
Cahaya yang sangat silau mengenai mata seorang anak laki-laki yang tengah tertidur pulas. Karena sinar itu, dia terbangun.
"Ugh, silau." Secara refleks Aldrich menutup matanya dengan tangan. Tapi saat membukanya lagi, ia melihat seseorang sedang tersenyum dengan ramah kearahnya.
Aldrich terkejut setengah mati. Karena orang itu adalah... Ibunya.
"Selamat pagi, sayang. Ayo bangun."
"I-ibu?!"
"Aldrich!!!"
Teriakan orang lain mengejutkan Aldrich. Ia benar-benar membuka matanya sekarang.
"Syukurlah kamu bangun juga Al."
Aldrich bingung. Ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan mana yang mimpi, dan mana yang nyata.
"Kakak?" Tanya Aldrich sambil menatap Emma.
"Iya ini aku." Emma mengangguk.
Dengan mata yang masih sayu, Aldrich mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ternyata ia sudah berada di kamar yang kemarin dipakainya untuk mandi.
Sejak kapan aku pindah kemari? Seingatku... Aku ketiduran saat menonton kartun di halaman belakang bersama kakak dan yang lainnya.
Aldrich memegang kepalanya yang tiba-tiba saja pusing. Ia memimpikan ibunya dengan sangat jelas. Sepertinya ini pertanda sesuatu.
Apa ibu ingin mengingatkanku agar secepat mungkin mencari keberadaan ayah?
Mimpi tadi terasa seperti nyata. Tapi ibu tidak pernah memanggilku dengan begitu lembut.
"Al!"
"Hm?" Aldrich berusaha tersenyum kearah perempuan di depannya sekarang. Ia bahkan sudah mengacuhkannya dari tadi. "Maaf kak. Aku sedikit-"
"Kamu baik-baik saja kan? Tadi kamu mengingau memanggil ibumu dengan suara yang keras sekali." Ekspresi khawatir Emma tidak bisa disembunyikan lagi.
"Ah itu... Aku baik-baik saja. Hanya sedikit merindukan ibu."
Aldrich yang juga tidak tahu kenapa ia bisa mengigau hanya bisa memberikan alasan yang logis.
"Tidak apa-apa, Al. Ibumu sudah bahagia di surga." Emma mengusap kepala Aldrich dengan lembut.
"Um!"
__ADS_1
Kamu benar kak. Tapi aku takut tidak bisa melaksanakan keinginan terakhir ibu.
Aldrich meremas tangannya dengan kesal.
Emma yang melihat itu berpikiran berbeda.
Apa dia sangat merindukan ibunya? Sampai memegang tangannya ketakutan. Duh, kira-kira apa yang harus kulakukan untuk menyenangkannya?
Biasanya anak 10 tahun itu suka apa? Mainan? Atau berenang di kolam?
"Al, hari ini kakak senggang. Enaknya kita main dimana ya?"
"Perpustakaan." Jawab Aldrich cepat. "Perpustakaan di rumah kakak hehe."
"Ha? Perpustakaan?" Emma menatap Aldrich dan kembali bertanya. "Serius perpustakaan?"
"Iya kak." Lagi-lagi senyuman polos dari Aldrich membuat Emma kalah.
"Oke kita akan baca banyak buku di perpustakaan. Tunggu ya, aku akan menyuruh Ron membuatkan cemilan."
Aldrich belum sempat menjawab, Emma sudah lebih dulu berlari kesetanan keluar kamar.
Sial, kenapa aku ketiduran? Padahal rencananya aku ingin ke perpustakaan pagi-pagi sekali. Supaya bisa baca sepuasnya. Aldrich bodoh!
◌
"Kak."
"Ya? Kenapa Al?" Tanya Emma tanpa melirik Aldrich.
"Kalau kakak sibuk. Tidak perlu menyempatkan diri menemaniku. Kakak bisa pergi ke kantor."
