
"Kenapa Al? Kok kayak kaget gitu?" Tanya Emma sambil menaruh beberapa dokumen pentingnya.
"Ah tidak. Brosnya bagus."
Aku tidak boleh terlalu memikirkannya. Nanti pingsan lagi.
Yang jelas, ibu punya bros yang sama persis seperti itu dulu. Tapi sudah hilang karena aku tidak teliti saat menyapu rumah. Dan ibu memukuliku dengan sapu, sampai aku tidak bisa tidur telentang 3 hari. Sekarang aku mengerti, bros itu teramat penting bagi ibu.
Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan di kepalaku. Tentang kenapa ibuku bisa berada di tempat kumuh itu sendirian? Dan kenapa ayahku yang bernama Jeff itu tidak mencariku dan ibu?
Emma berjalan mendekati Aldrich dengan ekspresi bersalah. "Oh iya Al. Setelah ini aku ada rapat lagi. Kamu jangan kemana-mana ya. Atau mau kupesankan cemilan?"
Aldrich menatap Emma sambil menggeleng pelan. "Kenapa kak Emma sibuk sekali? Kak Matt saja tidak sibuk."
Emma tersenyum lalu mengusap kepala Aldrich. "Maaf ya. Aku dan Matt berbeda. Matt itu pekerjaannya dibagi oleh keluarganya, sementara aku sendirian. Dia juga belum menjadi CEO seutuhnya. Sekarang statusnya hanya CEO sementara, sampai keluarga Hamilton menetapkan penerus. Otomatis tugasnya sebagian dibantu oleh ayahnya. Tidak sepertiku yang lagi-lagi sendiri. Ditambah sekarang aku tidak punya sekretaris. Mengurus jadwal sendiri sangat merepotkan."
Aldrich mengangguk.
Begitu ya. Jujur saja kalau soal dunia bisnis, aku kurang begitu paham.
"Maaf kak, aku tidak tahu."
"Aduh tidak apa-apa. Maaf juga suka ninggalin kamu Al. Nanti kamu minta ditemenin siapa? Nina lagi? Tapi jangan pulang ya, please."
Aldrich berpikir sebentar. "Aku mau ditemani kak Ezra."
"Pilih yang waras saja tidak bisa?"
"Aku sudah terbiasa dengan orang tidak waras, dan cukup nyaman."
"Tidak waras? Siapa?" Emma menoleh ke kanan dan kiri.
Aldrich menahan tawanya dengan jari yang menunjuk kearah Emma.
"Hahaha pasti ini ajarannya Matt, iya kan? Awas kalian!" Emma mencubit pipi Aldrich sambil menariknya gemas.
◌
Beberapa menit kemudian. Di cafetaria.
"Aku menang!!!" Ezra mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
__ADS_1
"Kak Ezra curang!" Aldrich yang baru saja sampai melipat tangannya dengan kesal.
"Siapa suruh tubuhmu kecil." Ledek Ezra.
Nina yang hendak mengambil air minum, melihat Aldrich dan Ezra. "Apa yang sedang dilakukan pegawai baru dan anak baru?"
"Bermain kak." Jawab Aldrich sambil tersenyum seperti biasa.
"Ya ampun. Bermainlah dengan anak seusiamu. Orang ini hanya bisa mencontohkan hal buruk." Nina menunjuk Ezra yang kebingungan.
"Asal kau tahu saja ya. Aku dan Aldrich itu seumuran tahu!"
Nina melotot tidak percaya. "Seumuran? Jangan-jangan kau juga merubah tanggal lahirmu ya. Mana ada anak imut begini disamakan dengan muka borosmu."
"Eit! Faktanya begitu. Aku dan Aldrich cuma selisih 10 tahun."
"10 tahun? Cuma?" Nina menggeleng, ia tidak tahu lagi harus bicara dengan bahasa planet mana agar Ezra paham. "Ngomong-ngomong kalian lagi ngapain?"
"Lomba menghitung beras sambil lompat kodok. Seru banget loh. Ya kan?" Ezra menyenggol bahu Aldrich untuk mendengar pendapatnya.
"Tidak seru! Kak Ezra curang. Dia memasukkan berasnya ke dalam wadah berasku."
