Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Bros Bunga Teratai


__ADS_3

Di salah satu restoran.


Emma dengan lahapnya memakan gundukan ayam goreng yang ia pesan dengan membabibuta. Ini saatnya memakan ayam gratis sepuasnya, jadi kesempatan langka ini akan ia gunakan semaksimal mungkin.


"Apa perutmu tidak sakit? Makan banyak begitu." Matt melirik piring Emma yang isinya bahkan hampir menutupi wajah si biang kerok.


"Kalau tidak habis tinggal dibawa pulang saja. Atau kau ingin membelikanku ayam lagi untuk dibawa pulang?"


"Hanya dalam mimpimu."


"Cih! Pelit!" Emma membuang muka, dan kembali melanjutkan aksi makan brutalnya.


"Kau mengataiku pelit setelah aku memberimu gunung ayam itu? Kalau begitu kembalikan sini!"


Mendengar itu Emma langsung menjilati semua ayam goreng di piringnya, lalu menyodorkannya pada Matt. "Tuh kubalikin."


"Dasar gila! Makan sana!"


"Haha kau kalah. Weeekkk!" Emma kembali makan sambil mengejek Matt.


Ya ampun, aku seperti nyamuk yang terabaikan disini.


Aldrich menatap donat di piringnya dengan bingung. Itu hanya tiga buah donat yang nampak biasa dengan hiasan krim dan stroberi, tapi harga yang tertera di menu lebih dari 50 ribu. Sebenarnya benda ajaib apa yang dimasukkan koki ke makanan ini?


Restoran gila, hanya tepung dan pengembang harganya sudah selangit. Aku bahkan bisa membuatnya sendiri. Dulu kalau tidak malas menunggu waktu proofing, aku juga berjualan donat. Sayangnya, waktu adalah uang. Jadi kalau tidak berangkat pagi untuk jualan, siapa yang mau beli?


"Kenapa? Tidak suka?" Matt menatap Aldrich penuh perhatian. "Atau mau pesan yang lain?"


Aldrich menggeleng. "Tidak kak."


"Lalu kenapa tidak dimakan? Kamu tadi cuma lihatin donatnya."


"Atau mau ayam saja? Sini kusuapin." Emma menyodorkan satu paha ayam pada Aldrich.


Matt seketika menghalangi. "Kau gila? Semuanya sudah kau jilat!"


"Oh iya ya. Cepat pesankan yang baru untuk Al."

__ADS_1


"Oke."


"Tidak usah. Benar-benar tidak apa-apa kok. Hanya saja hiasannya lucu sekali, jadi sayang untuk dimakan."


Matt mengambil piring berisi donat milik Aldrich, lalu mengacak-acak semua hiasan disana dengan garpu yang dibawanya. "Nah sudah hilang, ayo dimakan." Akhirnya piring itu kembali pada Aldrich dengan krim dan stroberi yang sudah tidak berbentuk lagi.


Ga gitu juga konsepnya.


"Jadi terlihat lebih lezat. Terimakasih kak Matt." Sindir Aldrich sembari mengambil salah satu donat dan memakannya.


"Sama-sama." Matt mengangguk dengan polosnya.



Setelah makan siang panjang itu. Matt mengantarkan Emma dan Aldrich kembali ke Rose Group, sementara dirinya ijin untuk pulang.


Saat berangkat tadi, Matt sebenarnya pergi bersama Ryker. Tapi Matt sengaja meninggalkan Ryker di tempat pertemuan dengan rekan bisnis, sementara ia kabur ke Rose Group. Dan apa yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak. Ryker menghujaninya pesan dan telpon.


Matt menepikan mobilnya di dekat seorang laki-laki berjas rapi dan berwajah datar. Meskipun sering tampil tanpa ekspresi, Ryker menunjukkan moodnya melalui kata-kata pedas andalannya.


Ryker mendekati mobil dan Matt menurunkan kaca jendelanya untuk mendengar kata-kata mutiara sobatnya itu.


"Siapa yang kau maksud janda muda anak satu? Sudahlah, kemari. Ambil alih kemudi, dan bawa aku menemui ayah." Matt hendak berganti tempat duduk, tapi Ryker buru-buru mengucapkan kata-kata mutiaranya lagi.


"Saya sapi. Tidak bisa mengemudi. Moo~"


Dia marah. Matt mengangguk paham. Ia sudah hafal sifat Ryker sejak mereka pertama bertemu.


"Baik, aku yang menyetir. Masuklah."


Hitung-hitung sebagai permintaan maafku.


Ryker masuk mobil tanpa menjawab perkataan Matt.


"Kau sudah makan, Ryker? Aku baru pulang dari restoran dan membawakanmu makanan. Mie lada hitam kesukaanmu."


"Sapi hanya makan rumput. Moo~"

__ADS_1


"Sampai kapan kau marah?!"



Rose Group.


Aldrich duduk dengan patuh di ruang kerja Emma. Tak jauh darinya, sang ibu angkat itu sedang fokus membaca sesuatu di komputer dan mencocokkannya dengan dokumen di tangannya.


Kenapa kak Emma terlihat sibuk sekali? Kak Matt saja bebas keluyuran seperti jalangkung. Datang tak diundang, pulang tak ditendang.


Setelah lelah duduk, Aldrich mulai tiduran dan berguling-guling diatas sofa.


Duk!


"Aduh!" Kepala Aldrich terbentur ujung meja di dekat sofa. Ia meringis kesakitan lalu melihat kearah Emma. Tapi ternyata perempuan itu masih fokus dengan berkas-berkasnya.


Tingkat konsentrasi yang menyeramkan. Kalau ada yang teriak kebakaran, kak Emma sadar tidak ya?


Tidak kapok, Aldrich kembali berguling-guling. Tapi kali ini ia tidak menabrak apapun, melainkan ia melihat sesuatu dari posisinya yang sedang jungkir balik sekarang.


Hm? Ada foto?


Terdapat sebuah foto ukuran medium yang diletakkan diatas rak meja kecil.


Karena penasaran, Aldrich mendekati foto itu untuk melihatnya lebih dekat. Ternyata itu adalah foto sebuah panti asuhan dengan banyak anak kecil serta beberapa orang dewasa. Tentu saja Emma juga berada disana dengan senyum lebarnya.


Eh? Itu kan...


Aldrich menyipitkan matanya untuk melihat salah satu benda di foto itu yang tidak terlalu jelas.


Benar sekali! Aku seperti pernah melihat bros bunga teratai yang sama seperti kakak dan ibu-ibu itu pakai.


"Sedang melihat apa Al?" Teriak Emma dari balik mejanya. Tapi seketika ia paham saat melihat apa yang dilakukan Aldrich. "Oh lihat foto keluargaku ya. Bagus tidak? Itu foto semua anak-anak panti."


Aldrich memberanikan diri untuk menggali informasi. "Bros bunga teratainya bagus ya."


"Eh? Kamu cukup jeli ya. Bros itu limited edition loh. Hanya dibuat oleh panti asuhanku, untuk diberikan pada anak yang sudah memasuki usia dewasa dan bisa hidup mandiri keluar dari panti asuhan."

__ADS_1


A-apa?! Tidak salah lagi! Ibu juga punya bros yang sama!!!


__ADS_2