Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Membacakan Pesan Kencan


__ADS_3

"Lukisan apa itu? Jelek sekali. Lihat nih punyaku bagus."


Aldrich hanya mengangguk menjawab perkataan Ezra.


Sekarang ini Aldrich dan teman seumurannya Ezra, sedang melukis di cafetaria. Tadi setelah bermain di kantor Emma, mereka pergi untuk mengambil minum di cafetaria. Tapi saat melihat Aldrich, tukang cat yang berada disana berinisiatif menyuruh anak laki-laki itu untuk melukis salah satu tembok yang kosong. Si tukang berpikir jika ada lukisan anak-anak di kantor yang serba serius ini, pasti bisa membuat efek rileks tersendiri di otak. Lalu Ezra memaksa untuk ikut melukis juga, dia bersikukuh pada tukang cat kalau Aldrich dan dirinya seumuran.


"Nah jadi! Bagus tidak?" Ezra berkata dengan bangga sambil memperlihatkan lukisannya yang paripurna.


Si tukang cat yang mengawasi mereka berjalan mendekati lukisan yang dibuat Ezra untuk memastikan matanya tidak salah lihat. Dan ternyata memang matanya tidak salah lihat, itu adalah lukisan manusia lidi yang berantakan.


"Ini konsepnya bagaimana ya?" Tanya tukang cat pada Ezra yang masih memasang ekspresi bangga.


"Ini tentang kisah dua sahabat. Namanya Aldrich dan Ezra."


Aldrich terkejut, ia ikut melihat lukisan Ezra untuk menunggu keterangan selanjutnya.


"Dua sahabat? Lalu kenapa manusia lidinya banyak sekali?"


"Oh itu keluarga kita masing-masing. Yang ini ibu dan ayahnya Aldrich, lalu ini kakek neneknya Aldrich sedang bersama om dan tantenya."


Tangan Aldrich melemas, ia hanya bisa menatap lukisan jeleknya Ezra sambil merasa tersentuh. Ia tidak menyangka Ezra akan menggambar dirinya serta keluarganya yang pasti Ezra tidak mengenalnya. Apalagi permasalahan pelik yang dirinya alami soal keluarganya. Ternyata pemikiran Ezra sangat sederhana dan polos. Hal itu membuat Aldrich senang.


Tukang cat itu mengangguk, lalu berganti ke lukisan Aldrich. Lagi-lagi ia dibuat bingung dengan lukisan mereka. "Kalau yang ini maksudnya apa? Cuma garis abstrak tapi bagus juga."


Aldrich tersenyum dan mengambil kuas yang lebih kecil. "Lukisan ini tidak bisa dilihat setiap saat." Sambil berkata begitu, Aldrich menulis sesuatu dibawah lukisannya.


Mawar awal bulan, jam 4 sore.


Ezra yang berlandaskan kepo, akhirnya bertanya. "Aku tidak paham. Mawar? Awal bulan? Jam 4 sore?"


"Sebentar lagi." Aldrich melihat jam tangannya lalu memandang jendela.


Tak lama, cahaya matahari sore memantul dari kaca. Membuat bingkai jendela yang bergelombang terpantul ke dinding tempat lukisan Aldrich berada. Sepontan Ezra dan tukang cat terkejut. Pasalnya bingkai jendela yang unik untuk menambah kesan elegan itu, bisa membuat lukisan Aldrich menampakkan wujud aslinya. Tepat di jam 4 sore, dari bayangan bingkai jendela membuat gambar bunga mawar yang sedang mekar jika digabungkan dengan lukisan Aldrich yang cuma garis itu.

__ADS_1


"Mawar yang mekar, Rose Group. Indahnya." Merasa waktu untuk melihat lukisan itu langka, si tukang cat mengambil ponsel dan buru-buru memotretnya.


"Hebat! Bagaimana bisa kepikiran ide seperti ini?" Tanya Ezra dengan heboh.


Aldrich menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kaku. "Hehe tempo hari kita bermain disini sampai sore. Saat aku melihat bayangan bingkai jendela itu, mirip seperti bentuk mawar mekar jika ditambahkan beberapa garis lagi. Jadi aku tinggal menambahkan yang kurang."


"Tapi bagaimana bisa pas?" Ezra kembali bertanya.


"Mungkin kebetulan hehe. Dan gambar ini hanya bisa dilihat di awal bulan, jam 4 sore." Aldrich menatap lukisannya dengan bangga.


