
Aldrich dan Emma sudah berada di dalam taksi sekarang. Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke bandara. Untung saja jarak bandara dan hotel tidak cukup jauh.
"Kak, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya tanya saja. Ada apa Al?"
"Kakak terlihat marah sekali pada paman Wayne. Apakah kakak akan memecatnya?"
Emma menunduk dan menggaruk kepalanya. "Entahlah, aku juga bingung. Wayne adalah orang yang sangat dipercaya oleh tuan Cassius. Ayah Wayne dulunya adalah tangan kanan tuan Cassius, dan Wayne sedari kecil dipersiapkan untuk menggantikan tugas sang ayah yang sudah tua. Hingga akhirnya dia benar-benar menjadi tangan kanan tuan Cassius saat usianya masih sangat muda. Sampai aku menggantikan posisi tuan Cassius."
"Kalau begitu, coba beri paman satu kesempatan lagi." Usul Aldrich, dan membuat Emma tersenyum sambil mengusap kepalanya.
Susah juga menyingkirkan paman Wayne. Ya sudahlah, lagipula aku tidak memiliki urusan dengannya. Kalau dia cari gara-gara lagi, tinggal balas saja.
"Tapi... Kali ini aku tidak akan sebaik itu."
Aldrich menatap Emma bingung. Kali ini? Memangnya paman Wayne pernah melakukan kesalahan sebelumnya?
◌
Taksi berhenti di depan bandara. Emma mengucapkan banyak terimakasih pada sang supir yang sebelumnya ia paksa melakukan lomba balap mobil saat mencari Aldrich. Tidak lupa Emma memberi tip pada supir yang ternyata jago itu.
Saat masuk bandara, mereka sudah disambut Ruri yang sedang duduk di ruang tunggu bersama Wayne.
"Aldrich! Syukurlah. Hampir saja kamu jadi anak ilang." Ruri memeluk Aldrich dengan haru. Sementara Wayne hanya berdesis.
"Kita bahas di rumah. Pesawat sudah menunggu." Ucap Emma tanpa melirik Wayne, lalu menggandeng tangan Aldrich sambil berjalan.
__ADS_1
Wayne tidak merasa takut sedikitpun. Ia sudah sering mengatakan hal buruk tentang Aldrich di depan Emma, dan perempuan itu hanya menegurnya. Pasti kali ini juga sama. Tidak mungkin ada adegan pemecatan, secara ia sudah dianggap keluarga sendiri oleh Emma.
Selama perjalanan di pesawat, Emma tidak mengajak Wayne bicara sedikitpun. Ia sibuk membahas makanan yang dihidangkan pramugari.
"Makanan pesawat sedikit sekali. Padahal harga tiketnya mahal." Kata Ruri sambil menatap sepotong ikan tuna yang dihiasi saus.
"Sepertinya cukup menguntungkan kalau aku menanam saham di bidang transportasi udara seperti ini ya." Emma mengusap dagunya sambil berpikir.
"Pasti makanan yang disajikan nanti berubah jadi ayam goreng." Celetuk Aldrich yang langsung disambut gelak tawa Ruri.
"Lebih baik investasi di bidang perternakan ayam saja non."
"Atau restoran cepat saji." Tambah Aldrich.
"Kalian ini benar-benar menyebalkan." Emma menatap Aldrich dan Ruri bergantian.
Tidak disangka, hampir saja Emma kehilangan anak kesayangannya. Kalau saja ia tidak mengingat kebiasaan Wayne yang selalu meletakkan barang mewah di kantong serut, pasti ia tidak akan menemukan jam tangan itu. Tapi jika seandainya Aldrich benar-benar hilang, ia akan melakukan apapun untuk menemukannya.
Emma baru sadar melihat ada gelang asing yang melingkar di tangan Aldrich. "Itu gelang siapa Al?" Tanya Emma sambil menunjuk gelang yang dimaksud.
"Ah benar juga, aku lupa mengembalikannya. Ini milik anak perempuan yang kutemui di sekitaran hotel tadi." Aldrich menatap gelang di tangannya.
"Cieee masih kecil sudah bertemu pasangan. Tidak seperti orang yang sudah berumur 27 tahun tapi masih lajang itu." Ruri melirik Emma diam-diam.
"Bibi Ruri pikirannya sungguh liar. Aku hanya bertemu dengan teman yang seumuran, tapi kenapa bibi Ruri bilang begitu?"
"Ruri, gajimu bulan ini akan kupotong."
__ADS_1
"Apa masih belum terlambat untuk menarik kembali kata-kataku?Ampun."
Karena sambil asik mengobrol, tidak terasa mereka sudah sampai. Pesawat mendarat dengan mulus, Emma dan yang lainnya segera keluar bandara.
"Aku benci turbulensi." Ruri menahan muntah setelah perutnya seperti dikocok-kocok selama penerbangan.
"Tenang saja, setelah sampai di rumah kau boleh istirahat. Aku akan menyuruh Ron untuk membiarkanmu istirahat."
"Wah terimakasih nona." Wajah Ruri berubah sumringah. "Gajinya tidak jadi dipotong kan?"
"Enak saja. Tetap dipotong."
Ruri kembali lesu sambil mengusap perut malangnya.
"Di sebelah sini nona." Wayne mengarahkan mereka pada mobil jemputan yang sudah menunggu. Emma masih saja diam tak menghiraukan laki-laki itu.
Apakah kak Emma benar-benar marah pada paman Wayne? Tapi meskipun marah, dia tetap tidak akan memecat paman Wayne.
Setelah menemukan mobil pribadi Emma, mereka berempat pulang. Ketika perjalanan pulang pun, selain raungan yang keluar dari mulut Ruri yang sedang sakit perut, tidak ada pembicaraan lain yang terjadi.
Suasana mencekam apa ini? Kak Emma sepertinya masih marah. Tapi ketika di pesawat tadi, dia masih bisa tertawa. Kenapa sekarang berwajah serius?
Emma melihat ponselnya sebentar, lalu memasukkannya lagi kedalam tas kecilnya. Ia seperti sedang mengecek sesuatu. Sementara Aldrich terus mengamatinya dari kursi belakang.
Tidak sampai 30 menit, akhirnya rumah Emma sudah terlihat. Pak Darma dengan sigap membuka gerbang saat mengetahui mobil Emma mendekat. Tapi sesuatu menarik perhatian Aldrich. Sebuah mobil berwarna merah sudah lebih dulu terparkir di pekarangan rumah Emma.
Tidak hanya Aldrich, Wayne lebih terkejut lagi melihat mobil itu berada disana.
__ADS_1
Emma tersenyum dan melihat raut wajah Wayne. "Kenapa Wayne? Bukankah itu hanya mobil Ratna? Dia sedang menunggu kita di dalam. Ayo turun, jangan buat dia menunggu."
Aldrich bingung. Siapa Ratna?