Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Sebuah Arti


__ADS_3

Keesokan harinya.


Aldrich berjalan di taman sekeliling rumah Emma yang dipenuhi dengan bunga. Semua tanaman hias dirawat dengan teliti hingga beberapa memiliki bunga yang sangat indah. Tugas pak Darma sebagai penjaga kebun ternyata sangat baik.


Hebat, semua warna bunga ada disini.


"Nak Aldrich. Tumben jalan-jalan ke luar. Biasanya kulihat selalu baca buku di perpustakaan." Pak Darma muncul sambil membawa sekop dan pot bunga.


"Ah iya Pak. Aku mau lihat-lihat bunga sebentar."


"Apa nak Aldrich mau coba bantu? Ini mau pindahin beberapa bunga loh."


Aldrich sebenarnya hanya ingin melihat-lihat saja. Kegiatan bercocok tanam tidak cocok dengan dirinya. Tapi karena pembicaraan ini sudah berkembang, rasanya sungkan untuk menolak.


"Aku mau coba. Tapi kalau berantakan bagaimana pak?"


"Hahaha tidak masalah. Nanti tinggal disapu. Ayo sini, kuajarkan. Kita akan memindahkan mawar yang itu. Tolong cabut perlahan. Awas hati-hati dengan durinya." Pak Darma menunjuk pohon mawar yang terhimpit tanaman hias lainnya.


"Oh yang ini ya." Aldrich berusaha meraih pohon itu dengan hati-hati tapi tangannya tetap tergores duri. "Aduh! Kata orang dewasa, mawar itu tanda cinta, tapi kenapa berduri?"


"Hahaha bukankah itu benar? Cinta itu sangat indah, tapi juga menyakitkan. Bahkan meskipun sudah berhati-hati dan memakai sarung tangan, jika salah memegangnya kita tetap akan merasakan sakit tertancap duri."


"Kata-kata pak Darma sangat bagus. Seperti di buku."


"Aku hanya bicara fakta. Lagipula tidak hanya cinta, kebahagiaan juga begitu. Sampai sekarang tidak ada satupun orang yang bisa mendeskripsikan arti kebahagiaan. Karena kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda. Anak yatim piatu akan bahagia jika memiliki orang tua, anak yang memiliki orang tua akan bahagia jika orang tuanya tidak bertengkar, dan anak yang keluarganya harmonis akan lebih bahagia jika keluarganya kaya. Hahaha seperti bunga mawar ini. Ada yang suka mawar merah, tapi ada juga yang hanya suka mawar putih, atau kuning, bahkan oren. Semua orang tidak sama."


Bletak!


Tiba-tiba sebuah nampan mendarat di kepala pak Darma. Aldrich yang sebelumnya fokus mendengarkan ikut terkejut setengah mati.


"Ayang, ngomong apaan sih? Jangan ngajarin anak kecil kata-kata yang susah. Memangnya dia suka bahasa puitismu?" Ruri yang menjadi pelaku pelemparan nampan muncul.


"Bukan begitu ayang. Aku cuma ngajarin nak Aldrich beberapa kata. Lagipula dia paham kok."


Aku tidak tahan dengan dunia per-ayangan ini. Aldrich hanya melihat dengan malas.


"Ah sudahlah. Ngomong-ngomong Aldrich, nona Emma mencarimu. Dia baru bangun tuh." Ucap Ruri.

__ADS_1


"Baik bibi Ruri. