
Duk!
Emma membenturkan kepalanya pada meja kerja kayu didepannya. Ia sangat frustasi sekarang.
"Kenapa Aldrich pulang tanpa berpamitan padaku? Kupikir hubungan kita istimewa!!!" Emma meraung dan kembali membenamkan kepalanya diatas meja.
"Sudahlah nona. Mungkin dia memang tidak suka berada disini." Ucap Wayne sambil membawa tumpukan berkas lainnya pada Emma.
"Jadi malas kerja." Emma mendorong tumpukan berkas yang baru saja ditaruh oleh Wayne.
"Kalau begini sia-sia saya mengambilnya di kantor tadi."
"Aku mau Aldrich! Tidak mau tahu pokoknya Aldrich harus kesini! Aldrich! Aldrich!" Emma jatuh keatas lantai dan berguling-guling dengan heboh disana.
"Mau bagaimana lagi. Anaknya tidak mau."
"Pasti mau!" Emma duduk dengan tiba-tiba lalu tersenyum. "Besok aku akan kerumahnya sambil membawa marching band. Supaya saat aku memintanya jadi anak, suasananya meriah."
Wayne menepuk dahinya. Astaga, dia ingin meminta orang menjadi anaknya, atau sedang melamar seseorang? Lagipula kenapa semeriah itu hanya untuk bocah gelandangan?
"Jangan mengada-ada. Besok anda ada rapat. Jadi-"
"Batalkan saja."
"Hah?! Ba-batalkan? Ini rapat bersama dewan direksi."
"Lalu?" Emma mengucek matanya dengan santai. "Tidur ah. Besok aku akan ke rumah Aldrich pagi-pagi sekali." Setelah mengatakan itu, Emma melesat keluar dari ruang kerjanya.
Wayne memukul meja didekatnya. "Perusahaan tidak akan maju kalau CEO nya begini. Meskipun nona Emma pintar dan mudah mencari jalan keluar dari masalah yang ada, tapi dia orang yang aneh. Lebih baik aku yang mengambil alih Rose Group saja."
◌
Keesokan harinya.
Aldrich baru saja selesai mencuci pakaian. Ia membawa cuciannya ke depan rumah untuk dijemur.
Aku lupa baju orang kaya pasti harus dicuci dengan mesin khusus. Baju yang diberi kak Emma kemarin jadi lecek karena kucuci. Tapi kalau tidak dicuci bau. Kan serba salah jadinya.
Aldrich memulai kegiatannya menjemur pakaian. Di sela kegiatannya itu, ia kembali memikirkan soal keluarga Hamilton.
Kartu nama yang kudapat, jelas milik petinggi di Hamilton Group. Meskipun aku tidak tahu apa itu Direktur Operasional, tapi pasti jabatannya tinggi. Kalau aku kesana dengan alasan mengembalikan kartu nama, apa bisa bertemu ayah?
Tapi aneh juga. Orang kaya biasanya punya banyak kartu nama untuk dibagikan. Jadi kalau ada satu yang jatuh, tidak berpengaruh pada apapun. Pasti satpamnya melarangku masuk. Apa tidak ada cara lain?
Dung! Dung!
Teroret... Teroret...
(Angap saja suara terompet hehe)
Aldrich menoleh dan melihat kanan kiri mencari sumber suara. Itu terdengar seperti pawai tapi sangat dekat dengannya. Jelas sangat aneh, karena rombongan pawai tidak mungkin masuk ke perkampungan padat tempatnya tinggal. Apalagi suara itu semakin lama semakin dekat.
Ngoookkk
Aldrich melotot saat melihat gajah muncul dari tikungan dekat rumahnya. Besarnya gajah itu sama dengan jalan yang dilaluinya, jadi tubuhnya semakin terlihat besar. Diatas gajah itu terdapat seorang perempuan tengah tersenyum sambil melambaikan tangan kearah Aldrich. Itu Emma.
Dibelakang gajah yang sekarang sedang berjalan kearahnya, terdapat rombongan marching band sedang menabuh alat yang dibawa mereka masing-masing dengan semangat. Jadi itulah dalang dari suara yang didengar oleh Aldrich tadi.
Ya ampun, apa-apaan ini?
Emma tiba-tiba mengangkat tangannya, lalu dengan kompak rombongan marching band berhenti berbunyi. Sang pawang gajah muncul, dan menyuruh gajah itu untuk menunduk. Menurunkan sosok Emma yang mengenakan pakaian savari coklat.
Aldrich bersusah payah menahan tawa. Ia berjalan mendekati Emma sambil tersenyum.
__ADS_1
"Eit! Tunggu dulu!" Emma menghentikan langkah Aldrich. "Mundur sedikit Al."
"Eh? Begini?" Meskipun bingung, Aldrich tetap menurut dan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri tadi.
Emma melirik si pawang gajah dan mengangguk. "Lakukan."
Dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti Aldrich, pawang gajah itu memberi arahan. Lalu gajah mengangkat salah satu kaki belakang dan belalainya seolah membuat sebuah pose.
Emma tersenyum dan berteriak. "Tada! Ikan paus!!!"
Maksudnya apa sih?! Teriak Aldrich dalam hati.
"Horeee..." Aldrich bertepuk tangan seolah senang. Padahal ia tidak mengerti jalan pikiran Emma.
"Apa kamu suka Al?" Tanya Emma dengan antusias.
"Eh? Su-suka kok. Hebat sekali ya gajahnya."
Meskipun aku tidak paham ada apa? Dan kenapa gajah itu membentuk pose paus. Padahal tidak mirip paus. Lalu kenapa ada gajah bersama marching band? Maksud kak Emma apa?
