
Beberapa jam kemudian.
"Wah jadi bersih." Aldrich menatap isi rumahnya yang sudah dibersihkan paket komplit oleh paman Tandha. Sementara dari tadi ia hanya melihat dari atas kasur tempat biasanya sang ibu tidur dulu.
"Paman ini sudah pro." Ucap paman Tandha sambil memukul dadanya dengan sombong.
"Seharusnya aku ikut membantu paman tadi. Sekarang aku terlihat seperti anak yang kurang ajar."
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja tidak. Kamu itu anak majikan, bawahan sepertikulah yang harus melakukannya." Paman Tandha mengusap kepala Aldrich sebentar, dan kembali bicara. "Kamu berbeda dari anak lainnya. Mana ada anak jaman sekarang yang seusiamu pergi sambil membawa buku?"
Aldrich hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh iya, untuk menemanimu belajar mau paman belikan cemilan? Atau minuman mungkin? Ah aku tahu! Bagaimana dengan makan siang?"
"Hmmm..." Aldrich mengusap dagunya sambil berpura-pura berpikir.
Aku harus mencari sesuatu di rumah. Akan lebih baik kalau paman Tandha pergi untuk waktu yang lama.
Sial, aku tidak tahu kalau akan ada orang di rumah ini.
"Aku ingin makan siang. Mungkin mie ayam enak juga."
"Wahh... Warung mie ayam jauh."
Aldrich pura-pura sedih. "Benarkah? Kalau begitu tidak usah. Yang lain saja-"
"Eit! Tidak apa-apa. Paman sepertinya butuh jalan jauh biar sekalian olahraga untuk kesehatan."
"Kalau begitu maaf merepotkan, paman."
Akhirnya paman Tandha pergi, dan Aldrich buru-buru menutup pintu rumahnya lagi. Tidak lupa ia menguncinya untuk mencegah hal sebelumnya terulang.
"Baiklah, sekarang cari."
Sebenarnya, Aldrich sudah mengetahui kalau sang ibu menyimpan kunci laci lemari itu dibawah bantal. Tapi saat ia kecil, keberanian untuk mengambilnya nol besar. Ditambah setelah ibunya meninggal, dia terlalu syok untuk sekedar mengambil benda-benda sang ibu. Lagipula awalnya ia tidak berpikir kalau rumah ini bisa menyimpan suatu bukti.
__ADS_1
Benar saja, kunci itu masih berada di bawah bantal. Untung saja paman Tandha baik dan tidak berniat menggeledah rumahnya. Tapi orang manapun yang melihat rumahnya seperti kandang ayam, tidak akan melakukannya. Rumah ini terlihat tidak memliki benda berharga.
Saat Aldrich memasukkan kunci itu, lagi-lagi jantungnya berdegup dengan kencang seperti saat ia ingin membuka laci Matt dulu.
"Tidak boleh pingsan!" Aldrich buru-buru meraih tasnya dan mengambil permen karet dari dalam. Ia mengunyahnya dengan cepat, membuat rasa manis dari permen karet itu membuatnya tenang.
Aldrich mulai memegang gagang laci itu, kemudian menariknya dengan cepat.
"Hah?!"
Pemandangan yang dilihat Aldrich sekarang hanyalah sebuah laci kosong tanpa isi.
"Bagaimana mungkin? Aku yakin ibu sering melihat dalamnya. Tapi kenapa tidak ada apa-apa disini?!" Aldrich menjambak rambutnya dengan kedua tangan, kemudian matanya menutup untuk beberapa saat.
"Tenang... Aku harus tenang... Jangan berpikir dari sudut pandang maling. Berpikirlah dari sudut pandang ibu yang ingin menyimpan barang secara rapi."
Perlahan Aldrich melepaskan tangannya dari kepala. Lalu ia meraba dasar laci itu.
"Hem... Begitu ya."
Terdapat lubang seukuran pensil dibawah laci.
Tanpa pikir panjang, Aldrich mengambil pena. Lalu memasukkannya ke dalam lubang itu, dan mendorong penanya keatas. Akhirnya papan yang ia anggap dasar laci sebelumnya naik, yang ternyata itu adalah penutup, bukan dasaran. Terdapat space disana.
Aldrich menyingkirkan penutup itu, dan yang ia lihat dibaliknya adalah tumpukan banyak kertas. Ia mengambil kertas paling atas. Yang ternyata itu adalah sebuah foto tanpa bingkai yang ditaruh terbalik.
