
"Coba ulangi." Emma berkacak pinggang di depan dua penjaga ruang acara pertunangan Matt.
"Maaf nona Emma, undangan anda hanya satu. Jadi tidak bisa masuk dua orang."
Tidak disangka, Emma dan Aldrich tertahan dan dilarang masuk oleh penjaga ruang acara. Alasannya, karena Emma hanya memiliki satu undangan, tapi memaksa ingin masuk berdua bersama Aldrich.
"Aku ini Emma Rosaline. Matt mengundangku untuk datang kemari. Apa kau mau bertanggung jawab kalau Matt menuduhku tidak datang?" Emma menaikkan alisnya sambil menatap dua penjaga itu.
Untuk sesaat, pikiran para penjaga itu goyah. Mereka saling lirik satu sama lain untuk berpikir. Tapi setelah itu salah satunya mulai berkata. "Maaf nona, tetap tidak boleh. Kami takut akan membahayakan keselamatan keluarga Hamilton."
"Apa yang kalian takutkan dari anak berusia sepuluh tahun?" Emma mengangkat Aldrich dan menyodorkannya ke depan para penjaga itu. "Lihatlah! Bukankah dia lucu? Mana mungkin bertindak jahat."
Oi oi bukan begini caranya. Aldrich mendengus pelan.
"Benar juga, dia lucu." Bisik salah satu penjaga pada temannya.
"Iya, tidak mungkin anak selucu ini bisa mengancam." Balas rekannya.
"Baiklah, kalian dipersilahkan masuk. Selamat menikmati acara nona." Akhirnya Emma tidak dihadang lagi.
Hah? Cara kak Emma berhasil? Para penjaga keamanan ini otaknya sebelas dua belas dengan kak Emma.
"Seharusnya dari tadi." Emma menurunkan Aldrich dan kembali menggandengnya. "Ayo Al."
Pintu mulai terbuka, Aldrich dan Emma masuk bersama. Ternyata tempat acara itu sangatlah luas. Banyak meja dan kursi mewah yang ditata sedemikian rupa. Tidak lupa diujung ruangan terdapat banyak meja berisi makanan kecil yang bebas diambil oleh siapapun. Orang-orang yang berada disana juga sangat banyak. Mereka sudah mengisi beberapa kursi yang kosong, dan sisanya sibuk mengerubuni meja cemilan sambil berbincang.
Wah banyak juga yang datang. Pengaruh keluarga Hamilton benar-benar hebat. Bahkan ada beberapa orang asing disini.
Aldrich celingukan.
"Al, coba makan cemilan dulu yuk. Hotel ini terkenal dengan Eclairnya yang enak. Mereka memiliki ciri khas tersendiri." Emma membawa Aldrich ke ujung ruangan yang menyajikan Eclair di meja besar.
"Oh iya minum dulu." Emma beralih ke meja di sebelahnya.
Aldrich terkagum-kagum dengan tumpukan gelas yang menjulang tinggi disana. Itu terlihat sangat hebat saat gelas-gelas itu terpantul oleh cahaya lampu yang berada didekatnya. Terlihat sangat indah.
Hebat. Bagaimana cara menumpuknya? Pasti orangnya sudah berpengalaman.
__ADS_1
Aldrich melihat Emma mengambil sebuah gelas yang berada di sekitaran gelas tumpukan raksasa itu, lalu meminum isinya sampai habis. Karena haus juga, Aldrich mengambil gelas lainnya di dekat Emma.
"Eh? Jangan diambil!" Emma menepuk tangan Aldrich.
"Kenapa?"
"Ini ada alkoholnya."
Benar juga. Orang kaya pasti minum minuman beralkohol. Aldrich mengangguk.
"Apa kamu haus Al?"
"Sedikit."
Emma tersenyum dan membuka tas kecil yang ditentengnya sedari tadi. "Aku sudah menduganya, jadi aku bawa ini. Tada! Susu coklat." Dengan bangga Emma menyodorkan susu coklat di botol kecil pada Aldrich.
