Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Malam harinya.


Sebuah gedung hotel yang mewah nampak dipadati oleh wartawan dari berbagai berita dan surat kabar. Karpet merah membentang  dari pinggir jalan menuju ke dalam gedung, bersiap menerima tamu penting. Menyewa sebuah gedung hotel mewah dengan penjagaan ketat dan fasilitas kelas atas, menandakan acara kali ini sangatlah penting bagi keluarga Hamilton. Siapapun yang mereka undang kali ini adalah orang-orang penting dan ternama dalam dunia bisnis.


Satu persatu mobil mewah bergantian datang, dan setiap orang yang turun dari mobil langsung disambut jepretan kamera dari banyaknya wartawan. Tidak ada seorang pun yang bisa luput dari momen itu.


Sampai akhirnya sebuah mobil datang dan menarik perhatian semua orang. Limousin berwarna hitam mengkilap dengan ornamen bintang-bintang berwarna emas adalah ciri khas dari orang nyentrik si pemilik mobil.


"Lihat! Itu mobil Emma Rosaline!"


"Cepat tangkap gambarnya!"


"Ada Emma Rosaline!"


Wartawan yang mulai heboh memaksa penjaga membuat barikade untuk menghalangi para wartawan yang gila.


Astaga banyak sekali orangnya. Inikah pengaruh kak Emma?


Aldrich mengintip dari kaca mobil.


"Jangan gugup Al." Emma dengan santai memakai kacamata hitam besar bak sosialita pada umumnya. "Loh Al? Kamu dimana?"


"Kalau tidak kelihatan, jangan dipakai kacamatanya." Aldrich menghela nafas dengan lelah. Susah sekali bicara dengan Emma.


"Kan biar kelihatan glamor gitu." Emma cengegesan sambil mengganti sandal jepit yang dipakainya sekarang dengan sepatu hak tinggi yang sudah ia persiapkan.


Aldrich kembali menatap pada para wartawan yang menunggu dengan tidak sabar. Ia sebenarnya sangat gerogi sekarang. Bagaimana pendapat orang-orang kalau seorang perempuan yang menjadi pusat perhatian mereka tiba-tiba muncul sambil membawa anak? Apakah kemunculannya akan memperngaruhi pandangan orang-orang terhadap Emma?


"Kak, aku tidak usah ikut saja ya." Ucap Aldrich pelan.


Emma langsung menekuk bibirnya dan memicingkan mata bulatnya. "Tidak masalah kalau kamu tidak ingin ikut, tapi aku tetap akan menyeretmu masuk ke dalam. Jadi, mau berjalan sendiri dengan patuh, atau dengan paksaan?"


"Baiklah aku ikut." Aldrich mengalah.


Akan lebih aneh lagi kalau kak Emma muncul sambil menyeret paksa seorang anak.


"Ayo Al. Kalau gugup jangan lihat siapapun. Lihat saja genggaman tanganku." Kata Emma sambil meraih tangan Aldrich dan menggandengnya keluar mobil.


Baru saja pintu mobil Emma terbuka, para wartawan langsung mengambil gambarnya dengan gila. Aldrich hampir saja dibuat buta dengan banyaknya lampu dari jepretan kamera para wartawan. Untung saja ia buru-buru melihat tangan Emma, dan saat pandangannya sudah terfokus, penglihatannya mulai membaik.


Banyaknya orang yang ingin memberitakan Emma tidak lain tidak bukan karena, baru kali ini, ada seorang pembisnis yang kekayaannya hampir menyamai keluarga Hamilton. Dan yang lebih menggemparkan lagi, Emma melakukan itu seorang diri tanpa seorang keluarga. Dia juga dianggap sangat hebat karena berhasil membawa Rose Group yang hampir gulung tikar, menjadi jaya seperti sekarang. Dia menjadi sosok inspiratif diusianya yang masih terbilang muda.

__ADS_1


"Emma Rosaline, bagaimana anda menyikapi pertunangan keluarga Hamilton kali ini?"


"Nona Emma, apakah tuan Matt sendiri yang mengundang anda?"


"Hadiah apa yang anda persiapkan untuk Matt Hamilton?"


Emma yang acuh dengan pertanyaan sebelumnya, tiba-tiba tertarik dengan pertanyaan terakhir. Dia menurunkan kacamata besarnya dan tersenyum, "Tentu saja kado yang sangat indah."


"Eh? Kadonya apa?"


"Nona bagaimana anda menyiapkan kado ini?"


"Apakah itu suatu yang spesial?"


"Tapi kenapa anda tidak membawa apapun?"


