Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Cerita Dari Tetangga


__ADS_3

Aldrich bersama pak Hendro duduk di kursi depan rumah. Pisang goreng dan teh hangat sudah tersaji di dekat mereka.


"Dimakan nak. Ayo jangan malu-malu."


Aldrich langsung mengambil sebuah pisang goreng dan menggigitnya.


Apa itu malu-malu? Kak Emma mengajarkanku betapa tidak bergunanya urat malu.


"Jadi begini nak. Apa ibumu tidak pernah bercerita tentang kenapa kalian bisa berada disini?"


Aldrich menggeleng. "Saat aku bertanya, ibu langsung memarahiku."


Aduh, dari dulu nak Aldrich selalu saja dimarahi ibunya. Kasihan sekali. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku yakin ibunya sebenarnya baik.


"Apa kamu ingin tahu kejadian yang sebenarnya?"


Aldrich mengangguk dengan mantap. Kalau benar-benar ada cerita. Ia harus tahu.


"Baiklah. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu."



10 tahun yang lalu.


Hujan deras mengguyur langit malam kala itu. Kebanyakan rumah menutup pintu mereka masing-masing dan enggan berada di luar karena cuaca yang dingin.


Pak Hendro sedang berada di rumah bersama sang istri menonton acara reality show di tv ruang depan.


Petok petok petok


"Pak, itu ayamnya berisik banget. Liat sana, siapa tahu kadangnya kemasukan ular." Perintah istri pak Hendro sambil mendorong suaminya untuk pergi.


"Halah, palingan tikus lewat doang kayak kemaren." Balas pak Hendro ogah-ogahan. Kandang ayam berada di teras rumah. Suasana sedang hujan dan dingin, rasanya untuk bergerak juga malas.


"Udah liat dulu napa? Nanti kalau mati ayamnya ga bisa dijual."


"Iya iya cerewet."


"Bilang apa tadi?" Istri pak Hendro langsung mengambil remot tv dan bersiap melemparnya.


"Iya istriku sayang."

__ADS_1


Pak Hendro bersiap membuka pintu. Tapi lagi-lagi ia mengurungkan niatnya karena udara dingin yang masuk dari sela pintu membuatnya malas. Ia hanya mengintip dari jendela kaca dekat pintu untuk melihat keadaan kandang ayam.


Tapi... Kedua mata pak Hendro lebih dulu menangkap sosok seorang perempuan memakai baju putih panjang sambil membawa anak didekapannya. Perempuan itu berada di teras rumahnya sambil berjongkok di samping kandang ayam. Kepalanya terus melihat sekitar seolah bersembunyi dari sesuatu.


Pak Hendro buru-buru kembali ke sisi istrinya dengan ekspresi ketakutan. "Bu di depan ada setan!"


"Ha? Yang bener aja pak?"


"Iya sumpah. Setannya bawa anak. Pasti kuntilanak tuh."


"Perasaan kuntilanak ga bawa anak deh pak." Istri pak Hendro menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Ih si ibu, namanya juga kuntilanak. Pasti bawa anak."


"Ck! Sini mana coba. Ibu mau lihat." Istri pak Hendro berjalan dengan gagah berani menuju jendela tempat suaminya mengintip tadi.


Sosok itu masih berada disana saat istri pak Hendro melihat.


"Astaga itu manusia. Bukan setan."


Dengan cepat sang istri membuka pintu, membuat perempuan yang membawa anak tadi terkejut setengah mati. "Ya ampun nak. Ngapain disini? Itu anaknya kasihan. Ayo masuk dulu."


Mendengar perkataan itu, bukannya senang malah membuat perempuan tadi panik bukan main.


Pak Hendro dan sang istri saling lirik. Lalu mengambil keputusan untuk membantunya.


"Ya sudah ayo masuk. Sembunyi disini." Pak Hendro dan sang istri membawa perempuan itu masuk rumah dan menutup pintu rapat-rapat.


"Siapa namamu nak?"


"Yunna Alisya."


Istri pak Hendro langsung berinisiatif menggendong anak Yunna, sementara pak Hendro mengambilkan handuk untuk ibu muda itu.


