
"Mau?! Serius? Horeee!!!" Emma melompat-lompat kegirangan.
"Kak jangan melompat disini. Tanah di dekat sungai mudah longsor. Nanti kak Emma masuk ke sungai loh."
"Aduh tapi aku senang sekali. Bagaimana mengekspresikannya?"
"Teriak saja." Aldrich tersenyum.
"Auoooouooo..."
Kenapa jadi tarzan?
◌
Beberapa jam kemudian. Setelah gerombolan marching band dan gajah dibubarkan.
Emma dan Wayne sedang berada di dalam rumah Aldrich sekarang. Mereka ditawari minum oleh anak laki-laki itu. Tentu saja Emma sangat senang, dan menyeret Wayne untuk ikut bersamanya.
Sungguh tempat yang menjijikkan. Wayne menatap seisi rumah Aldrich dengan raut wajah tidak suka.
"Wayne kenapa cuma berdiri? Ayo duduk disini." Emma menepuk area kosong disampingnya. Ia sendiri tidak masalah kalau harus duduk diatas spanduk.
"Saya akan menunggu di luar saja." Wayne langsung pergi.
"Ya sudah."
Emma sangat senang sekarang. Ia menatap kanan kiri melihat tempat tinggal Aldrich. Tapi dilihat beberapa kalipun tempat itu sangat tidak layak dihuni oleh orang.
"Ini minumnya." Aldrich datang sambil membawa dua gelas plastik berisi teh hangat. "Eh? Paman Wayne kemana?"
"Abaikan saja dia. Wahh teh hangat, aku sangat suka." Emma langsung menyambar salah satu gelas dan menenguknya sampai habis. Lalu ia juga menyambar gelas satunya dengan santai. "Akan kuminum semua."
Rupanya begitu. Paman Wayne itu sangat tidak suka padaku, dan jijik melihat rumah ini. Tentu saja dia juga tidak akan sudi meminum air darisini.
Haaah... Kira-kira bagaimana nasibku selanjutnya setelah menjadi anak angkat kak Emma? Pasti paman Wayne akan mempersulitku.
"Al, pindah ke rumahku saja ya."
"Hm?"
"Bu-bukannya aku berpikir rumahmu ini jelek. Tapi lebih baik jika tinggal bersamaku kan? Bukankah kita akan menjadi keluarga? Tidak mungkin hidup terpisah."
Benar juga. Meskipun ada beberapa kasus anak angkat yang tinggal terpisah, tapi kak Emma mengadopsiku untuk menemaninya di rumah. Tidak mungkin malah terpisah. Tapi...
"Ada apa Al?"
"Entahlah. Aku sudah tinggal disini sejak lahir. Tumbuh besar juga di rumah ini. Kalau ditinggal..."
"Tenang saja. Kamu bisa main kesini kapanpun. Dan bisa menginap disini juga kalau sedang rindu kenangan masa kecil. Aku tidak akan melarangmu, Al." Emma tersenyum dengan ramah.
Kak Emma baik sekali. Rasanya semakin bersalah kalau hanya menjadikannya batu pijakan untuk mencari ayahku. Bisakah suatu saat nanti aku menyayangi kak Emma juga?
__ADS_1
"Kalau seperti itu baiklah. Aku akan tinggal bersama kak Emma."
"Yey! Kamu tidak perlu berkemas ya. Semua barang-barangmu akan kusediakan baru di rumah. Baju dan yang lainnya biar disini saja. Supaya kalau kamu ingin menginap disini tidak perlu membawa apapun."
Itu ide bagus. Dan... Aku juga tidak perlu membawa kenanganku ke rumah baru. Baju berlubang yang dijahit ibu semuanya biarkan di disini saja. Kenangan tentang ibu akan kusimpan disini. Semua agar aku bisa fokus mencari keberadaan ayah.
"Oh iya, Al. Aku ingin menemui ibumu."
"Ke makam ibu?"
"Ya benar. Aku ingin meminta ijinnya hehe." Emma dengan malu-malu menggaruk tengguknya yang tidak gatal.
Ya ampun, kak Emma malah terlihat seperti ingin melamar seseorang. Sampai ijin orang tuanya segala. Benar-benar lucu.
"Ei! Kenapa kamu tersenyum? Jangan tertawakan aku!"
"Hahaha tidak kak."
"Itu ketawa!"
Setelah istirahat, Aldrich membawa Emma ke makam sang ibu. Karena dekat, mereka hanya perlu berjalan kaki 10 menit untuk sampai ke area pemakaman. Emma sangat ansuias sekaligus gugup ketika Aldrich mulai mengajaknya mendekati sebuah makam.
"Disini." Aldrich berjongkok di dekat makam sang ibu. Emma mulai mengikuti apa yang Aldrich lakukan.
"Em... Halo, namaku- eh?" Emma menatap nisan itu lekat-lekat. Nama Yunna Alisya yang tertera disana seperti tidak asing bagi Emma.
