Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Bukan Dia


__ADS_3

"Jadi kita akan pergi kemana dulu?" Tanya Wayne yang mengemudikan mobil.


"Tentu saja makan dulu!" Seru Emma. "Kamu ingin makan apa, Al? Pizza? Burger? Atau kita ke Starbook saja?"


Aldrich menggaruk pelipisnya dengan bingung. "Aku belum pernah memakan semua itu. Jadi terserah kak Emma saja. Aku bisa makan apapun."


"Oke. Kalau begitu kita pergi ke toko ayam goreng saja. Aku ingin memesan ayam goreng seember."


"Kenapa banyak sekali nona? Kalau tidak habis bagaimana?" Tanya Wayne sambil fokus mengemudi.


"Kita bisa membungkusnya untuk Ron dan yang lain di rumah."


"Lalu kenapa tidak pesan yang biasa saja?"


"Aku penasaran. Kalau pesan yang seember, embernya besar atau tidak? Apakah sebesar ember yang dijual di pinggir jalan?"


Tentu saja tidak mungkin kan? Wayne hanya bisa menggeleng.


Akhirnya Emma dan yang lain sampai di tempat tujuan. Tempat makan yang menjual ayam goreng seember itu terlihat penuh. Tempat parkirnya dipadati oleh mobil.


"Ini jam makan siang. Tempat parkir saja sepenuh ini. Lihat tidak ada tempat untuk mobil kita parkir." Keluh Wayne sambil celingukan mencari ruang untuk memarkirkan mobil.


"Paman Wayne, disana ada satu." Aldrich menunjuk satu tempat kosong.


Ck! Aku tahu, tidak perlu diperintah oleh gelandangan sepertimu. Wayne menatap Aldrich dari spion dengan sinis.


Ckiiittt!!!


Mobil tiba-tiba mengerem mendadak.


"Ada apa Wayne?"


"Nona, ada mobil lain yang ingin menyerobot tempat parkir kita. Tapi dia tertahan disana." Wayne menunjuk mobil lain yang sekarang berhadapan dengan mobil Emma.


Wah mobil itu mewah sekali. Aldrich ikut melihat.


"Heh.. Dia toh. Tunggu sebentar." Emma keluar dari mobil.

__ADS_1


Teman kak Emma?


"Halo CEO keluarga kaya. Jangan menyerobot tempat parkir CEO perusahaan kecil sepertiku ini." Emma bicara dengan keras di depan mobil itu.


Tiba-tiba seseorang keluar dari mobil dihadapan Emma. Laki-laki dengan wajah tegas, dan jas rapinya tersenyum dengan arogan.


"Kupikir siapa. Ternyata perempuan tidak sopan ini." Matt menatap remeh pada Emma.


"Oh iya, mumpung kau disini. Aku ingin pamer sesuatu." Emma tiba-tiba sangat antusias.


"Hah?"


Memangnya kita sedekat itu sampai dia ingin pamer padaku? Matt terlihat bingung.


Emma berlari kembali ke mobil. Lalu menggendong Aldrich yang kebingungan. Setelah itu kembali pada Matt.


"Tada!!! Lihatlah anak baruku." Emma dengan percaya diri memamerkan Aldrich.


Bukan seperti itu caranya memperkenalkanku pada temanmu! Aldrich hanya bisa tersenyum dengan kaku.


"Anak? Hahaha apa kau baru saja menemukan anak harammu?"


"Aku akan dikira gila kalau menanggapimu."


"Iri bilang boss." Emma menurunkan Aldrich dari gendongannya.


Aldrich yang merasa tidak enak berjalan mendekati Matt. "Halo salam kenal. Namaku Aldrich."


Matt menatap Aldrich yang memperkenalkan diri sambil sedikit membungkuk di depannya. Setidaknya anak ini sifatnya tidak seperti Emma si gila.


"Aku, Matt Hamilton."


Aldrich langsung terbelalak kaget, dan tubuhnya tiba-tiba terasa kaku setelah mendengar nama itu.


Dia dari keluarga Hamilton?!


"Ap-"

__ADS_1


"Kau bilang apa bocah?"


"Apa kamu ayahku?"


"HAH?!"


"Ah begini..." Emma langsung menarik Aldrich ke sisinya. "Dia hanya asal bicara hahaha. Iya kan, Al?"


Aldrich tidak menjawab. Dia masih menatap Matt tanpa berkedip.


Ternyata anak itu sama gilanya seperti Emma.


"Hei bocah. Kau pikir aku tidur dengan perempuan ini dan menjadi ayahmu? Aku Matt Hamilton tidak pernah tidur dengan perempuan manapun. Bahkan kekasihku sendiri."


"Aldrich bukan anak kandungku." Sanggah Emma. "Kalau dia anak kandungku, berarti aku melahirkan saat usia 17 tahun? Mustahil."


"Siapa yang tahu? Kudengar dari adik kelas dulu, kau menjadi perusuh saat SMA kan?"


"Tapi aku bukan perempuan seperti itu!!!"


"Baiklah. Santai saja. Aku hanya bercanda." Matt hendak masuk ke dalam mobilnya lagi. "Tempat parkir ini milikmu. Aku akan mencari restoran lain." Ucap Matt yang langsung pergi dengan mobilnya.


"Dasar orang aneh. Dia bahkan lebih aneh dariku."


Emma menoleh kearah Aldrich yang masih terdiam. "Al? Kamu kenapa?"


"Ah ti-tidak apa-apa kak."


"Kenapa kamu bisa berpikir dia ayahmu? Sifatnya jelek sekali, tidak sepertimu yang bak malaikat."


"Iya juga. Kenapa ya hehe." Aldrich pura-pura bingung dan menggaruk tengkuknya.


Sepertinya orang bernama Matt Hamilton tadi memang bukan ayahku. Ekspresinya saat bilang tidak pernah tidur dengan perempuan terlihat sangat jujur. Lalu siapa ayahku? Aku yakin itu berasal dari keluarga Hamilton.


"Al ayo masuk. Aku ingin segera mencoba ayam seember itu." Emma dengan antusias menggandeng tangan Aldrich.


"Baik kak."

__ADS_1


Sepertinya aku tidak boleh gegabah. Harus mencari ayah dengan pelan-pelan, dan jangan sampai keceplosan hingga terlihat aneh seperti tadi. Kedepannya aku pasti akan bertemu dengan kak Matt Hamilton itu lagi. Aku bisa mencari informasi secara perlahan.


__ADS_2