
"Matt Hamilton dan Sylvia Anastasia. Ini adalah undangan khusus karena jabatan anda setara dengan tuan Matt saat ini." Wayne menunjukkan undangan berwarna Emas itu kehadapan Emma.
Emma terdiam, sorot matanya tiba-tiba kosong. Ia menatap lantai dibawahnya dengan ekspresi aneh.
"Nona?"
Suara Wayne seolah tidak didengar oleh Emma. Dia larut dalam pikiran yang entah karena apa.
"Kak? Paman Wayne tadi bicara." Aldrich menggoncangkan tangan Emma perlahan.
"Eh? Ya?" Emma tersadar dan tersenyum kearah Aldrich. "Ada apa Al?"
"Kenapa kakak tiba-tiba diam saja?"
"Aku? Tidak. Hahaha ayo kita sarapan. Masakan Ron itu yang paling enak. Jadi ayo ganggu tidurnya." Emma menarik tangan Aldrich yang masih kebingungan.
Eh? Jadi ini bagaimana? Datang tidak? Wayne kebingungan.
◌
Beberapa jam sudah berlalu, Emma dan Aldrich sudah berhasil mengacaukan tidur Ron dan memaksanya memasak untuk sarapan. Karena dendam tidurnya diganggu, Ron hanya membuatkan sarapan roti panggang dan telur mata sapi. Sangat jauh dari request Emma yaitu spaghetti mozarella.
"Jauh dari ekspektasiku." Emma menatap isi piringnya dengan sedih.
"Tapi ini enak kok kak." Ucap Aldrich yang sudah memakan roti panggangnya.
"Ya baiklah." Akhirnya Emma ikut makan dengan terpaksa. Entah kenapa moodnya tiba-tiba tidak bagus. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Tapi karena tidak tahu itu apa, rasanya cukup menyebalkan.
Apakah gara-gara undangan itu? Ah tidak mungkin! Kenapa aku harus sedih karena sebuah undangan? Mungkin aku kurang liburan atau apa. Dan tadi juga Wayne melarangku ke pantai.
Eh? Benar juga!
"Kak? Kenapa melamun lagi?"
"Wayne!!!" Emma tiba-tiba berteriak dengan keras hingga membuat semua orang yang berada di dapur terkejut dibuatnya.
"Ada apa nona?" Wayne muncul secara misterius dari balik pintu dapur.
__ADS_1
"Cepat buatkan akte kelahiran, dan paspor untuk Al. Aku ingin mengajaknya liburan ke luar negeri selama seminggu. Jangan khawatir, aku akan pulang untuk menghadiri acara pertunangan keluarga Hamilton."
Aldrich menggaruk kepalanya dengan bingung. Kenapa tiba-tiba kakak ingin mengajakku ke luar negeri? Jadi tadi pagi bilang ke pantai itu serius ya? Lagipula... Kenapa dia tidak menyebut nama kak Matt? Malah bilang keluarga Hamilton. Benar sih, tapi kan...
"Eh? Lalu siapa yang mengurus perusahaan?" Tanya Wayne.
"Tentu saja kau. Aku dan Al hanya akan pergi berdua."
Ron yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya mengeluarkan pendapat. "Jangan nona, itu berbahaya. Nama anda sudah naik dan orang-orang mulai mengenal anda. Bagaimana kalau ada orang jahat?"
"Benar juga. Kalau ada orang jahat kasihan Al."
Maksudnya kakek itu, kasihan sama kak Emma. Kenapa malah jadi aku? Aldrich hanya menggeleng.
"Oh aku tahu!" Emma mengangkat tangannya dengan bangga. "Aku akan mengajak Ruri, dia bisa taekwondo kan?" Emma menunjuk Ruri yang sedari tadi hanya berdiri di sudut dapur menunggu piring kotor.
"Eh? Sa-saya?" Ruri kebingungan.
"Saya saja nona. Saya juga pernah belajar taekwondo." Pelayan lain bernama Melin mengacungkan tangannya.