Yunna Alisya? Sepertinya aku pernah membaca nama itu disuatu tempat. Dimana ya? Duh kalau tidak ingat rasanya sebal sendiri.
"Ah tidak. Halo eum... Ibumu umurnya berapa?"
"35 tahun."
"Halo bibi. Namaku Emma Rosaline. Salam kenal. Aku kemari ingin meminta ijin untuk merawat Aldrich."
Tunggu dulu... Umurnya 35 tahun, sementara umur Aldrich 10 tahun. Berarti dia punya anak saat umur 25 tahun? KENAPA AKU 27 TAHUN MASIH JOMBLO?!
Aldrich menatap Emma heran. Tadi kak Emma terlihat bingung. Sekarang terlihat sedih sampai ingin menangis. Sungguh perubahan sikap yang sangat signifikan.
"Ibuku pasti senang kok kak. Jadi kakak tidak perlu sedih."
Emma tersenyum kemudian menggangguk.
"Bibi, anakmu ini sangat pandai bicara. Lihatlah dia bersikap lembut, tapi tadi menertawaiku loh."
"Eh? Mana ada! Tidak bu. Kak Emma bohong."
"Emang enak kuadukan ibumu?"
"Awas ya." Aldrich berdiri kemudian menarik pipi Emma. "Rasakan!"
"Oi sakit."
__ADS_1
"Hahaha." Aldrich langsung berlari meninggalkan Emma sambil tertawa.
Emma tersenyum dan kembali menatap makam. "Aku akan menjaga anak itu menggantikanmu. Terimakasih sudah membuatnya menjadi anak yang baik. Sekarang giliranku melanjutkannya."
Setelah mengatakan itu. Emma pergi sambil mencari sosok Aldrich. "Kemari, Al. Aku tidak hafal jalannya. Oi!!!"
◌
Sementara itu di tempat lain. Ruang CEO Hamilton Group.
"Apa kamu bilang?! Ulangi kalau berani." Seorang pria paruh baya sedang memarahi seseorang.
"Ayah, aku serius soal Sylvia. Aku ingin melaksanakan acara pertunangan." Ucap Matt, laki-laki yang sedang dimarahi itu.
"Dasar anak bodoh! Apa matamu tidak bisa melihat siapa dia? Apa latar belakangnya?"
"Ayah, aku tidak peduli dengan latar belakangnya. Sylvia memang orang biasa, bukan berasal dari keluarga terpandang. Tapi dia sangat tulus mencintaiku." Matt berkata dengan sorot mata serius.
"Tulus? Dia itu hanya j4lang!"
"Ayah! Jangan mengatai Sylvia seperti itu!"
"Kau berani membentak ayahmu demi j4lang seperti itu?! Dasar anak tidak berguna!" Pria paruh baya itu hendak memukul Matt. Tapi seseorang langsung menghalanginya.
"Jangan pukul Matt!!!" Seorang wanita tiba-tiba datang menghalangi. Dilehernya tergantung sebuah id card bertuliskan, Aria Lita.
"Cih!" Pria paruh baya yang merupakan sang ayah, akhirnya mengakhiri niatan untuk memukul anaknya. "Kau benar-benar bodoh Matt. Tidak seperti-"
"Jangan katakan itu! Jangan bandingkan Matt dengan siapapun."
"Baiklah. Matt, jika kau mengatakan ingin bertunangan dengan j4lang itu lagi didepanku. Aku tidak segan-segan mencoret namamu dari keluarga Hamilton.
Setelah mengatakan itu, sang ayah pergi dengan emosi. Dia bahkan membanting pintu dengan keras untuk memperlihatkan seberapa besar amarahnya.
"Matt, kamu baik-baik saja kan?" Aria, yang akrab dipanggil Ria itu melihat Matt dengan khawatir.
"Jangan sok peduli padaku!" Matt menepis tangan Ria yang hendak memegang pundaknya. "Bersikap sok baik di depan ayah huh? Siapa kau? Tidak ingat? Kau bukan ibuku! Hanya istri kedua yang bahkan tidak diakui!"
"Kenapa kamu bicara begitu jahat?"
"Jahat? Perbuatanmu juga jahat! Kau membunuh ibuku dan... Sudahlah! Pergi dari ruanganku, sekarang!" Bentak Matt sambil menunjuk pintu. Dan Ria langsung pergi dengan mata yang berkaca-kaca.
Cih! Ayah berkata kalau Sylvia j4lang? Seharusnya wanita itu yang mendapat julukan j4lang.
Argh! Hidupku menyebalkan!
Brak!
Matt mendorong beberapa barang diatas mejanya hingga jatuh berserakan. Ia sangat stress sekarang.
Terus berada disini akan membuatku tambah stress. Lebih baik aku keluar sebentar untuk jalan-jalan.
__ADS_1
Matt berjalan mendekati meja, dan mengambil kunci mobil.