Saat membalikannya, Aldrich melihat gambar dua orang yang terlihat gembira. Salah satunya adalah sang ibu yang terlihat lebih muda dari penampilannya yang terakhir kali ia ingat. Dan satunya lagi... Seorang laki-laki yang memiliki senyum cerah. Laki-laki itu memakai baju wisuda, satu tangannya memegang sertifikat kelulusan dan satu tangannya lagi merangkul bahu ibunya.
Terdapat tulisan tangan berwarna merah dibawah foto itu.
Selamat untuk kelulusanmu Jeff. Aku akan menyusulmu sebentar lagi. Jangan memanggilku adik ya, kita cuma selisih satu tahun dasar bodoh!
"A-ayah?" Aldrich menutup mulutnya dengan tangan gemetaran. "Hahaha benar kata ibu, senyum ayahku terlihat bodoh. Sepertinya dia orang yang cerewet dan kikuk seperti kak Emma."
Tes!
__ADS_1
Aldrich mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar. Ia sendiri tidak tahu kenapa menangis disaat seperti ini. Padahal ia tidak pernah bertemu ayahnya. Apa yang harus ditangisi? Tapi... Jika mengingat mereka adalah orang tuanya yang sudah tiada, entah kenapa rasanya sangat menyedihkan.
Setelah puas melihat foto itu, Aldrich kembali beralih ke barang-barang lainnya. Barang kedua yang ia ambil adalah beberapa lembar kertas yang disatukan.
"Apa ini?"
Daftar bahan-bahan penetralisir racun.
Aldrich membuka lembaran kertas berikutnya, dan resep yang berbeda tertulis disana.
Penyebaran racun meningkat, bahan-bahan baru penetralisir racun.
"Jadi... Selama ini ibu menghentikan penyebaran racun sendiri?" Karena penasaran, Aldrich langsung membuka di halaman terakhir. Halaman itu tampak berbeda dari sebelumnya. Disana terdapat tanggal penulisan yang menunjukkan waktu 2 tahun yang lalu.
Gejala akhir, batuk darah. Racun sudah menyebar sepenuhnya. Waktuku tidak lama lagi. Tapi aku masih belum tenang meninggalkan Aldrich sendirian.
"Ibu..." Aldrich berusaha untuk tidak menangis lagi. Ia menaruh kertas-kertas itu dan beralih ke benda yang lainnya lagi.
Kali ini adalah sebuah kertas yang tampak lecek. Seperti sudah pernah diremas-remas sebelumnya.
Jeff, kenapa kau tidak mencariku? Apakah kau tidak tahu kalau aku menghilang? Atau seseorang menahanmu? Aku benci sekali dengan mereka. Kukira kebaikan yang mereka berikan itu nyata, ternyata semuanya hanyalah kepalsuan. Cepat cari aku Jeff. Bukankah itu mudah bagimu? Kita memiliki pikiran yang sama, jadi kau pasti bisa memperkirakan dimana aku bersembunyi dari mereka.
Kemarilah... Bukankah kau ingin melihat Aldrich? Ternyata nama yang kau berikan itu sangat cocok untuknya.
Jangan sampai nyonya besar Yelena Hamilton, dan tante Ria mengetahui keberadaanku. Mereka adalah orang jahat yang bersembunyi dibalik topeng kebaikan.
Kedua mata Aldrich terbelalak kaget. Bagaimana bisa nama Ria yang hanya pekerja di Hamilton Group ikut disebutkan? Dia bukanlah anggota keluarga Hamilton.
"Siapa itu Yelena Hamilton? Nyonya besar? Itu sama seperti yang dikatakan para preman sesuai cerita pak Hendro."
Aldrich tiba-tiba sadar sesuatu. "Tunggu dulu... Ibu tidak tahu kalau ayah meninggal. Ibu menyuruhku untuk mencari ayah karena dia tidak tahu. Estimasi waktunya berdekatan. Menurut cerita kak Emma keluarga Hamilton membatalkan acara perkenalan keluarga 10 tahun yang lalu. Berarti... Setelah ibu pergi, tidak lama ayah meninggal, tapi ibu tidak tahu karena dirahasiakan dari publik juga."
Aldrich mulai pusing, ia mungkin sudah mencapai batas. Kadang kepalanya terasa pusing kalau terlalu banyak berpikir.
Karena tidak ingin sesuatu yang buruk padanya terjadi, seperti pingsan atau apapun itu, Aldrich memilih memindah semua barang-barang di laci itu ke dalam ranselnya. Ia akan membaca semuanya setelah sampai di rumah.
__ADS_1
Kalian... Yelena Hamilton dan tante Ria huh? Kalian tidak akan bisa lolos dariku.