
Di salah satu rumah sakit mewah.
"Tidak ada yang serius? Itu tidak mungkin. Tadi jelas-jelas jantungku berdetak dengan cepat, dan rasanya seperti sesak nafas. Pasti aku mengidap suatu penyakit yang serius."
Seorang dokter yang sudah berumur, dengan sepak terjang yang tidak diragukan lagi di dunia kedokteran itu hanya tersenyum. Seumur-umur, baru kali ini ia mendapat pasien yang lucu seperti Matt Hamilton ini.
"Benar, tidak ada yang serius tuan Matt. Saya bahkan sudah mengeceknya dua kali."
"Kalau begitu cek lagi." Ucap Matt dengan nada setengah memaksa.
"Baiklah, tapi sebelumnya saya ingin tanya sesuatu. Apakah ada tanda-tanda sebelum anda memiliki perasaan itu? Apa anda merasa tidak nyaman ketika memikirkan beberapa hal atau orang tertentu? Atau mungkin itu terjadi secara acak?"
Matt tertegun. Ia mengingat kembali kenapa perasaan itu bisa muncul? Dan ulah siapa itu? Tapi semakin ia pikirkan, semakin jelas juga gambaran Emma di otaknya.
Dokter itu tersenyum, lalu bertanya. "Bukankah ini karena seorang perempuan?"
Matt masih terdiam. Ia tidak ingin mengiyakan dan mengakuinya sekarang. Tapi ia tidak bisa menyangkalnya juga.
"Tuan muda Matt Hamilton, ini disebut 'jatuh cinta'. Sulit untuk mengatakan apakah ini penyakit yang serius atau tidak. Jadi saran saya, berhati-hatilah saat memandanganya. Karena penyakit ini bisa saja kambuh."
"Pffftt!!!"
Matt menoleh kearah Ryker yang bersusah payah menjaga imej laki-laki cool dan pendiam. Tapi karena kebodohan tuannya, dia tidak sanggup lagi menahan tawa.
"Kau pikir ini lucu?" Tanya Matt.
"Ehem! Tidak tuan. Tapi... Bodoh."
Matt mengangguk dengan tenang, lalu melihat dokter sebelumnya. "Kalau pak dokter butuh bahan uji coba atau peraga untuk operasi, saya akan memberikan orang ini." Matt menunjuk Ryker.
Tidak mau kalah, Ryker ikut mendekati dokter itu. "Kalau pak dokter butuh organ dalam orang kaya dengan mutu terjamin, silahkan ambil milik tuan saya."
"Beraninya kau pada tuanmu." Matt berdiri dari kursi.
"Huh? Tuan mana yang jahat dengan bawahannya?" Ryker tidak takut dan berhadapan dengan Matt.
"Aduh tenang para tuan sekalian. Tolong satpam!" Si dokter dengan panik, meraih telpon diatas meja.
◌
__ADS_1
Ditempat lain.
Ketika hari sudah mulai sore, Aldrich dan Ruri baru turun ke lantai bawah. Tidak disangka membaca buku sangat mengasyikkan, hingga mereka lupa waktu.
"Pantas saja kamu suka baca buku. Ternyata beneran seru. Sekali-kali aku juga mau baca buku ah."
"Iya." Aldrich mengangguk sambil tersenyum.
Bagaimana bisa bibi Ruri menghabiskan waktu hampir setengah hari hanya untuk membaca satu buku dongeng?! Itu kelewat lama!
"Kamu lapar tidak?" Tanya Ruri sambil membuka kulkas di dapur.
"Lumayan." Jawab Aldrich sambil duduk di meja makan.
"Ayo kita buat mie instan!!!" Seru Ruri sambil mengangkat bungkus mie instan yang ia temukan di rak makanan.
"Tapi kalau kakek tau...."
"Tenang saja, tadi pagi tuan Ron bilang padaku mau pergi beli korden di toko kenalannya, soalnya bisa diskon hihi. Jadi ayo bikin mie."
Kak Emma dan kakek sama-sama pecinta diskon. Apakah ini rahasia orang kaya?
