
Matt menatap malas kearah pintu kamar hotel Standard yang akan ia tempati. Di sampingnya, Emma malah terlihat antusias dengan kamarnya yang berada tepat di sebelah Matt.
"Kak, bolehkah aku tidur bersama kak Matt?" Permintaan Aldrich terdengar oleh Matt yang langsung menunjukkan senyum cerahnya.
"Kenapa?" Tanya Emma tidak rela. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkannya, tapi belakangan ini Matt semakin gencar mendekati Aldrich. Bagaimana kalau anak itu pindah haluan, dan ingin tinggal bersama Matt?
"Cuma ingin mengobrol antar sesama laki-laki."
"Astaga, siapa yang mengajarimu bicara begitu?"
"Kak Matt." Baru saja selesai mengadu. Tubuh Aldrich terangkat dan dibawa ke kamar sebelah.
"Oke selamat malam." Ucap Matt cepat sambil membawa Aldrich masuk kamar. Setelah itu bunyi pintu yang terkunci terdengar.
"Anakkuuu..."
◌
Aldrich berkali-kali mengganti saluran televisi dengan ekspresi malas. Ia baru saja selesai mandi, dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengajak ngobrol Matt. Ini adalah kesempatan terbaik bagi Aldrich untuk mengorek informasi dari Matt. Ia ingin tahu seperti apa Yelena Hamilton itu? Sebelum menghadapi musuh, penting untuk mengetahui seperti apa dia. Tapi Matt yang akan dijadikan bahan investigasi malah sibuk sendiri.
Laki-laki itu mengecek satu persatu barangnya dari koper. Katanya, ada barang yang tertinggal. Aldrich merasa kalau Matt sebenarnya mirip sekali dengan Emma. Ceroboh, dan aneh. Tapi karena Matt ditutup dengan cover tuan muda kaya raya, jadi imej itu tidak terlihat. Sekarang Aldrich harus berhadapan dengan Emma versi dua. Benar-benar hebat.
"Akhirnya ketemu!!!" Matt dengan gembira mengangkat minyak angin yang ia cari.
"Aku tidak menyangka kak Matt suka memakai barang seperti itu." Aldrich melirik minyak angin yang sekarang sedang dipakai Matt.
"Baunya enak. Coba cium."
Saat Matt mendekatkan minyak angin itu pada Aldrich, aroma yang tercium langsung mengingatkannya pada ibu. Dulu saat sedang batuk, ibunya selalu memakai minyak angin itu. Dan saat sedang marah, sang ibu akan melemparkan minyak angin itu kearahnya.
Itu hanya bau, tapi bisa membuat Aldrich mengingat banyak kenangan semasa kecil, yang sangat menyedihkan dan indah.
__ADS_1
"Kak Matt kenapa memilih merk itu? Kan harganya murah."
"Karena wanginya enak."
Aldrich menarik sudut bibirnya. "Hanya karena itu? Mungkin sebagian orang akan berpikir lain. Misalnya obat antara hidup dan mati?"
"Hm? Kamu bicara apa? Aku tidak paham."
Benar, kenapa aku kesal? Memang pelaku yang memberikan racun pada ibu berasal dari keluarga Hamilton, tapi bukan berarti itu kak Matt. Hanya saja, mendengar nama keluarga Hamilton sudah membuatku muak.
Ah sudahlah, aku harus fokus dengan tujuan utamaku.
"Hehe tidak apa-apa kak, aku cuma asal bicara. Di tv tadi ada orang bilang begitu hehe."
Matt bingung. Memangnya Aldrich paham bahasa di tv itu?
"Oh iya kak. Apa festival kembang api itu sangat bagus?"
"Benarkah? Bersama keluarga kakak? Pasti menyenangkan."
Aldrich tersenyum penuh arti. Ia mulai bisa mengatur percakapan ini sekarang.
"Tidak bersama keluargaku. Hanya dengan kakak saja."
"Kakak?"
"Ah tidak. Lupakan! Intinya aku pernah melihat itu sebelumnya."
Jadi kak Matt melihat kembang api bersama ayah? Sepertinya hubungan mereka baik. Hanya dengan melihat kembang api saja, sangat diingat oleh kak Matt. Baguslah.
Yang ingin kuketahui sekarang adalah hubungan kak Matt dengan Yelena Hamilton dan siapa Yelena Hamilton itu?
__ADS_1
"Wah enak sekali ya. Kak Matt juga pernah berpergian dengan kakek nenek tidak? Kalau aku dari dulu tidak tahu rasanya punya kakek dan nenek. Bagiku hanya ada ibu." Aldrich pura-pura sedih dan menunduk dengan malang. Sebenarnya meskipun sang ibu tetap hidup, ia juga tidak bisa merasakan rasanya punya kakek dan nenek, karena ibunya yatim piatu.
Menurutku, Yelena Hamilton adalah nenek kak Matt. Aku akan memastikannya dengan memancing obrolan ini.
Aldrich terkejut saat merasakan sebuah tangan yang besar mengusap kepalanya. "Tidak apa-apa. Sekarang, akan lebih banyak lagi orang yang akan menyayangimu." Suara Matt yang tidak terlalu berat itu entah kenapa terdengar hangat dan penuh perhatian. Haruskah Aldrich senang? Ia kehilangan keluarganya karena keluarga Matt sendiri.
"Kak Matt juga pasti senang kan? Bisa bersama dengan kakek dan nenek yang suka ngajak liburan. Apalagi nenek kak Matt suka liburan. Yang namanya siapa itu... aku lupa, kak Emma pernah membicarakannya satu kali."
"Namanya Yelena Hamilton."
Bingo!
"Ah iya itu."
Ini dia! Aku akan tahu hubungan mereka dari jawaban kak Matt setelah ini.
"Senang? Aku lebih suka kalau pergi sendiri. Lagipula aku dan dia tidak pernah liburan bersama."
Aldrich mengangguk. Begitu ya, rupanya hubungan mereka tidak baik. Saat acara pertunangan kak Matt juga tidak ada sosok nenek-nenek disana.
"Kenapa lebih suka sendiri? Kan enak bisa manja-manjaan sama nenek. Kata temanku begitu."
Matt tersenyum sambil membuang muka. "Cerita temanmu sangat bagus. Tapi sayang aku tidak bisa seperti itu."
Kak Matt bicara dengan lancar tanpa ragu sedikitpun. Apakah dia benar-benar membenci Yelena Hamilton itu?
"Sudahlah jangan bahas dia. Ngomong-ngomong ini sudah jam 7 malam. Sebentar lagi festival kembang apinya akan dimulai. Ayo kita bersiap."
"Eh? Sekarang? Kukira besok."
"Kalau besok, aku tidak akan menerbangkan kalian dengan buru-buru."
__ADS_1