"Jam 4 sore memang wajar. Tapi kenapa harus awal bulan?" Sekarang giliran si tulung cat yang bertanya.


"Setiap bulan, posisi matahari selalu berubah. Tapi tenang, masih berada di Timur kok hahaha." Jawab Ezra diikuti anggukan kepala Aldrich.


"Begitu ya. Kamu sangat berbakat nak. Tapi sayang sekali, lukisannya tidak bisa dilihat setiap saat." Ketiga orang itu menatap lukisan indah milik Aldrich yang perlahan mulai hilang karena sinar matahari terus bergerak.


Ditengah suasana hening karena melihat lukisan. Terdengar suara seseorang sedang berteriak, dan suaranya mulai mendekati cafetaria.


"Al, Ezra!!!"


"Tenang saja. Dia tidak akan melakukannya." Aldrich menahan Ezra yang ingin pergi.


"Maksud kalian... Emma Rosaline? CEO Rose Group ini?" Tanya satu-satunya orang biasa yang bingung melihat Aldrich dan Ezra.


"Iya. Saya anaknya." Aldrich tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Anaknya?! Ya ampun maafkan saya. Saya tidak tahu sudah menyuruh calon tuan muda Rose Group menggambar. Kukira karena bersama office boy, anda adalah anak titipan salah satu pegawai." Tukang cat itu langsung berbicara dengan sopan pada Aldrich.


"Ah tidak usah sungkan begitu."


"Apakah menjadi babysitter berarti aku naik pangkat?" Ezra menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Ketemu kalian!!!" Emma muncul sambil menunjuk Aldrich dan Ezra.

__ADS_1


"Ampun kak, aku tidak bersalah. Ini semua salah Aldrich! Dia yang menyuruhku untuk mencoba membuat jadwal." Ezra langsung membuat pengakuan, sementara Aldrich hanya tersenyum santai.


"Kenapa aku harus memarahimu? Justru aku ingin berterimakasih karena membuatkan jadwal yang bagus. Bagaimana kalau mencoba menjadi sekretarisku dulu beberapa hari? Jika kerjamu bagus. Bisa menjadi sekretaris yang sesungguhnya."


Tebakan Aldrich benar. Ia mengenal Emma cukup baik sekarang. Segila-gilanya perempuan itu, dia pasti tahu mana hal yang menguntungkannya atau tidak dalam dunia bisnis. Otaknya hanya akan bekerja jika menyangkut masalah bisnis.


"Benarkah?! Aku tidak sedang bermimpi kan?" Ezra menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Kok tidak sakit? Ini pasti mimpi!"


"Kak Ezra mau kutampar?" Tawar Aldrich yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Ezra.


"Dengan begini aku bisa punya sekretaris dan orang yang menjaga Al-ku sayang." Emma dengan gembira mencolek pipi Aldrich.


"Tunggu sebentar." Ezra merasa ada yang tidak beres dengan ucapan Emma barusan. "Jika sekaligus mengurusi urusan pribadi, berarti itu asisten bukannya sekretaris."


"Eh? Bukannya sama saja ya?" Emma kebingungan.


Aldric menepuk-nepuk bahu Ezra penuh simpati. "Terima saja ya."


"Tidak bisa begitu-"


"Sudah-sudah. Ini dia!" Emma melemparkan ponselnya pada Ezra, untung saja bisa ditangkap oleh laki-laki itu. "Ponselku hanya berisi nomor para kolega dan orang penting lainnya. Sementara bawa dulu, kalau ada yang ingin membuat janji untuk bertemu segera kabari aku."


Ezra mengangguk meskipun sedikit bingung. Ia tahu kalau Emma tidak seperti perempuan lain yang memakai ponsel untuk hal pribadi. Emma lebih menggunakannya untuk pekerjaan. Itulah mengapa dia terus sendiri di usianya yang sekarang, karena baginya bekerja lebih penting.


Ting!


Ponsel Emma mendapatkan pesan setelah beberapa detik berpindah di tangan Ezra.


"Ada pesan! Ini pasti tugas pertamaku!"


"Bagus. Coba bacakan." Emma dan Aldrich mendengarkan dengan seksama apa yang akan dibacakan Ezra untuk tugas pertamanya.


"Ehem! Dari Matt Hamilduluan. Katanya, ayo kita liburan bersama ke Jepang lusa."

__ADS_1


"APA?!"


__ADS_2