
Keesokan harinya.
Aldrich baru saja selesai mengunjungi makam sang ibu. Ia berjalan kearah mobilnya yang terparkir.
"Kenapa kau ikut mengunjungi makam ibuku segala?" Tanya Aldrich sambil melirik kearah Chris di sampingnya.
"Habisnya bosan di rumah sendirian. Teman-temanku pergi ke diskotik semua. Kak Al sih tidak mau memberiku uang buat pergi ke diskotik. Padahal uangmu kan banyak. Kudengar namamu sudah masuk ke jajaran 50 orang terkaya di dunia."
"Aku akan memberikan uang padamu, tapi tidak untuk ke tempat seperti itu."
"Ah membosankan! Kak Al membosankan! Rumah besar tapi tidak ada asisten jadi melakukan semuanya sendiri, tidak pernah pergi liburan, tidak punya pacar pula. Aku prihatin dengan hidupmu yang membosankan."
Aldrich menatap Chris dengan ekspresi serius. "Kau lama-lama mirip dengan Ezra. Dan apa kau ingin bernasib sama sepertinya?"
"Ti-tidak kak."
__ADS_1
"Kubuang ke luar kota untuk mengurusi bisnis cabangku disana sepertinya cocok untukmu."
Chris menelan ludahnya dengan takut. Ia tidak ingin di buang ke luar kota juga. Kakaknya ini sangat tegas dan terkenal tidak pernah main-main dengan ucapannya. Bisa gawat kalau ia benar-benar dibuang.
"Ayo kita pergi. Aku ada acara." Aldrich memasuki mobilnya diikuti Chris.
Mobil melaju dengan Aldrich sebagai pengemudinya. Meski baru saja mendapat SIM, Aldrich sudah mahir membawa mobil. Itulah kenapa Emma tenang saja membiarkan Aldrich hidup mandiri. Karena ia mudah mengerti dan cepat menyesuaikan diri.
Ckiiit!!!
Aldrich mengerem mendadak. Membuat Chris yang tadinya mengantuk harus terbangun dengan paksa karena kepalanya terbentur dasbor.
"Aku menabrak orang."
Chris terkejut. "Apa?! Serius? Bukankah kau selalu mengemudi dengan baik?"
__ADS_1
"Tunggu sebentar." Aldrich melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Ia yakin kalau orang yang ia tabrak masih ada di depan mobilnya. Tapi itu semua bukan salahnya. Orang itulah yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan, membuatnya harus mengerem mendadak.
Seorang perempuan dengan rambut panjang berjongkok di depan mobil Aldrich. Kedua tangannya memegang kepala dengan ketakutan. Mungkin ia juga terkejut dengan mobil yang hendak menabraknya. Untung saja Aldrich mengerem di saat yang tepat. Mobilnya belum menyentuh perempuan itu sama sekali.
"Permisi. Maaf, apakah kamu baik-baik saja?" Aldrich mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan itu bangun.
Perlahan perempuan yang memiliki rambut panjang menutupi wajahnya itu mendongak. Angin langsung berhembus menyibakkan rambut yang mengganggu pandangannya itu. Wajahnya mulai terlihat. Ia tersenyum dengan manis.
Aldrich terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang. "Kau... Floryn?"
Floryn berdiri dengan riang gembira. "Akhirnya kita bertemu lagi. Sesuai janjimu. Ayo kita menikah."
◌◌◌◌◌
Halo halo, disini Author. Terimakasih sekali sudah membaca novel ini sampai selesai. Dengan begini kisah Aldrich tamat. Terimakasih juga buat yang sudah like, komen, dan kasih hadiah yang banyak banget. Love u all💖
__ADS_1
Author kembali membuat novel baru hehehe. Bisa langsung dilihat di profil author ya (semoga udah ada🗿). Sengaja ga ditampilkan sinopsisnya disini biar pada mampir (strategi marketing🗿)
Oke see you guys👋😆