Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Mencari Tahu


__ADS_3

Lagi dan lagi, Aldrich dibuat terkesima dengan kemegahan rumah yang ia datangi ini. Hanya sekedar perpustakaan saja, memerlukan waktu yang lama untuk berjalan. Apalagi saat sampai di perpustakaannya, ruangan itu sangatlah luas. Langit-langitnya penuh ukiran, dan lampu gantung besar menghiasi tengah ruangan. Rak buku menjulang dengan tinggi, tiga kali lipat lebih tinggi dari tubuhnya, dan banyak buku tersumpal disana. Tempat bacanya pun meja kayu yang terlihat elegan pula. Benar-benar orang kaya.


"Banyak buku disini. Pilih saja." Ujar Ron sambil menunjuk banyaknya rak buku yang ada.


Aldrich mengangguk dan mulai berjalan menyusuri deretan rak buku. Ia pura-pura memilih buku dengan gambar hewan-hewan laut dan membukanya.


Dari balik buku itu, Aldrich mengintip Ron. Pria paruh baya itu nampak sedang berbincang dengan asisten rumah tangga. Sayup-sayup Aldrich mendengar tentang perintah membuat minuman dan makanan manis untuk anak-anak.


Melihat kesempatan emas itu, Aldrich berpindah ke rak buku lain yang tertulis business. Di sana ia melihat satu persatu judul buku dengan cepat. Ia takut kalau Ron tiba-tiba mencarinya sekarang.


Ambil yang mana ya? Ah sudahlah! Cap cip cup.


Aldrich segera mengambil salah satu buku dengan asal. Judulnya terdapat kata Ceo. Mungkin saja ada jawaban dari apa yang ia cari.


"Nak Aldrich."


"Waa!!!"


Ron tiba-tiba muncul di samping Aldrich. Hingga membuat bocah itu melompat karena terkejut.


"Ka-kakek."


"Kenapa cari bukunya sampai disini?" Ron terlihat bingung.


Sementara itu Aldrich buru-buru menyembunyikan buku yang baru saja ia ambil dibelakang tubuhnya.


"Aku mencari buku tentang paus lainnya. Ternyata disini tidak ada." Aldrich mengangkat buku hewan laut yang sebelumnya ia ambil untuk mengalihkan perhatian Ron.


"Oh, kalau buku paus memang cuma satu itu. Kamu suka paus?"


Aldrich mengangguk dengan kaku. Rasanya cukup menyesal karena membohongi orang tua seperti ini.


"Cuma ada itu. Tidak apa-apa? Atau mau kakek suruh pelayan lain untuk mencari buku paus lainnya di toko?" Tawar Ron.

__ADS_1


Aldrich segera menggeleng. Ia hanya asal bicara saja, tapi sudah mau melakukan banyak hal. Jika yang dibawa pulang oleh Emma adalah orang jahat, pasti orang jahat itu akan senang berada disini.


"Baiklah ayo baca disana. Kakek sudah menyuruh pelayan membuatkan cemilan untuk teman membaca." Ron berjalan mendahului Aldrich dan mengarah ke salah satu bangku di dekat jendela.


Aldrich duduk disana dengan patuh, lalu membuka buku tentang pausnya. Dibalik buku itu, Aldrich juga membuka buku yang ia ambil secara diam-diam. Agar tidak mencurigakan, bocah itu menaruh bukunya bak tembok penghalang.


"Kamu sangat mirip dengan cucu kakek." Ucap Ron sambil tersenyum menatap Aldrich.


"Benarkah? Tapi ingatan kakek sangat buruk. Katanya punya cucu yang mirip denganku, tapi tidak tahu apa yang disukai anak seusiaku." Kata Aldrich dengan nada imutnya.


"Haha benar juga." Ron mengusap kepala Aldrich dan kembali bicara. "Kakek hanya menemuinya setahun sekali. Dan itupun tidak lama. Saat pulang ke desa, kakek hanya membawakannya mainan. Sampai tidak terasa dia sudah tumbuh besar."


"Kakek perlu liburan."


