Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Floryn dan Banana


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari ini adalah jadwal kepulangan Aldrich dan yang lain. Pagi-pagi sekali Aldrich sudah terbangun berkat kebiasaannya dari dulu. Ia melirik kanan kiri yang memperlihatkan penghuni kasur di dekatnya masih tertidur lelap.


Kamar itu memiliki dua kasur. Satu kasur besar yang ditempati Emma dan Ruri. Lalu sisanya kasur untuk satu orang yang hanya dipakai oleh Aldrich.


Tiba-tiba kepikiran minuman kaleng di lobby hotel. Semua di dalam mesin itu adalah minuman berwarna kuning. Jadi ingin coba.


Aldrich menorogoh saku celananya untuk mencari uang koin. Saat hari pertama sampai di hotel, Emma memberikannya uang untuk dipakai membeli cemilan sendiri. Tapi Aldrich belum menggunakannya sepeserpun. Alhasil uang itu masih utuh.


Beli minuman pakai ini ah.


Aldrich mengambil jaket hangat yang baru dibelikan oleh Emma, lalu berjalan keluar kamar. Ia menuju lobby hotel yang memang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah sampai di depan mesin minuman, Aldrich terdiam sebentar untuk memilih rasa minuman yang akan dibelinya.


Lemon Honey sepertinya enak.


Setelah menentukan pesanannya, Aldrich segera membeli minuman itu. Ia sebenarnya tidak tahu cara mengoprasikan mesin ini. Tapi untung saja sebelumnya ia pernah melihat kekasih gelap Sylvia membeli minuman kaleng. Dan seperti biasa, Aldrich bisa mengingatnya hanya dalam satu kali lihat.


Klontang!


Setelah pesanannya muncul, Aldrich segera mengambilnya. Ia cukup puas karena bisa memakai mesin itu, yang ternyata tidak terlalu susah.


Saat Aldrich hendak kembali, ternyata ada seseorang yang berdiri dibelakangnya.


Duk!


"I'm sorry-" Kata-kata Aldrich setetika terpotong saat melihat siapa yang ia tabrak.


"Bocah!"


"Paman Wayne? Kenapa paman bisa disini?"


Cih! Dia memanggilku paman lagi. Kalau aku mengajaknya debat, yang ada malah aku malu sendiri.


Wayne tersenyum sinis, sambil melihat Aldrich penuh dendam. Ia sebenarnya datang untuk membantu Emma pulang sekaligus mengatakan masalah perusahaan. Tapi saat sampai di lobby, ia melihat Aldrich dan ingin berdebat dengannya sebentar. "Memangnya tempat ini milik nenekmu? Yang setiap orang lalu lalang harus ijin padamu? Oh iya lupa, nenekmu pasti juga sama gelandangannya seperti dirimu kan? Menjijikkan."


Aldrich hanya menatap Wayne santai. "Paman ini sudah tua sampai pikun ya? Bukankah sebelumnya aku sudah bilang? Kalau mau bicara itu langsung ke intinya. Namanya to the point. Bukannya bicara bertele-tele sampai membahas nenek segala. Kenapa tidak sekalian membahas ilmu Paleontologi?"


(Ps : Paleontologi itu ilmu yang membahas sejarah kehidupan yang pernah ada di bumi, seperti fosil. Lebih jelasnya bisa cari di mbah google.)


Bocah ini selalu membuatku muak. Sok pintar sekali bicaranya. Otak hanya sebiji kacang tapi berani menceramahiku.


Perhatian Wayne tiba-tiba teralihkan pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Aldrich.


Eh? Itu kan jam tangan keluaran terbaru dari brand kesukaan nona Emma. Setauku mereka membuat jam tangan anak limited edition yang hanya ada 50 di dunia. Cih! Kenapa perempuan itu bodoh sekali? Memberikan barang mewah pada anak gelandangan seperti dia.


"Tidak jadi bicara? Ya sudah. Permisi paman." Aldrich hendak pergi, tapi tangannya tiba-tiba ditahan oleh Wayne.


"Kembalikan jam tangan ini padaku." Wayne menunjuk jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan Aldrich.


"Hah? Kenapa aku harus mengembalikannya pada paman? Bukan paman yang memberikannya padaku, dan aku juga tidak mengambilnya sampai harus dikembalikan. Ini pemberian kak Emma. Kalau paman benar-benar menginginkannya, bilang dulu sama kak Emma."


Sial! Kenapa anak ini begitu menyebalkan?


"Pokoknya kem-"


"Kakak!" Tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun berlari mendekati Aldrich dan Wayne yang sedang berdebat.


