
Emma sudah sampai di dekat rumahnya. Sekarang hampir tengah malam. Perjalanan dari panti sampai ke rumah cukup jauh karena letak panti asuhan yang berada di pinggiran kota.
Tiba-tiba dari jauh, Emma melihat seseorang yang berdiri didepan pagar rumahnya. Saat terkena sorot lampu mobilnya, barulah terlihat jelas kalau sosok itu adalah Aldrich.
Emma memberhentikan mobilnya. Mereka saling menatap beberapa saat. Ekspresi wajah Aldrich terlihat serius, membuatnya semakin tidak mirip dengan anak usia 10 tahun pada umumnya. Itu adalah kali pertama Emma melihat ekspresi yang bergitu ambius dan mengintimidasi dari Aldrich.
"Tidak tidur Al?" Tanya Emma sambil turun dari mobil. Ia mencoba tersenyum seperti biasa.
"Kak Emma sudah tahu kan?" Aldrich langsung membahas inti masalah, membuat Emma sedikit terkejut dengan itu.
"Ya sudah tahu."
Aldrich mengangguk pelan. "Kalau begitu, aku akan pergi sekarang."
"Pergi? Pergi kemana?" Emma kebingungan saat Aldrich tiba-tiba menenteng sebuah tas.
"Pergi dari rumah ini. Tujuanku sudah terpenuhi, dan untuk melangkah lebih jauh lagi, sangat sulit kalau tetap disini."
Emma menggeleng, dan menahan tangan Aldrich. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
"Kenapa? Seharusnya kak Emma tahu kan kalau aku hanya numpang tinggal untuk mencari informasi soal keluarga Hamilton. Aku hanya memanfaatkan kakak. Sekarang waktunya aku melawan mereka. Apa kak Emma tidak takut terkena imbasnya?"
Emma tidak bisa menjawab. Di satu sisi ia ingin melindungi Aldrich dan menjadi tameng untuknya melawan keluarga Hamilton. Tapi disisi lain, jika bisnis ini hancur, apa yang akan ia katakan pada mendiang ayah angkatnya?
"Rose Group bukan milik kakak. Jika hilang, apakah tidak masalah? Kerja keras kak Emma mengembangkannya bertahun-tahun akan sia-sia, dan pengorbanan tuan Cassius sampai mengangkat anak agar bisnisnya bisa terus berlanjut, juga akan percuma. Jadi? Masih mau mempertahankanku?"
__ADS_1
Aldrich melepaskan tangan Emma yang menahannya. "Terimakasih untuk semua yang kakak berikan padaku selama ini, aku sangat senang. Suatu hari nanti, aku akan mengganti semuanya. Selamat tinggal"
Dengan langkah berat, Aldrich berjalan meninggalkan Emma. Sorot lampu mobil yang menerangi jalan gelapnya membuat hatinya semakin sakit. Sejak Emma pergi tadi, ia terus memikirkan ini. Tentang kapan ia harus pergi? Dan kenapa harus tinggal? Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk pergi sekarang. Sebelum keluarga Hamilton bertindak lebih jauh lagi.
"Tunggu!!!"
Emma tiba-tiba berteriak. Aldrich sepontan menoleh kearahnya.
"Kamu pikir aku tidak bisa melakukan keduanya?" Emma berjalan mendekati Aldrich dengan emosi. "Mungkin kamu lupa siapa aku. Aku adalah Emma Rosaline, yang bisa melakukan keduanya. Melindungimu, dan melindungi Rose Group. Memangnya keluarga Hamilton itu siapa? Mereka tidak bisa membuatku takut sedikitpun."
Aldrich terus menatap Emma. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan perempuan di depannya ini. Emma memang aneh, tapi kali ini lebih aneh. Apa dia tidak tahu betapa berkuasanya keluarga Hamilton? Kenapa berani sekali menerima serangan dari mereka?
"Jadi, jangan pergi oke?" Emma berjongkok di depan Aldrich, lalu memeluknya. "Apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan saja. Sisanya, aku yang urus. Ini bukan memanjakanmu, tapi bentuk rasa sayangku. Meskipun aku terluka, itu tidak masalah. Yang terpenting, kamu tetap disini untuk menyemangatiku."
Bolehkah?
"Memangnya boleh? Aku meminta bantuan kakak?" Air mata Aldrich tiba-tiba menetes. Padahal ia tidak sedang bersedih. Kenapa malah menangis?
"Kamu bicara apa? Tentu saja boleh." Emma melepaskan pelukannya, lalu mengusap kepala Aldrich pelan. "Tapi janji satu hal padaku."
"Janji?"
"Janji jangan tinggalkan aku." Emma menyodorkan jari kelingkingnya pada Aldrich, dan meskipun ragu anak laki-laki itu akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya.
"Aku janji."
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita tunjukkan pada keluarga Hamilton iblis itu bagaimana mengerikannya kita."
"Ya."
◌
Emma duduk di samping Aldrich yang melamun di meja makan.
"Tidak ingin tidur?" Tanya Emma sambil makan sup ayam yang dimasak Ron untuk makan malam.
"Tidak minat." Jawab Aldrich singkat.
"Oh iya. Bagaimana kamu tahu kalau aku tadi pergi untuk mencari informasi?"
"Paman Darma bilang, kakak pergi ke pantai. Meskipun biasanya kak Emma memang melakukan hal random, tapi tidak akan seaneh itu. Menurutku, paman Darma salah dengar. Lalu kata yang hampir mirip itu panti. Jadi pasti pergi ke panti."
"Ya ampun, padahal aku jelas-jelas mengatakan panti, kenapa bisa jadi pantai? Hahaha." Emma menyendok sup nya, dan kembali bertanya. "Trus kenapa kamu tahu kalau di panti asuhanku ada informasi?"
"Aku masih ingat saat kak Emma pertama kali mengunjungi makam ibuku. Ekspresi kakak terlihat bingung setelah membaca nama di batu nisannya. Seperti orang yang terkejut, tapi melupakan sesuatu. Aku menebak kalau kak Emma pernah membaca namanya di suatu tempat. Jadi, tadi saat tahu kak Emma pergi ke panti asuhan, pasti ada hubungannya. Karena ibuku berasal dari panti asuhan yang sama dengan kakak."
"Kamu tahu, kalau panti asuhan kami sama?"
Aldrich mengangguk. "Lewat bros bunga teratai di foto yang kakak pajang."
"Oh yang itu." Emma tersenyum lalu kembali mengusap kepala Aldrich. "Setelah ini, kita tidak akan terpisahkan."
__ADS_1