"Anak ini masih hidup kan?"


"Iya, tenang saja. Saya dokter. Dia masih belum terkena hipotermia sekarang." Ucap Yunna yakin.


"Wah dokter. Keren sekali. Masih muda sudah jadi dokter." Pak Hendro yang mendengar itu saat mengambil handuk ikut senang.


"Keringkan badanmu dulu nak." Istri pak Hendro masih dengan lembut menimang-nimang bayi digendongannya. "Pak, ambil kain kiloan di lemari dong. Buat si dedek nih biar ga kedinginan."

__ADS_1


"Siap jurangan." Pak Hendro kembali melesat dengan cepat.


"Terimakasih, anda baik sekali. Sepanjang jalan tadi rumah orang-orang semua tertutup, saya ingin mengetuknya takut menimbulkan suara dan membuat saya tertangkap."


"Sudah tidak apa-apa nak. Kamu aman."


"Sekali lagi, terima-"


"Mana dia?! Cepat cari!!!" Tiba-tiba terdengar suara dari banyak orang yang berteriak dan berlarian dari segala penjuru.


"Celaka! Mereka disini!" Yunna langsung ketakutan.


Pak Hendro yang baru saja muncul dari kamar setelah mengambil kain mulai terlihat pucat. "Bu, ada banyak orang di luar. Mereka preman, badannya besar-besar kayak pesumo."


"Tenang, dan jangan ada yang panik." Istri pak Hendro akhirnya mengeluarkan sisi cerdiknya sebagai emak-emak. "Di kolong kasur ada tumpukan kardus yang seharusnya kujual besok. Yunna, sembunyi disana dan aku akan menumpukkan kardus itu untuk menutupimu. Sementara bapak, jaga pintu depan."


"Laksanakan."



Aldrich menelan kunyahan pisang gorengnya sebisa mungkin. Ia seperti senam jantung hanya dari mendengar cerita pak Hendro. Apalagi jika kejadian seperti itu benar-benar ia alami. Meskipun ia benar-benar mengalaminya saat bayi. Tetap saja tidak bisa terbayangkan betapa mendebarkannya.


"Akhir dari itu bisa kamu tebak sendiri. Kalau ketahuan, tidak mungkin sekarang kita bisa mengobrol bedua haha."


"Jadi begitu ya. Kukira ibu datang ke sini dengan baik-baik."


"Ibumu sebenarnya sangat baik, tapi mungkin karena beban pikiran jadi suka marah-marah padamu." Pak Hendro tiba-tiba menunjukkan ekspresi sedih. "Sehari setelah kamu dan Yunna selamat, ibumu itu menelpon seseorang melalui telpon umum. Tapi dia malah mendapatkan kabar buruk, hingga dia menjadi orang yang tanpa ekspresi."


"Kabar buruk?"


"Yunna mendapat kabar kalau orang yang mengasuhnya dari kecil dibunuh oleh orang jahat hanya untuk mencari tahu posisi Yunna."


A-apa?! Hanya karena ingin mengetahui posisi ibu? Mereka bahkan melibatkan orang yang tidak bersalah.


"Katanya, Yunna tidak akan menggunakan telpon umum lagi karena takut orang jahat itu menyadap seluruh telpon umum di kota ini untuk mengetahui posisinya. Meskipun aku tidak tahu siapa orang jahatnya."


Aldrich mengangguk paham. Orang yang bisa melakukan hal besar seperti menyadap seluruh jaringan telpon pastilah orang penting yang memiliki kekuasaan tinggi, dan mereka adalah... Keluarga Hamilton.


Pasti hati ibu sangat hancur saat itu. Ditambah, dia tidak memiliki siapapun untuk diajak bicara. Hanya aku yang dia punya.


"Oh iya! Aku baru ingat!" Pak Hendro tiba-tiba menepuk tangannya. "Salah satu preman yang mengejar ibumu pernah berteriak begini. Kalau kita tidak menemukannya, nyonya besar akan marah. Begitu."

__ADS_1


Nyonya besar?


__ADS_2