"Eh? Ya?" Aldrich tersenyum melihat anak itu. Ia membangun imej baik setelah hampir emosi dengan Wayne.

__ADS_1


"Tolong, ada kucing masuk selokan. Aku tidak tahu mau minta tolong sama siapa. Orang-orang bicara dengan bahasa Inggris, aku tidak begitu lancar. Untung saja kakak dan paman bicara dengan bahasa yang sama denganku." Anak perempuan itu hampir menangis saat mengatakannya.


Aldrich dan Wayne saling lirik. Seolah paham dengan situasi, Wayne melepaskan tangan Aldrich sambil berdeham.


Tunggu... Selokan? Aku bisa memakai kesempatan ini untuk mengambil jam tangan anak gelandangan ini. Lalu menjalankan rencanaku.


"Baiklah. Kakak akan membantumu. Dimana kucingnya?" Aldrich mengusap kepala anak perempuan itu sambil tersenyum.


"Disana kak." Anak itu memimpin jalan. Aldrich dan Wayne mengikutinya dari belakang.


Kenapa paman Wayne ikut? Apa dia menginginkan sesuatu? Jangan-jangan jam tanganku?


Aldrich mengikuti anak perempuan itu sampai keluar hotel. Kemudian dia menunjuk sebuah selokan yang cukup besar mengitari hotel. Sepertinya selokan itu baru selesai dibersihkan, tapi orang yang membersihkan lupa menutup salah satu penutupnya, sehingga kucing itu bisa jatuh terperosok.


Meong~


Aldrich mendengar suara kucing dari dalam sana. Lalu melirik si anak kecil sebelumnya. "Dia terjebak dari kapan?"


"Tidak tahu kak. Tapi kemarin masih ada di sekitaran hotel kok."


"Namamu siapa bocah?" Tanya Wayne yang merasa tidak asing saat melihat anak perempuan itu.


"Namaku Floryn, paman. Orang-orang memanggilku Flo."


Floryn? Namanya sama seperti anak pengusaha tambang berlian. Setauku dulu tuan Cassius pernah menghadiahkan box bayi untuk keluarga pengusaha itu. Jadi anaknya sudah sebesar ini? Aku lupa nama keluarganya.


"Paman Wayne, bisakah paman turun untuk mengambil kucingnya? Aku sudah melihat kepalanya. Dia ada dibawah dan tidak lari kemana-mana." Ucap Aldrich sambil menunjuk lubang selokan di bawahnya.


Wayne menatap jijik kearah yang ditunjuk Aldrich, "ck! Kenapa bukan kau saja yang turun? Bukannya, kau sudah sering berkubang di tempat seperti itu. Hidup juga selalu di tempat yang menjijikkan. Jangan sok bersih, setelah beberapa hari hidup dimanja."


"Paman, kenapa bicaranya kasar sekali pada kakak?" Kata Floryn sambil menatap Wayne.


Aldrich tersenyum sambil menepuk bahu Floryn. "Sudah, jangan hiraukan dia Flo. Sekarang kamu bisa melihat sendiri kan? Mana orang yang beradab?"


"Aku akan turun. Apa kamu punya sesuatu yang bisa menyala?" Tanya Aldrich pada Floryn, sambil menghiraukan Wayne.


"Ini kak. Aku punya gelang yang bisa menyala dalam gelap." Floryn melepas gelang di tangannya, dan memasangnya pada pergelangan tangan Aldrich.


"Eh eh bentar!" Wayne tiba-tiba menghentikan kegiatan dua anak itu. "Jam tangan dari nona Emma, sini! Nanti kotor. Apa kau mau dimarahi dia hah? Nona Emma itu pecinta kerapian dan kebersihan."


Aldrich tentu saja tidak bisa ditipu semudah itu. Meskipun memang baru beberapa minggu ia mengenal Emma, tapi Aldrich tahu kalau Emma bukan orang yang seperti itu. Dia sangat baik meskipun sedikit aneh.


Kenapa orang ini begitu menginginkan jam tanganku? Kalau dia benar-benar ingin mengambilnya, apa tidak takut dimarahi kak Emma? Atau jangan-jangan dia memiliki maksud lain?


Sebenarnya, aku tidak ingin terlihat bodoh di depan tokoh antagonis satu ini. Tapi... Aku penasaran dengan rencananya.


"Baiklah. Ini paman." Aldrich melepas jam tangan itu dan memberikannya pada Wayne.


Aldrich tersenyum. Apapun yang terjadi, aku akan membuat kak Emma melihat sisi burukmu.


