
Keesokan harinya.
Perpustakaan besar milik Emma sudah disulap menjadi ruang rapat dadakan. Sekarang mereka sedang berkumpul untuk membahas konferensi pers yang Aldrich usulkan kemarin.
"Apa kalian sudah lihat beritanya? Aku membaca ini tadi pagi." Matt menaruh sebuah tablet ditengah meja yang memperlihatkan berita terbaru. Judul 'Yelena Mengalami Masa Kritis' terlihat disana.
"Wow kena azab." Komentar Ezra.
"Padahal seharusnya dia baik-baik saja. Penyakitnya tidak terlalu parah saat terakhir kali kita bertemu." Korn ikut membaca berita itu.
"Apa ini cuma akal-akalannya? Siapa tahu sebuah rencana busuk lain?" Ivan menatap teman-temannya untuk mendengar pendapat mereka.
"Tidak. Itu asli." Tubuh Aldrich yang kecil keluar dari balik meja. "Dia benar-benar sakit."
Emma diam-diam melirik Aldrich dengan curiga.
"Benarkah? Tapi aku bersumpah terakhir kali bertemu dengannya masih baik-baik saja. Bahkan bisa memarahi dan mengusirku. Bagaimana bisa tiba-tiba kritis?" Korn kembali bicara.
Aldrich tersenyum dan naik keatas kursi untuk duduk. "Anggap saja dia syok setelah mendengar semua bidak caturnya sudah kuambil." Aldrich kemudian melipat tangannya seperti boss yang sedang memimpin rapat. "Tapi sekarang itu tidak penting, dan sangat membuang-buang waktu jika dibahas. Masalah terpenting sekarang adalah konferensi pers. Kapan itu diadakan?" Aldrich melihat Matt.
"Besok. Aku sudah mengatur semuanya." Kata Ryker yang berdiri dibelakang Matt.
Aldrich mengangguk dan kembali menatap satu persatu orang yang ada disana. "Kak Jagung berlatihlah untuk terlihat menyedihkan saat pertemuan besok, dan bilang kalau kau dipaksa untuk memotret kak Emma demi berita palsu itu. Sedangkan paman Ivan, persiapkan obat tetes mata, dan pura-puralah menangis saat mengatakan masalahmu. Bilang saja keluarga Hamilton akan membunuh nenekmu jika tidak mematuhi mereka. Seorang laki-laki yang memiliki tubuh berotot dan menangis biasanya akan sangat dipercaya. Kalian harus melakukannya atau hukum yang akan menjerat kalian. Untuk sementara, mungkin kalian akan dianggap sebagai korban pemaksaan."
"Itu saja untuk sekarang. Aku mau pergi dulu." Aldrich turun dari kursinya, dan berjalan menjauh.
"Tunggu sebentar, apa cuma aku yang merasa aneh dengan rencana itu?" Ucap Ezra yang membuat orang-orang ikut berpikir.
"Tunggu Al!" Emma berlari keluar perpustakaan mengejar Aldrich, dan entah kenapa Matt sepontan mengikutinya.
Mereka sampai di halaman belakang tempat Aldrich berhenti setelah mendengar panggilan Emma. "Kenapa kak?"
"Aku tidak setuju dengan rencana tadi!"
__ADS_1
"Huh? Kenapa?" Aldrich menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Itu sangat keterlaluan!"
"Keterlaluan?"
"Meskipun Korn memang diancam menggunakan Sylvia, tapi dia tidak dipaksa memotret. Kerjasamanya dengan nyonya Yelena dibuat secara sadar oleh dirinya sendiri loh. Untuk Ivan, neneknya juga tidak diancam dibunuh. Selama bertahun-tahun keluarga Hamilton benar-benar membayar biaya pengobatan neneknya dengan baik. Ancaman bagi Ivan hanya dilakukan saat ini." Matt yang berada disamping Emma mengangguk membenarkan perkataan perempuan itu.
Emma berjalan mendekati Aldrich. "Kenapa kamu begitu ingin keluarga Hamilton dipandang buruk?"
Aldrich menarik sudut bibirnya dan menatap Emma tajam. "Bukankah mereka memang buruk? Aku hanya menambahkan sedikit bumbu saja. Seharusnya itu tidak masalah kan? Malahan sekarang aku masih bersikap baik." Setelah berkata begitu, Aldrich pergi keluar area rumah dengan santainya.
