Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Dia yang Berbeda


__ADS_3

Akhirnya Matt bisa membawa Aldrich dan Emma menikmati pemandangan kembang api di tempat yang lumayan sepi. Tidak ada bagian di kuil ini yang benar-benar tidak ada orang, jarak 5 meter dari tempat mereka berdiri pun terdapat satu keluarga kecil yang ikut menikmati pemandangan kembang api. Itu lebih baik daripada harus berdesak-desakan seperti sebelumnya.


"Indahnya." Kedua bola mata Aldrich memantulkan banyak ledakan kembang api yang dilihatnya. Langit malam terlihat sangat terang saat kembang api dinyalakan bersamaan, seperti sedang bertarung satu sama lain di langit. Ia bahkan lupa memakan takoyaki di tangannya. Sekarang ini ia terhipnotis oleh kembang api.


"Sebenarnya aku tidak suka kembang api."


Matt yang mendengar itu keluar dari mulut Emma, sepontan menoleh kearah perempuan yang menatap datar pada kembang api meriah itu.


"Kenapa? Karena berisik?" Tanya Matt yang membuat Emma beralih menatapnya.


"Tidak." Emma menggeleng. "Karena hal cantik seperti itu cepat menghilang."


"Kau tidak akan tahu itu cantik jika ada untuk selamanya."


Emma mengangguk pelan mendengar jawaban Matt. "Tapi, karena tetap menghilang, mungkin lebih baik tidak tahu."


Matt tersenyum. "Jangan khawatir, aku akan cantik untukmu saja. Dan aku tidak akan menghilang."


Emma terdiam sebentar sambil menatap Matt, lalu matanya berkedip beberapa kali dengan raut wajah bingung. "Kau kan laki-laki, masa cantik sih."


Bukan begitu maksudnya. Matt yang sebal hanya membuang muka. Harus berapa kali lagi ia memberi kode pada Emma? Saat ia sudah tahu perasaannya setelah memeriksa ke 10 rumah sakit, Emma malah tidak paham dengan semua kode darinya.


Setelah beberapa saat, akhirnya pertunjukan kembang api selesai. Semua orang membubarkan diri. Suasana hati Aldrich yang tadinya kesal berubah senang setelah melihat pertunjukan kembang api paling meriah sepanjang hidupnya itu. Ia tidak berhenti bersenandung ria sembari memakan takoyaki yang sudah tidak hangat lagi.


"Ah iya!" Aldrich menoleh kearah Emma dan Matt yang berjalan mengekorinya untuk pulang.


"Ada apa?" Tanya Emma penuh perhatian.


"Aku ingin ikan mas, seperti anak itu." Aldrich menunjuk seorang anak yang berusia sekitar 5 tahun sedang membawa ikan mas dalam kantong plastik di tangannya.


"Dimana belinya?" Emma melihat sekeliling. "Aku bisa memberikanmu ikan mas yang lain. Sepertinya aku punya nomor telepon pengusaha ikan mas langka."


"Tidak mau! Aku maunya itu!" Entah kenapa sisi kekanakan Aldrich muncul sekarang. Padahal tidak biasanya ia begini. Tapi, rasanya seakan terbawa suasana.


"Kita harus bermain." Ucap Matt sambil menunjuk sebuah stan yang memamerkan area bermain tangkap ikan mas.


__ADS_1


"Lagi!!!" Emma dan Matt berteriak bersamaan sambil mengeluarkan uang untuk membeli jaring kertas tangkap ikan.


Orang-orang mulai melihat Emma dan Matt yang tidak segan-segan mengeluarkan uang berulang kali untuk menangkap ikan. Sayangnya itu tidak pernah berhasil.


"Ibu, lihat kakak-kakak disana payah sekali ya."


"Hus! Jangan begitu. Bicaranya pelan-pelan saja. Ayo kita pergi."


Aldrich melirik kearah ibu anak yang kebetulan lewat dan mengatai Emma dan Matt. "Kak sudah saja yuk. Setelah kupikir-pikir lagi, tidak usah beli ikan."


"Ish! Tapi aku sebal Al! Apa kamu tidak paham rasa sebal ini?! Paman, aku beli lagi!!!" Teriak Emma.


"Ini pasti curang! Kertasnya tipis sekali! Tidak bisa buat nangkap ikan. Lihat! Ikannya saja besar-besar. Apa kau tidak paham hukum fisika?!" Sekarang giliran Matt yang memaki paman penjual yang kebingungan. Aldrich beralih kesisi Matt dan menangkannya.


"Kak Matt, memang begini cara bermainnya."


"Aduh ayah ini. Ingin mendapatkan ikan untuk anak itu harus sabar. Lagipula banyak yang bisa mengambilnya."