Emma akhirnya melepaskan pandangannya dari layar laptop dan melihat kearah Aldrich. "Justru karena ada kamu, pekerjaanku jadi terasa lebih ringan."
Dengan jawaban seperti itu Aldrich tidak bisa membalas. Ia hanya tersenyum sambil mengangguk.
Memangnya aku ini tim pemandu sorak yang bisa menyemangatinya bekerja?
Emma kembali mengetik, dan sesekali melihat isi dokumen satu per satu.
Aldrich yang melihat Emma semakin sibuk dan mulai mengabaikan keberadaannya, merasa ini waktunya untuk mencari buku tentang CEO kemarin.
"Cari buku lain ah." Ucap Aldrich sambil berdiri. Sesuai dugaannya, Emma tidak sadar, dia masih melihat dokumen dan laptop bergantian.
Oke sip! Cek sekitar dulu.
__ADS_1
Aldrich kembali celingukan. Disana tidak nampak sosok Ron atau pengurus rumah lainnya. Sementara Wayne, tadi sempat disuruh oleh Emma mengambil beberapa dokumen yang tertinggal di kantor.
Aman!
Aldrich mengarah ke rak buku bagian bisnis. Disana ia langsung menemukan buku yang kemarin dibacanya. Tanpa basa-basi Aldrich yang penasaran segera mencari halaman yang terakhir dibacanya. Ia yakin saat itu melihat kata CEO dan nama sebuah keluarga yang cukup berpengaruh.
"Nak Aldrich?"
"Waaa!!!"
Aldrich kembali dikejutkan dengan Ron yang tiba-tiba saja muncul. Kali ini laki-laki paruh baya itu muncul di belakang Aldrich.
"Ka-kakek sedang apa?"
"Oh ini baru saja memperbaiki buku yang rusak. Buku-buku yang sudah tua halamannya mudah lepas, jadi kakek menjahitnya. Nak Aldrich sendiri kenapa bisa berada dibagian ini?"
Aldrich diam sejenak mencari alasan. Ia sudah tertangkap basah sebelumnya, dan alasan yang sama tidak mungkin berhasil lagi kan?
"Eee... Itu kek..." Aldrich menggaruk kepalanya dengan frustasi. Sebenarnya apa fungsi otak pintarnya? Membuat alasan seperti ini saja susah sekali. "Itu, aku mencari kakek."
"Eh? Mencariku?"
"Ya." Aldrich mengangguk dengan mantap. "Aku ingin tanya, apa ada buku tentang kangguru? Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu. Saat ingin mencari kakek, aku penasaran dengan buku di rak ini, jadi lihat-lihat sebentar."
Ron melirik buku yang dibawa Aldrich. Ternyata itu buku yang kemarin ditemukan Ron bersama buku paus.
Sepertinya bukan kebetulan. Anak ini memang ingin membaca buku itu. Tapi kenapa? Memangnya dia paham?
"Begitu ya. Nanti kakek carikan. Sementara baca buku itu saja dulu." Usul Ron sambil menunjuk buku yang dibawa Aldrich.
"Baiklah kek."
Aku tidak menyangka kalau diperbolehkan membaca buku ini hehe.
Dengan gembira, Aldrich berjalan kembali mendekati Emma. Tidak sengaja matanya menangkap sebuah nama yang pernah dibacanya berada di salah satu berkas milik Emma.
Keluarga Hamilton.
Itu nama keluarga yang tertulis di buku ini juga. Apa aku bisa bertanya?
"Kak. Keluarga Hamilton itu apa?"
Emma menoleh kearah Aldrich, lalu mengerutkan keningnya. "Darimana kamu tahu itu Al?"
"Itu, ada disana." Aldrich berpura-pura polos sambil menunjuk dokumen Emma.
__ADS_1
"Lihat disini rupanya." Emma mengangguk. "Jadi keluarga Hamilton itu..."
Langsung dikasih tahu?!