"Tunggu!" Emma hendak mengejarnya, tapi Matt menghalangi.
"Jangan. Biarkan saja dia." Ucap Matt sambil memegang tangan Emma.
"Tapi dia keterlaluan!"
"Tetap saja seharusnya berpikir rasional."
Matt mengangguk lemah dan menatap Emma. "Jika kau berada diposisi Aldrich, pasti akan kehilangan kendali juga. Bayangkan saja, selama bertahun-tahun ditengah ketidaktahuannya, ternyata sedang ditindas oleh sekelompok orang berpengaruh sampai membuat orang tuanya meninggal. Dia pasti juga sedih karena terlambat mengerti, yang mengakibatkan kebenciannya semakin besar. Apalagi sekarang dia memiliki kesempatan untuk membalas. Pastilah akan dilakukan sekejam mungkin."
"Aku paham. Dia sekarang sedang balas dendam." Emma menunduk lesu. "Tapi ini benar-benar keterlaluan. Menurutku, nyonya Yelena yang sedang kritis itu juga karena Al. Meskipun aku tidak tahu kenapa bisa begitu."
"Hm? Nenekku yang kritis karena Aldrich?"
"Itu hanya menurutku. Karena tadi dia yakin sekali kalau nyonya Yelena benar-benar kritis. Padahal Korn sudah menceritakan pengalaman terakhirnya bertemu Yelena yang sedang baik-baik saja. Normalnya, Al yang sangat waspada itu akan curiga sama seperti Korn, dan akan menganggap berita itu palsu. Tapi dia sangat yakin dan santai seolah sudah tahu akan jadi begini."
Matt begidik ngeri. "Bukankah itu sangat menakutkan? Aldrich benar-benar tidak bisa ditebak. Mungkin dia sudah menyiapkan rencana lain."
"Semalam saat aku pergi ke dapur untuk minum, aku melihatnya keluar rumah diam-diam. Jujur saja aku tidak berani mengikutinya saat itu, karena Al sangat peka terhadap sekitar. Jadi aku hanya melihat kemana dia pergi dari lantai atas."
"Apa yang kau lihat?" Matt ikut penasaran.
__ADS_1
"Al bertemu dengan teman-teman premannya. Lalu dia seperti memberikan arahan pada mereka untuk melakukan sesuatu, sambil menyerahkan sebuah benda aneh yang tidak terlihat olehku."
"Apakah itu ada hubungannya dengan membalas dendam untuk keluargaku?"
"Itu pasti. Aku harus menghentikan dia." Emma dengan mantap melihat kearah Aldrich pergi.
"Kenapa? Dia tidak bisa dihentikan sekarang. Pastinya Aldrich akan membalas semua yang keluargaku lakukan dulu."
Emma menggeleng. "Aku ingin bilang kalau balas dendam tidak akan membuatnya lega. Itu hanya akan menambah panjang rantai kebencian. Pasti setelah keluarga Hamilton hancur, dia akan balas dendam juga kepada orang lain yang tidak ada kaitannya. Mungkin orang-orang yang membantu keluarga Hamilton. Itu tidak akan ada habisnya! Jadi aku harus menghentikannya sebelum terlambat."
"Apa kita bisa? Dia baru saja pergi entah kemana."
"Itu karena kau tadi menghalangiku, bodoh!" Emma menjitak kepala Matt dengan keras.
"Sakit tahu! Apa kau selalu kasar begini pada laki-laki?" Matt mengusap kepalanya yang malang.
"Tidak. Aku hanya kasar padamu."
Matt terkejut. Apakah itu berarti aku spesial?
"Percuma mengejar Al sekarang. Kita tidak tahu kemana dia akan pergi. Apakah kau punya ide?" Emma melipat tangannya sambil menatap Matt.
"Hmmm... Menurut otak bodohku, dia akan menemui nenekku."
Emma mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. "Hah? Kenapa dia kesana?"
"Tentu saja untuk memastikan keadaannya. Bukankah tadi Aldrich bilang kalau dia masih terlalu baik? Mungkin saja dia akan menambah suasana menjadi lebih buruk lagi?"
◌
Ria baru saja ingin kembali ke ruang rawat Yelena setelah mengganti air di vas bunga, tapi seketika ia terdiam saat melihat seorang anak kecil berdiri di depan ruangan Yelena.
"Kerja bagus tante Ria." Ucap Aldrich dengan senyum tipisnya.
__ADS_1