"Ron bilang kamu suka paus." Emma berjalan mendekati Aldrich.
Kakek membahas masalah aku mencari buku paus? Bukan berarti aku suka. Lagipula kalau aku suka paus, kenapa kemari bersama gajah? Apa hubungannya paus dengan gajah?
"Haha iya aku suka paus. Kenapa kakak tidak membawa paus saja kemari?"
Bercanda deh. Pura-pura bodoh begini keterlaluan tidak? Lagipula kalau membawa paus kemari bisa-bisa seluruh area ini porak-poranda.
"Tadinya aku ingin membawa paus. Tapi Wayne melarangku."
"Hah?!" Mulut Aldrich menganga dan ekspresinya terlihat syok.
"Hehe bukan paus asli. Hanya robot paus raksasa yang pernah kulihat di Prancis."
Tetap saja itu akan membuat orang gempar!!!
Dum durum dum dum
"Al, apa kamu mau jadi anakku?"
"Hah? Aku tidak dengar."
Dum durum dum
"Mau tidak, jadi anakku?"
"Kakak bilang apa?"
Teroret... Dum dum
"Anaaak!"
"Hah? Ternak?"
"Jadi anak!"
"Jus enak? Ya, boleh."
Dum durum dum
"Hei! Berhenti!" Emma berteriak tapi tim marching band itu tidak mendengarnya. "Wayne! Suruh mereka berhenti!"
Wayne yang sebenarnya dengar, pura-pura tidak dengar dan terus menyuruh marching band memainkan alat musik mereka.
__ADS_1
"Ck! Al kemari." Emma berjongkok di depan Aldrich dan memperlihatkan punggungnya.
"Eh? Naik?" Aldrich bingung.
Kenapa seorang CEO seperti dia mau menggendongku?
"Iya ayo cepat."
Masih kebingungan, Aldrich tetap mematuhi Emma. Dan setelah berada dipunggung itu, Emma dengan cepat membawa Aldrich pergi.
"Eh? Eh? Nona!!!" Teriak Wayne yang sekarang tidak didengar Emma, karena dia sudah jauh.
◌
Emma menggendong Aldrich sambil berjalan menyusuri bantaran sungai. Disana sangat sepi, karena banyak anak-anak yang pergi melihat gajah yang dibawa Emma.
"Sudah bisa mendengarku?" Emma menoleh kearah Aldrich sambil tersenyum.
"Iya sudah kak."
"Kemarin, kenapa kamu pulang tanpa berpamitan? Aku sedih sekali loh."
"Ah itu..."
Apakah aku harus bilang kalau diusir? Sepertinya jangan. Kasihan paman Wayne nanti dimarahi kak Emma. Aku bukan siapa-siapa mereka, jadi seharusnya aku tidak boleh menimbulkan perpecahan.
"Aku teringat rumah. Jadi ingin pulang." Elak Aldrich.
"Begitu ya." Emma mengangguk dan kembali menonel kearah Aldrich. "Jadi anakku ya."
"Eh? Kakak serius atau bercanda?"
Emma berjongkok dan menurunkan Aldrich. Setelah itu ia berbalik untuk menatap wajah anak laki-laki itu.
"Aku serius. Jadilah anakku. Kumohon."
"Eh? Jangan-jangan... Pawai tadi..."
"Itu sebenarnya untuk mengiringi kata-kataku ini, tapi kamu malah tidak bisa mendengarku. Apa kamu suka dengan pawainya?"
Eh? Kakak ini melakukannya untukku? Benar-benar hanya untukku?
Kenapa sampai seperti itu? Aku hanya... Gelandangan seperti yang dikatakan paman Wayne.
"Al?"
"Kenapa kak Emma ingin menjadikan aku anak angkat? Jika memang ingin seorang anak, kakak bisa mengadopsinya dari panti asuhan, dan bisa memilih anak yang berpendidikan."
"Tapi aku maunya kamu, Al."
Sebenarnya ini kesempatan yang bagus. Kalau aku pergi ke Hamilton Group dengan status gelandangan, pasti diusir. Tapi kalau statusku anak CEO pasti diijinkan masuk bahkan lihat-lihat.
Tapi... Aku tidak ingin memanfaatkan kak Emma.
"Aku selalu kesepian." Emma tiba-tiba bersuara setelah terdiam untuk menunggu jawaban Aldrich.
"Kesepian?"
"Saat aku diadopsi oleh tuan Cassius Rose, aku sudah diperkenalkan dengan dunia bisnis dari kecil. Beliau memang mengadopsiku untuk dijadikan penerus. Padahal aku bukan anak paling pintar di panti asuhan. Tapi katanya sifatku baik jadi dia memilihku. Saat proses persiapan menjadi pewaris, aku tidak diijinkan bermain dengan teman sebaya, dan bertemu dengan orang-orang di panti asuhan. Untungnya dunia bisnis itu mudah, aku berhasil membantunya keluar dari permasalahan bisnis sejak kecil. Dan Rose Group yang tadinya hampir bangkrut, bisa kembali ke masa jayanya. Tidak berselang lama, tuan Cassius meninggal dunia, dan semua hartanya jatuh padaku, karena dia tidak memiliki anak. Sampai sekarang, aku masih merasa kesepian karena tidak memiliki teman dirumah."
Pantas saja saat aku menginap di rumahnya, kak Emma hanya berpikir soal bermain.
"Jadi Al, apa kamu mau menjadi anakku? Menjadi temanku saat di rumah? Dan menjadi penyemangatku saat pulang bekerja?"
__ADS_1
Ka-kalau itu sih, seharusnya tidak masalah kan? Kita akan sama-sama diuntungkan.
Aldrich tersenyum kemudian mengangguk. "Ya, aku mau."