Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Pesan Dari Ibu


__ADS_3

"Ya, itu sudah cukup." Aldrich secara diam-diam mematikan alat perekam suara yang berada di dalam ranselnya.


Sudah begitu saja? Ria kebingungan dan kembali panik. Ia tidak tahu rencana apa yang anak itu sembunyikan. Tidak mungkin dia membawa banyak preman kemari hanya untuk bertanya kan?


"Serahkan anting dan cincinmu." Aldrich menengadahkan tangannya di depan Ria dengan ekspresi dingin.


"Apa?! Tidak mau!"


"Kau seharusnya punya banyak kan? Lagipula membeli benda itu lagi seperti membeli kerupuk bagimu. Atau kau ingin preman di luar yang mengambilnya sendiri? Karena jujur saja mereka sangat menginginkannya. Mungkin aku tidak bisa membantumu."


Ria menggeleng dengan cepat, lalu melepaskan semua perhiasannya untuk diberikan pada Aldrich. Setelah selesai menaruh perhiasan di tangan Aldrich, anak itu juga menaruh sesuatu di tangan Ria.


"Apa ini?" Tanya Ria tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Itu adalah hadiah ceria dariku untuk nenek buyut." Aldrich tersenyum kemudian keluar dari mobil. Tapi sebelum menutup pintu, ia menoleh kearah Ria. "Coba pikirkan, semua itu salah siapa?"


Ria terus menatap Aldrich dari dalam mobil. Anak laki-laki itu memberikan semua perhiasan yang dibawanya pada teman-temannya.


Aku tidak percaya kalau anak itu sudah mempersiapkannya, dan akan membalas dengan cara yang sama.


Dengan tangan gemetar, Ria melihat telapak tangannya. Itu adalah beberapa obat yang masih tersegel di wadahnya.


Hadiah ceria? Apa maksudnya? Apa dia pikir aku akan mengkhianati nyonya dengan mencelakainya?


"Coba pikirkan, semua itu salah siapa?"


Salah siapa? Tentu saja salah Yunna! Semuanya salah dia! Salah...


Ria kembali mencengkram kepalanya dengan kuat. Ia mulai mengingat kembali semua kejadian di masalalu. Sebenarnya, ini semua tidak akan terjadi kalau Yelena tidak ketakutan dengan eneh sejak awal kan?


Apa mungkin anak itu benar? ini bukan salah Yunna, bukan juga salahku, tapi... Salah orang tua itu!



"Tarik nafas, hembuskan. Tarik lagi, tarik lagi, tariiik."


"Bisakah kita serius sekarang?" Matt menatap Emma yang terus bicara aneh.

__ADS_1


"Nona saya butuh minum, bukan tarik nafas." Pak Darma yang sedari tadi diteriaki Emma itu, merasa nyawanya sudah tidak lama lagi.


Dari dalam rumah, Ruri datang sambil membawa segelas air. Belum juga diserahkan, pak Darma sudah lebih dulu merebutnya lalu meminumnya sampai habis dalam hitungan detik.


"Sekarang jelaskan kenapa kau pulang dalam keadaan begini?" Tanya Emma saat tadi ingin keluar rumah dan mendapati pak Darma sudah terbujur kaku di depan pintu.


"Dia tadi pergi mengejar Aldrich. Astaga, aku sampai melupakanmu." Ron menepuk bahu pak Darma dengan rasa bersalah. Bisa-bisanya ia lupa, dan sekarang sudah malam hari.


"Benarkah?! Lalu bagaimana?" Tanya Matt antusias.


"Saya sempat berputar-putar karena kehilangan jejak mereka. Lalu saat melewati sebuah pasar, saya melihat banyak orang berkerumun, dan ada beberapa polisi juga. Saat saya bertanya pada salah satu pedangang, apakah dia melihat anak kecil laki-laki berlari membawa tas ransel? Eh orang itu malah berteriak 'Dia kenal anak tadi!!!' Lalu saya dikejar-kejar pedagang satu pasar yang meminta uang ganti rugi. Hiks." Pak Darma kembali terkapar setelah mengingat betapa naasnya ia tadi.


"Ganti rugi?" Ruri keheranan.


"Mungkin Aldrich berlari kesana. Dan karena pengejaran yang terjadi, mengakibatkan dagangan orang-orang rusak." Analisis Emma.


Matt mengusap dagunya sambil berpikir. "Berarti benar Aldrich sempat kesana. Tapi kalau memang begitu, kenapa sekarang anak itu belum kembali?"


"Jangan-jangan Aldrich tidak akan kembali lagi." Mulut Ruri langsung ditepuk oleh Ron setelah mengatakannya. Mengingat nona nya yang serba melankolis, takutnya dia akan sedih jika membayangkannya.