"Tidak. Bukankah kau tidak pernah ikut lomba? Sebenarnya kemampuanmu juga bagus. Tapi aku lebih percaya Ruri yang sudah menang lomba provinsi."
"Tapi saya hanya juara 3."
"Tidak masalah, yang penting menang. Ayo siapkan perlengkapan kalian. Kita berangkat!!!" Emma berseru tapi langsung dihentikan Wayne.
"Surat-suratnya belum ada. Bersabarlah."
◌
Di tempat lain.
Brak!
Seorang pria paruh baya membuka pintu dengan sangat keras. Membuat Matt yang berada dibalik komputernya terkejut bukan main. Tapi ia sudah menduganya, kalau sang ayah akan menemuinya hari ini.
"Apa-apaan dengan berita ini hah?! Kau memakai nama keluarga untuk perempuan kotormu!!!" Charles Finn Hamilton, nama lengkap pemimpin keluarga sekaligus ayah Matt itu. Ia sangat murka sambil melempar sebuah tablet berisi berita ke depan putranya.
__ADS_1
"Ayah, jika aku tidak melakukannya, pasti ayah tidak akan pernah merestuiku." Ucap Matt lirih.
"Dasar tidak tahu diri! Dan kau berani menentang ayah?!" Charles hendak memukul Matt, tapi seperti sebelumnya Ria datang dan menahan tangannya.
"Tolong jangan gunakan kekerasan. Bicaralah baik-baik." Ucap Ria.
"Tidak usah ikut campur, dasar orang luar." Cibir Matt pada Ria, yang membuat ayahnya semakin murka.
"Kau berani berkata seperti itu pada orang yang membelamu, Matt? Otakmu sudah terbalik."
"Apa ayah peduli padaku? Apa ayah pernah memikirkan perasaanku? Yang ada dipikiran ayah hanya wanita busuk ini!" Matt menunjuk Ria tanpa takut.
"Matt Hamilton!!!"
"Apa? Ayah pikir aku takut? Heh! Sekarang bagaimana? Aku sudah menyebarkan berita pertunangan pada publik. Kalau batal... Bagaimana ya pikiran orang-orang? Keluarga Hamilton sudah dua kali membatalkan acara penting. Pasti orang-orang akan lebih penasaran dengan kita. Oh aku tahu! Mungkin yang lebih buruk, saham kita akan turun drastis." Matt tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar! Kau hanya menambah beban masalahku saja! Anak tidak berguna!"
"Jangan katakan itu pada Matt!" Bela Ria.
"Ria berhenti membelanya. Dia jahat padamu. Ayo kita pergi." Charles menggandeng Ria keluar ruangan.
Cih! Dasar istri kedua tidak dianggap. Matt kembali melanjutkan pekerjaannya dengan santai.
Di luar ruangan. Ria langsung melepaskan genggaman tangan Charles.
"Kenapa kasar sekali pada Matt? Dia hanya tidak tahu kalau Sylvia itu jahat. Tugas kita memberitahukan faktanya pada Matt. Bukan memarahinya." Ucap Ria dengan kesal.
Charles menghela nafas kemudian melirik Ria. "Aku mendidiknya dengan tegas. Tapi aku masih menyayanginya." Setelah berkata begitu, ia pergi meninggalkan Ria.
Kenapa? Kenapa keluarga ini tidak rukun saja? Nona... Apa yang harus kulakukan?
Ria berjalan mendekati jendela, kemudian melihat awan berarak dari sana. Ia kembali teringat sebuah kejadian yang merubah hidupnya.
"Namamu Ria? Aku memilihmu menjadi istri kedua suamiku."
"Eh? Apa maksudnya nona?"
__ADS_1
"Penyakitku semakin parah. Kelak, jagalah kedua anakku. Khususnya Matt, dia agak bandel."
Ria menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Bagaimana ini nona? Matt malah membenciku.