dulu sebelum ia dan Emma pergi untuk liburan bersama Ruri, Melin lah yang mengajukan diri untuk ikut pergi ke luar negeri. Tapi jujur saja, Aldrich tidak pernah melihatnya lagi sejak saat itu.


"Melin tidak enak badan. Jadi aku yang gantikan." Ucapan Ruri langsung membuat dahi Ron mengernyit.


Ron adalah orang yang menyukai kedisiplinan. Ia tidak suka kalau ada orang yang selalu ijin saat bekerja, apalagi yang lebih parah yaitu tidak bekerja tanpa meminta ijin darinya. "Mana Melin sekarang?" Tanya Ron dengan ekspresi kesal.


"Dia ada di lantai 3."


Lantai 3? Aku belum pernah kesana. Jangankan lantai 3, lantai 2 saja tidak pernah. Karena semuanya berada di lantai dasar termasuk kamar kak Emma, kupikir diatas hanya berisi ruangan yang tidak penting.


"Sebenarnya di lantai atas ada apa saja?" Aldrich memberanikan diri untuk bertanya. Ia sedikit raguĀ  karena takut Ron dan Ruri akan berpikir bahwa dirinya tidak sopan sebagai anak angkat.


"Di lantai 2 berisi ruang kerja nona Emma serta kamar tuan Cassius dulu. Banyak barang-barang milik tuan Cassius yang disimpan nona Emma disana. Sementara di lantai 3, berisi buku-buku lama yang sudah tidak cukup jika ditaruh di perpustakaan. Nona Emma dan tuan Cassius itu sama-sama menyukai buku, mereka sering membeli buku tanpa memikirkan tempat. Di lantai 3 juga ada sedikit taman untuk bersantai, sekarang dipakai untuk menjemur bantal. Disana juga ada kamar si kembar." Jelas Ron.


"Si kembar?"


Ruri buru-buru menjelaskan sebelum Ron ingin berkata sesuatu. "Pembantu rumah yang kembar. Nona Emma sebenarnya penakut, apalagi soal hantu. Jadi dulu, tuan Cassius memindah kamar si kembar ke atas, agar nona Emma tidak takut kalau ke atas. Dulu tuan Wayne kamarnya di lantai 2, tapi karena ingin dekat dengan kamar nona Emma untuk masalah pekerjaan, jadi dia pindah kamar dibawah. Intinya, dulu tuan Cassius menyebar semua pengurus rumah untuk menempati setiap lantai agar nona Emma tidak takut. Rumah jadi terasa ramai di lantai manapun."


Tuan Cassius itu ternyata sangat baik dan perhatian pada kak Emma. Tapi dia juga sangat tegas, seperti cerita kak Emma saat mengatakan ia dilarang bertemu dengan saudaranya di panti dulu, karena harus lebih fokus dalam belajar.


"Kamu penasaran? Ayo jalan-jalan ke atas." Ruri melambai untuk mengajak Aldrich keatas bersama.


"Eh bolehkah? Tapi aku hanya anak luar."

__ADS_1


"Sekarang kan kamu di dapur, di dalam kan? Nah ayo!" Ruri mulai menarik paksa tangan Aldrich, dan membawanya pergi.


__ADS_2