"BERI JALAN!" Bodyguard keamanan langsung menyingkirkan para wartawan yang bandel, dan berhasil membuat Emma bisa berjalan memasuki gedung bersama Aldrich.


Ternyata setelah berada di dalam gedung, suasananya sepi tidak ada wartawan. Pintu depan gedung menjadi pembatas para wartawan untuk meliput. Ditambah Matt menyewa satu gedung. Jadi, tidak banyak orang bersliweran, hanya ada staff hotel yang terkadang lewat. Mereka yang menjadi tamu, semua sudah berkumpul di ruang acara.


"Bagaimana Al? Kamu baik-baik saja kan?" Emma berjongkok di depan Aldrich dan menatap wajah kecil itu.


Tapi untung saja, aku tidak begitu menarik perhatian orang-orang. Aldrich tersenyum.


"Hahaha seharusnya kamu bilang dari tadi. Nanti saat kita keluar, akan kupinjamkan kacamataku ini."


"Tidak mau. Nanti nabrak." Ucapan Aldrich membuat Emma kembali tertawa.


"Baiklah. Percaya saja dengan genggaman tanganku ya." Emma mengusap kepala Aldrich dengan punuh kasih sayang.


Kriet...


Pintu kembali terbuka, dan memasukkan orang penting lainnya ke dalam lobby gedung hotel.


"Silahkan tuan."


"Terimakasih." Ucap laki-laki yang murah senyum itu pada pengawal hotel.


Emma dan Aldrich yang masih berada di dekat pintu terkejut melihat kedatangan laki-laki itu. Tapi yang paling terkejut adalah Emma.


Kedua mata Emma membulat menatap laki-laki itu, dan tidak disangka laki-laki misterius itu juga menatap Emma dengan ekspresi yang sama. Pandangan mata mereka saling terkunci untuk beberapa saat.

__ADS_1


Ada apa dengan kak Emma?


"Halo. Sudah lama sekali ya, Emma." Laki-laki itu tersenyum setelah berhasil mengendalikan dirinya.


"I-iya. Lama tidak bertemu, Brandon." Emma tersenyum kaku lalu berdiri dan kembali menggandeng tangan Aldrich.


Siapa Brandon? Teman kak Emma?


"Ayo Al. Kita pergi."


Aldrich bingung dengan sikap Emma yang tiba-tiba saja ingin buru-buru meninggalkan laki-laki bernama Brandon itu.


"Tunggu Emma." Brandon berjalan mendekati Emma lalu melihat kearah Aldrich. "Dia siapa? Seingatku, kau tidak memiliki keponakan."


Emma tersenyum dengan lebar, lalu menjawab "Dia anakku."


"A-anak? Tidak mungkin. Kau sudah menikah? Kapan? Aku tidak percaya!" Tiba-tiba Brandon terdengar seperti orang yang marah.


"Aku belum menikah."


"Eh? Kau... Hamil diluar nikah?! Dengan siapa?" Sekarang Brandon berteriak karena terkejut. Sosok Emma yang ia kenal seharusnya tidak seperti itu.


"Diamlah, kau ingin aku diamuk orang? Yang jelas, aku punya anak dengan siapa itu bukan urusanmu kan?" Emma ikut terlihat kesal.


Kenapa kak Emma tidak menjelaskan kalau aku anak angkat? Seolah-olah ingin kak Brandon ini berpikiran jauh.


"Bukankah kau bilang ingin menjalani karir dulu? Makanya kau menolakku. Tapi kenapa sekarang... Malah memiliki anak dari orang lain?"


Apa?! Jadi kak Emma pernah menolak kak Brandon?! Apa yang kak Brandon sukai dari kak Emma coba?


Aldrich masih diam untuk menyimak.


"Sekali lagi, itu bukan urusanmu kan?" Emma beralih melihat Aldrich lalu tersenyum. "Kita masuk yuk, Al. Siapa tahu ada makanan enak di dalam."


"Iya ka-"


"Ayo ayo." Emma segera menyela Aldrich agar Brandon tidak mendengar kata 'kak' disana.


Sementara itu, Brandon hanya bisa menatap kepergian Emma dengan sedih.


Emma tega sekali padaku. Padahal aku sudah susah-susah menjauhkan Matt darinya, tapi dia tetap tidak mau bersamaku. Sekarang, malah memiliki seorang anak. Sepertinya aku terlalu lama berada di luar negeri, jadi tidak tahu kabar terbaru Emma. Aku benar-benar bodoh.

__ADS_1


__ADS_2