Aldrich meraba saku celananya yang masih berisi sobekan kertas koran sebelumnya. Ia masih tidak menyangka kalau ternyata sang ayah meninggal karena kecelakaan.
Apakah kecelakaan itu murni kecelakaan biasa? Atau ada yang membuatnya seolah-olah seperti kecelakaan?
Tapi ada satu masalah besar yang membuatku tidak bisa mengusutnya. Yaitu keluarga Hamilton yang langsung menutupi kecelakaan dari publik. Pasti tidak banyak berita yang memuat tentang kecelakaan itu. Bagaimana aku bisa tahu kalau misalnya ada kerusakan mesin pada mobil atau sejenisnya?
Yang jelas, aku masih tidak percaya kalau itu murni kecelakaan.
Ck! Kalau terus begini, informasi yang kudapatkan tidak akan banyak. Setiap aku menemukan fakta baru, beritanya hanya sepotong karena keluarga Hamilton menghapusnya.
Jalan satu-satunya... Aku harus masuk ke rumah keluarga Hamilton. Meskipun itu hanya sekali.
"Aldrich!!!"
"Ah iya bibi?"
"Kenapa melamun? Aku mau tanya, mie punyamu ditambah telur atau sosis?"
__ADS_1
"Tidak usah diberi apa-apa bi."
"Serius?" Tanya Ruri dengan ekspresi terkejut. Karena baru kali ini, ia melihat orang yang ingin makan mie tanpa pelengkap. "Oke tunggu sebentar ya. Hampir selesai."
Aldrich menopang kepalanya dengan tangan. Sekarang ini informasi yang dia dapat berhenti di tengah jalan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga Hamilton itu?
Kenapa mereka begitu memojokkan ibuku? Bukankah bagus kalau keluarga Hamilton memiliki penerus? Lagipula ibuku tidak buruk, cantik, dan pintar. Apa yang kurang? Memang ada sih, selain tidak memiliki orang tua, kasta mereka juga berbeda. Tapi apakah itu masalahnya?
Hanya karena itu... Sampai membunuhnya? Dipikir berkali-kali pun tetap aneh.
"Tada! Sudah jadi." Ruri meletakkan semangkuk mie instan di depan Aldrich.
"Terimakasih bibi."
Aldrich menyendok mienya yang masih panas. Tapi belum juga meniupnya, terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat mendekati dapur.
"Aku pulaaaaanggg." Emma langsung memeluk Aldrich yang masih duduk sambil membawa sendok mienya. "Apa kamu merindukanku? Soalnya aku sangat-"
Emma langsung terdiam, ia mengendus-endus bau makanan tidak sehat dari anaknya. Lalu setelah mengikuti bau itu, ia disuguhi pemandangan mie instan yang masih panas berada di depan Aldrich.
"Apa ini? Siapa yang menyuruhmu makan mie instan?" Tanya Emma.
Aldrich mengangkat bahu sambil pelan-pelan menyeruput kuah mie di sendoknya.
Emma melihat manusia lain yang sedang makan bersama Aldrich. Melihat menu makanan mereka yang sama, sudah jelas siapa yang membuatkannya.
"Ruri."
Gawat! Aku akan kena semprot!!!
"Siapa yang menyuruhmu memberikan Al makanan tidak sehat hah?! Kau tahu seberapa banyak kalori yang ada disana? Bukankah aku menyuruhmu untuk memberikannya vitamin? Lalu apa ini? Kau mau membuat Al sakit-"
"Ini mie instan rebus" Aldrich tiba-tiba menyela. "Kandungan kalorinya 190-200. Apa kak Emma ingin tahu seberapa banyak kalori di ayam goreng? Yaitu 298."
Emma terdiam sebentar. Lalu tersenyum bodoh sambil menepuk bahu Aldrich. "Hehehe bercanda kok. Ayo dimakan. Mumpung masih panas kan enak." Tunjuk Emma pada mie Aldrich.
"Terimakasih kak." Aldrich mengangguk dan kembali menyantap mie miliknya.
Ruri kebingungan sambil melihat Emma dan Aldrich. Lah... Mereka malah adu pengetahuan. Memangnya kalori itu apa sih?
__ADS_1