"Anakku mau ikan! Aku beli semua ikan di kolam ini saja, sekaligus satu stan ini kubeli." Ucap Matt sambil menunjuk ke sekeliling penjual.


Ck! mereka membuatku malu lagi. Lagipula aku bukan anakmu! Ah sudahlah! Ini salahku juga.


"DAPAT!!! AKU DAPAT!!!" Emma berteriak kegirangan.


"Benarkah?" Matt langsung mendekati Emma dengan ekspresi yang ikut senang.


"Selamat. Ini bonus dariku karena kalian sudah melariskan daganganku sebelum tutup."



Keluarga kecil dadakan Matt berjalan bersama meninggalkan area kuil yang dipakai untuk festival. Disekeliling mereka, orang-orang yang memiliki stan makanan dan permainan mulai membereskan dagangan mereka.


Aldrich berjalan sambil menggigit permen apel yang diberikan paman stan ikan sebagai bonus. Di sebelah tangannya, ada ikan mas di dalam plastik sesuai keinginannya. Ternyata ikan mas yang ditangkap Emma masih kecil, jadi jaring kertas yang membawanya kuat.


"Hei Emma."


"Hm?" Emma menoleh kearah Matt yang berjalan disisinya.

__ADS_1


"Kenapa semakin hari aku merasa semakin aneh pada anak itu?" Ucap Matt sambil menatap Aldrich yang berada jauh didepannya. Anak laki-laki itu berhenti berjalan dan melihat patung Komainu, patung anjing berwajah singa yang menjadi penjaga kuil.


"Aneh bagaimana? Perasaan Al normal-normal saja."


"Saat aku bicara dengannya, entah kenapa rasanya sangat aneh. Tidak seperti mengobrol dengan anak usia 10 tahun."


"Hah?! Maksudmu Al bodoh dan tidak paham obrolanmu?"


"Bukan!!! Kebalikannya tau! Dia malah lebih pintar dariku."


Emma terdiam sambil menggaruk kepalanya. "Jadi kau mengaku lebih bodoh dari anak usia 10 tahun?"


"Kenapa susah sekali bicara denganmu? Maksudku, dia tidak seperti anak 10 tahun lainnya." Matt kembali melihat Aldrich yang mulai memegang patung Komainu dengan takjub. "Aku punya teman yang memiliki bar. Hampir setiap aku kesana, pasti melihat keponakan laki-lakinya yang berusia 10 tahun bermain disana. Dia setiap hari hanya merengek minta dibelikan mainan, cemilan, dan disetiap kata-katanya selalu berisi imajinasi anak kecil. Tapi kenapa Aldrich tidak?"


"Kau mungkin tidak tahu. Tapi menurutku Al didewasakan oleh keadaan. Keponakan temanmu bersikap seperti itu karena sedari kecil hidup bergelimang harta. Berbeda dengan Al. Dia sudah harus memikirkan masalah hidup orang dewasa diusianya yang masih kecil. Bagiku itulah yang membuat dia berbeda."


Matt mengangguk. "Kau benar juga. Aku selalu melupakan fakta kalau dia anak jalanan karena fisiknya yang terlihat seperti anak orang kaya. Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir." Matt setengah berlari meninggalkan Emma dan mulai mendekati Aldrich.


"Kak Matt! Lihat! Wajahnya mirip denganmu!"


"Kamu mengataiku mirip anjing?"


"Astaga aku tidak bilang begitu loh. Apa kak Matt merasa seperti berkaca melihat ini?"


Emma terdiam menatap Aldrich dan Matt yang saling bercanda dengan patung Komainu.


Sebenarnya... Aku juga merasa Al aneh. Cara bicaranya seolah tahu tentang apapun. Dan aku pernah melihatnya membaca buku tentang bisnis saat di perpustakaan, tapi saat kutanya, dia bilang sedang baca buku dongeng. Kenapa dia berbohong? Mungkin saja dia hanya anak kecil yang haus akan ilmu pengetahuan.


Tapi perasaanku mengatakan kalau dia memiliki niat lain. Apapun itu, selama Al belum bercerita apa-apa, aku tidak akan mencari tahu. Karena jika saatnya tiba, dia pasti akan cerita sendiri.


"Kak Emma!!! Kata kak Matt kalau kak Emma jalannya lambat akan ditinggal loh." Teriak Aldrich sambil melambaikan tangan pada Emma.


"Kapan aku bilang begitu?!"


Emma tersenyum dan berlari mendekati mereka. "Awas kau ya!!!"


Aku yakin... Al tidak bermaksud jahat.

__ADS_1


__ADS_2