Setelah menyerahkan jam tangannya, Aldrich turun perlahan ke selokan yang berisi kucing. Meskipun itu cukup dalam, tapi ia bisa turun dengan mulus setelah berpegang pada dinding-dinding selokan.


Siapa sangka, selokan itu cukup dalam. Tingginya bahkan melebihi Aldrich. Tapi untung saja itu hanya 5 cm lebih tinggi.


"Ini dia." Kata Aldrich sambil menyerahkan kucing itu dari bawah, dan Floryn langsung memeluknya dengan haru.


"Akhirnya Banana bisa selamat."


"Itu kucingmu?"

__ADS_1


"Bukan kak, ini kucing liar. Aku bertemu dengannya saat baru sampai di hotel. Dia sangat lucu, aku menamainya banana. Karena warna bulunya kuning."


"Haha bukannya itu coklat?"


Floryn menggembungkan pipinya dengan kesal. "Ini kuning!"


"Baiklah kuning. Kamu senang sekarang?"


"Senang! Terimakasih kakak. Ayo kak cepat naik. Nanti ada badut menyeramkan yang akan menarikmu ke dalam selokan."


(Ps : Floryn bercerita mengenai film "IT" Yang menceritakan tentang makhluk seperti badut yang tinggal di gorong-gorong, dan suka makan anak kecil.)


"Badut tidak mungkin ada disini." Ucap Aldrich sambil keluar dengan mudahnya.


"Oh iya, nama kakak siapa?" Tanya Floryn.


"Aldrich."


"Aduh susah sekali. Aku panggilnya kak Al saja ya?"


Kenapa dia seperti kak Emma? Kenapa tidak memanggilku Rich saja? Kan lumayan jadi doa. Siapa tahu bisa Rich beneran.


"Eh? Paman tadi kok hilang ya?" Floryn celingukan. Ia juga tidak sadar saat Wayne pergi.


"Abaikan saja, dia memang seperti itu." Aldrich menepuk-nepuk bajunya sambil mencoba menghilangkan noda kotor yang menempel di jaket barunya.


"Maaf ya kak. Jaket kakak jadi kotor."


"Tidak apa-apa." Aldrich menggeleng.


"Oh iya. Mau makan es krim? Jam segini sudah buka loh. Kemarin aku sama mama beli disana. Enak. Kebetulan aku bawa uang dikasih papah." Floryn memperlihatkan uang dari saku roknya.


Aldrich sedikit tidak yakin. Wayne jelas memiliki maksud tertentu dengan mengambil jam tangannya. Ia ingin segera melihat motifnya melakukan itu. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan anak perempuan itu sendirian.


"Pulang saja yuk. Jajannya kan bisa sama mama kamu. Nanti kalau dicari papa bagaimana?"


"Mama baru itu jahat. Kemarin ngajak aku makan es krim karena ada papa. Kalau papa tidak ada, dia sering memarahiku. Dan papa juga kerja terus, jadi aku tidak ada teman."


Mendengar penjelasan Floryn, Aldrich langsung paham situasinya. Ternyata ibu tiri. Kasihan juga sih. Untung saja kak Emma tidak seperti itu.


Aldrich menghela nafas pelan, lalu mengangguk. "Baiklah, ayo kita beli es krim."


"Horeee!!!"



Tok! Tok! Tok!


Setelah Wayne mengetuk pintu kamar berulang kali, akhirnya si penghuni membuka pintu. Emma terlihat baru bangun dengan penampilan yang acak-acakan, bekas air liur pun masih terlihat di pipinya.


"Ah? Wayne toh. Ngapain?" Tanya Emma sambil menggaruk ketiak dengan keadaan mengantuk.


"Nona, kita harus pulang sekarang."


"Hais... Kan jadwal pulangnya sore. Kenapa kau mengganguku sekarang? Tahu tidak? Aku sedang mimpi naik unicron, dan dia membawaku ke dunia ayam goreng. Gara-gara kau, semua ayam gorengnya rontok."


Hah? Lalu aku harus minta maaf karena mengganggu mimpi ayam gorengnya? Dasar aneh!


"Kita harus kembali sekarang nona."

__ADS_1


"Ck! Iya iya berisik. Aku mau bangunin Ruri dulu. Dia jatuh dari tempat tidur dan gelesotan di lantai."


"Oh iya nona. Aldrich tadi sudah pulang duluan. Saya yang mengantarnya ke bandara tadi. Katanya, dia memimpikan ibunya dan menangis memohon pada saya untuk diantar pulang. Sekarang mungkin dia sudah bertemu tuan Ron di bandara." Wayne tersenyum lebar saat mengatakannya.


__ADS_2