"Itu karena kau menghitungnya cepat sekali. Aku ketinggalan."
"Terserah kalian. Bermain sendiri, bertengkar sendiri." Nina akhirnya pergi meninggalkan dua anak yang katanya seumuran itu.
"Istirahat yuk. Sini." Ezra mengajak Aldrich duduk di salah satu kursi kosong. "Duh aku lapar lagi."
"Tadi siang kan kak Ezra sudah makan." Aldrich membahas masalah dua paha ayam yang sebelumnya dirampas Ezra.
"Itu cuma cemilan. Makan yang sebenarnya itu harus pakai nasi."
Ezra memilih telungkup diatas meja dengan lesu. Ia hanya makan paha ayam setelah itu energinya langsung habis karena melompat-lompat bersama Aldrich. Rasanya ia mulai berubah bentuk menjadi jelly karena terlalu lelah.
Ini kah pekerjaan penting yang kakak Emma katakan? Melelahkan sekali.
"Kak Ezra kuliah jurusan apa?"
Ezra mengangkat kepalanya dan menatap Aldrich. "Kuberitahu pun, kau tidak paham."
"Sudahlah, jawab saja."
__ADS_1
Anak kecil memang selalu ingin tahu ya.
"Jurusan Manajemen." Kata Ezra sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan.
Aldrich mengangguk.
Dari cerita kak Emma, kak Ezra ini terkesan sebagai anak berandalan. Tapi... Menurutku dia juga pintar. Ada sedikit kapal diantara jari telunjuk dan jari tengahnya, itu berarti dia suka menulis. Dan cara menghitung berasnya tadi cukup unik. Dia mengambil lima biji sekaligus, jadi totalnya tinggal dikali lima. Sayang sekali, dia kesusahan mengambil biji beras jadi aku lebih cepat.
Seberapa pintar dia? Kupancing saja.
"Nama jurusannya terdengar susah. Kak Ezra pasti nilainya jelek ya."
Ezra tidak terima. "Enak saja. Aku belajar mati-matian demi bisa masuk kampus itu tahu, dan terbayar dengan nilaiku yang paling tinggi di ujian masuk. Tes harian pun selalu dapat nilai sempurna. Sampai..."
Ekspresi Ezra tiba-tiba berubah sedih. "Sampai ada orang yang ingin aku pergi. Membuatku terkena masalah lalu dikeluarkan, dan menguras uang ayahku. Itulah kenapa aku bisa berada disini dengan kelaparan."
Aldrich tersenyum. Ternyata dugaannya benar.
Kak Ezra adalah orang yang seperti kak Emma. Sifat mereka tidak menggambarkan kepintaran otak.
Aku akan membantu kak Ezra agar bisa menjadi sekretaris kak Emma. Dia pintar meskipun gila. Kak Emma juga tidak perlu terlalu lelah bekerja.
"Al!!! Aku sudah selesai!" Teriak Emma sambil berlari memasuki cafetaria, lalu memeluk Aldrich dengan heboh. "Tidak lama kan? Ayo kita pulang."
"Tidak terasa lama. Karena kak Ezra mengajakku bermain. Seru sekali." Ucap Aldrich dengan gembira.
Ezra hanya bingung. Tadi katanya tidak seru.
"Makasih ya. Untung kau memperlakukannya dengan baik."
"Oh iya kak. Tadi aku tidak sengaja menumpahkan mie instan yang dimakan kak Ezra. Dia tidak makan apapun setelah itu. Bisakah kak Emma menggantinya dengan makanan yang lebih baik?" Aldrich menunjukkan mata imutnya agar Emma luluh.
Sementara Ezra lebih kebingungan dari sebelumnya. Kapan aku makan mie instan?
"Baiklah. Ezra, cepat pesan makanan apapun yang kau mau. Order saja dari restoran terdekat. Nanti kubayar." Emma mengeluarkan dompet dari tas kecil yang ia bawa.
"Serius? Apapun yang kumau?" Tanya Ezra.
"Iya cepat, sebelum aku dan Aldrich pulang. Ini sudah sore sekali."
Ezra menatap Aldrich, dan anak itu diam-diam memperlihatkan ibu jarinya.
__ADS_1
ALDRICH ADALAH MALAIKATKU!