"Tapi kakek tidak bisa meninggalkan nona Emma. Dia terlalu berharga."


Akhirnya Ron bercerita panjang lebar mengenai keluarganya di desa. Bahkan pembicaraan tentang hewan ternak menjadi topik hangat mereka. Tentang bagaimana mengurus bayi sapi, hingga bagaimana cara menyembelih sapi. Semua itu terdengar begitu seru ketika diceritakan.


Aldrich menggunakan kesempatan itu untuk membaca buku Ceo nya. Sesekali ia mengambil biskuit stroberi yang beberapa waktu lalu sudah disediakan oleh pelayan.


Banyak bahasa yang susah kumengerti. Apakah ini hanya bisa dipahami oleh pembisnis?


Sepertinya aku harus ganti buku.


Aldrich hendak mengganti bukunya, tapi sudut mata bocah kecil itu menangkap sebuah kalimat yang ia cari.


Metode tadi juga dipakai oleh keluarga Hamilton. Dimana keluarga itu sekarang menjadi orang terkaya di negara ini. Dengan salah satu anaknya yang menjadi Ceo, yaitu J-


"Al!!!!"


Teriakan Emma yang menggema, membuat Aldrich secara sepontan menutup buku ditangannya, lalu menaruh buku tentang paus diatasnya.


"Al! Ya ampun Al!" Akhirnya sosok yang tadinya hanya terdengar suaranya muncul. Emma berlari kecil mendekati Aldrich dengan kedua tangan yang penuh dengan tas belanjaan.

__ADS_1


"Kakak." Aldrich tersenyum kearah Emma.


"Untunglah kamu masih disini." Emma dengan beringas menarik kedua pipi Aldrich. "Lihat! Kakak membelikan baju baru untukmu." Emma menunjuk semua barang bawaannya.


"Tapi Kakek sudah memberikanku baju baru."


"Kakek?" Emma menoleh kearah Ron yang masih senantiasa tidur tanpa terganggu dengan teriakan Emma. "Kakek ini?" Tunjuk Emma pada Ron, dan Aldrich mengangguk dengan wajah polos.


"Tidak apa-apa. Anggap saja ini tambahan." Emma menepuk bahu Aldrich dan kembali melihat kearah pintu perpustakaan. "Dan... Masih ada tambahan lain." Lanjutnya sambil tersenyum.


Aldrich ikut melihat kearah pintu perpustakaan. Ternyata disana terdapat Wayne yang memegang banyak kardus belanjaan dan beberapa tas belanja lain. Dirinya bahkan tidak bisa melihat, karena belanjaan Emma menggunung dan hampir menutupi seluruh wajahnya.


"Ah... Terimakasih." Aldrich bingung sekali bagaimana menanggapinya. Tapi karena ini pemberian Emma, maka ia akan menerimanya.


"Apa kamu sudah makan? Ron memberikan apa padamu?" Tanya Emma sambil sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajah mereka.


"Belum makan. Aku lebih suka membaca buku, dan sudah kenyang makan cemilan."


"Mana bisa kenyang makan yang seperti ini? Ayo, biar kakak buatkan makanan."


"Eh nona! Tidak usah, biar saya saja." Ron tiba-tiba terbangun dan menghalangi Emma pergi.


"Wah kenapa bisa terbangun?" Emma terkejut.


"Saya akan otomatis bangun jika mendeteksi adanya tragedi besar yang akan terjadi." Ron menggaruk kepalanya sambil tersenyum.


"Tragedi besar?" Tanya Aldrich bingung.


"Terakhir kali, nona membakar dapur hanya karena ingin masak mie instant."


"Kyaaaa Ron jangan katakan itu di depan Al." Emma langsung menutupi kedua telinga bocah yang sedang tersenyum karena sudah mendengar semuanya.


"Saya hanya tidak ingin merenovasi dapur lagi. Jadi, biar saya yang masak." Ron tersenyum geli sambil berjalan menjauh. Sementara Emma sudah kesal bukan main.

__ADS_1


__ADS_2