"Dia akan kembali. Aku yakin." Emma menatap arlojinya sebentar, lalu berjalan menuju mobilnya. "Aku akan mencarinya."


"Aku punya petunjuk."


Tiba-tiba terdengar suara orang lain yang menjawab Matt. Laki-laki yang baru masuk pagar itu membuat semuanya terkejut.


"Wayne?" Emma sampai mengucek matanya berkali-kali karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri.


"Kenapa telpon rumah dimatikan? Aku jadi harus jalan kaki kesini, hanya untuk anak itu. Menyebalkan." Wayne melipat tangannya dengan ekspresi kesal.


"Apa? Anak itu?" Emma mengangkat sebelah alisnya dengan curiga.


"Aldrich. Aku sempat bertemu dengannya, dan kami berpisah tadi sore."



"Wah pasti harganya mahal." Popol terus menerus mengucapkan kalimat itu saat melihat perhiasan hasil rampasan mereka.

__ADS_1


"Tobeli, beberapa hari lagi kamu ulang tahun kan? Hadiah apa yang kamu inginkan dari kita?" Tanya paman Tong disertai anggukan kepala antek-anteknya.


"Aku tidak ingin apapun."


Teman-teman Aldrich sontak saling lirik melihat sikap teman kecilnya itu. Sejak pergi dari rumah sakit mewah tadi, Aldrich terus diam seperti orang yang penuh beban pikiran. Sebenarnya mereka ingin bertanya, tapi takut mengganggu privasinya yang misterius. Jadi mereka memutuskan untuk diam saja.


Setelah sampai di rumah popol, mereka sepakat untuk menyimpan pendapatan mereka dan menjualnya besok. Paman Tong dan para bawahannya pergi. Sementara Aldrich masih duduk diam disana.


"Ingin menginap?" Tanya Popol sambil duduk di samping Aldrich.


"Mungkin. Biarkan aku sendiri dulu."


Popol mengangguk. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, sedari tadi ia hanya menuruti Aldrich. Jadi untuk mendukungnya, ia akan kembali menurutinya dan masuk ke dalam rumah sendiri. Meninggalkan Aldrich yang hanya duduk di depan rumah kecilnya.


Tatapan mata Aldrich hanyut bersama aliran air sungai keruh yang dilihatnya. Rumah Popol yang berada di bantaran sungai sama seperti rumahnya, adalah rumah liar yang didirikan dengan asal. Melihat itu, dari kecil Aldrich tidak pernah terbayang sedikitpun kalau sebenarnya ia adalah anak dari keluarga kaya raya dengan segala kerumitan yang menyertainya. Senang? Atau sedih? Ia merasa kalau lebih enak hidupnya yang dulu. Saat pikirannya hanya diisi bekerja, uang, dan obat untuk ibunya. Sekarang apa yang ia lakukan? Hanya tindakan tercela untuk saling menjatuhkan.


Sebenarnya hidup seperti apa yang harus kulalui sekarang? Ibu, katakan padaku.


Aldrich memeluk dirinya sendiri, yang tiba-tiba menginginkan sebuah pelukan. Tapi tidak ada siapapun disisinya. Ia merindukan ibunya. Meskipun suka marah-marah, tapi hanya dengan melihat sang ibu, ia sudah merasa tenang. Sekarang, tanpanya terasa sangat menyakitkan.


"Ibu..."


Tiba-tiba sepasang tangan muncul dari balik punggung Aldrich dan memeluknya dari belakang. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Saat menoleh, ia mendapati wajah ramah yang sedang tersenyum kearahnya.


"Ibu?" Aldrich tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Itu benar-benar ibunya, tapi dengan keadaan yang lebih segar, tidak seperti orang yang sedang menahan rasa sakit seperti saat masih hidup.


"Dengarkan ibu. Apapun yang terjadi, ibu akan selalu berada disisi Aldrich. Mengerti?" Ucap sang ibu sambil mengusap pipi Aldrich yang sudah basah dengan air mata.


Mendengar perkataan itu, Aldrich jadi teringat kalau sang ibu pernah berkata hal yang sama persis padanya saat masih kecil. Jadi apakah ini hanya ingatannya?


"Selain ibu, juga masih ada orang lain yang akan terus ada disisimu. Jadi, jangan merasa kalau kamu hanya sendirian."


"Orang lain? Siapa?"


Ibunya tersenyum lalu menunjuk suatu arah. Aldrich menoleh mengikuti jari ibunya menunjuk, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Emma yang sedang berlari menuju kearahnya.


"Anakkuuu!!!" Teriak Emma yang membuat Matt yang sedang berlari dibelakangnya harus menutup telinga kuat-kuat.

__ADS_1


Aldrich tersenyum. Apa-apaan itu? Memalukan sekali.


Saat menoleh kearah ibunya, ternyata sudah tidak ada siapapun lagi disana.


__ADS_2