Ya ampun, kapan kak Emma menyiapkannya? Lagipula kenapa susu coklat?
Tapi... Dia sangat perhatian padaku.
Sembari minum, Aldrich melirik kanan kiri untuk melihat keadaan. Bagaimanapun sekarang dia berada di acara keluarga Hamilton. Keluarga yang kemungkinan besar adalah keluarganya. Jadi, ia tidak boleh lengah di acara sepenting ini.
"Ayah, aku mau Eclair."
Mata Aldrich terbelalak melihat seorang anak yang berjalan mendekati meja Eclair di dekatnya.
Uhuk! Uhuk!
Terkejut sekaligus panik. Membuat Aldrich tersedak. Ia langsung menutup mulutnya dan berbalik badan.
Kenapa bisa ada Floryn disini?!
"Kenapa Al?" Emma langsung khawatir. "Tersedak ya?" Dengan penuh perhatian, Emma mengusap punggung Aldrich.
Aku sedang tidak ingin menemui Floryn dulu. Kak Emma sudah memiliki rencana, aku tidak mau diganggu.
"Ini sapu tangan." Emma memberikan sapu tangan yang ia ambil dari tasnya pada Aldrich.
__ADS_1
"Terimakasih kak." Aldrich menerima itu dan menutup mulutnya dengan sapu tangan.
"Sudah baikan?" Tanya Emma yang langsung dijawab anggukan kepala Aldrich.
Berarti keluarga Floryn cukup terkenal, karena bisa masuk ke acara ini. Kukira cuma orang kaya biasa.
"Wah Emma. Apa kabar?" Tidak disangka ayah Floryn malah menyapa Emma.
"Eh? Tuan Declan. Lama tidak bertemu. Saya baik." Emma menjawab ayah Floryn dengan sangat sopan.
"Saya masih tidak menyangka kamu sudah sebesar ini dan sangat sukses. Tuan Cassius pasti senang melihat keberhasilanmu."
"Anda terlalu memuji saya."
Kak Emma ternyata mengenal ayah Floryn. Harus bagaimana ini?
Aldrich memilih bersembunyi di belakang Emma sambil terus menutup mulutnya dengan sapu tangan, agar Floryn tidak mengenalinya. Untung saja gadis kecil itu lebih fokus pada Eclair di tangannya daripada mengurusi orang yang diajak bicara ayahnya.
Tiba-tiba lampu mulai meredup. Membuat perhatian orang-orang tertuju pada sebuah panggung kecil yang memiliki lampu paling terang.
Sudah dimulai? Aldrich mulai fokus.
Benar saja. Matt masuk ke dalam ruang acara ditemani seorang perempuan, dialah Sylvia.
Emma sedikit menunduk, lalu berbisik di telinga Aldrich. "Misi dimulai. Sesuai yang aku katakan saat di rumah. Pakai rencana A, kalau tidak memungkinkan ganti ke B, tapi kalau tidak bisa pakai rencana C, jangan lupa dengan rencana D dan E untuk jaga-jaga. Sebagai pelengkap, rencana F dan G tidak buruk juga."
Kalian lihat sendiri kan? Begitu banyak rencana yang disiapkan kak Emma. Untung saja aku pintar dan bisa menghafal semuanya.
"Oh iya Al. Aku berubah pikiran, kita lakukan rencana gabungan. A dan F, atau B dan E. Menurutmu diantara dua itu lebih bagus yang mana?"
Kak Emma ingin melihat kepalaku mengepul disaat seperti ini?!
"Terserah kakak. Aku akan mengikutinya." Jawab Aldrich pelan, karena tidak ingin Floryn mendengar suaranya juga.
"Baiklah, rencana C dan G saja."
Katanya antara dua yang tadi? Ah sudahlah! Aku tetap akan mengikutinya.
__ADS_1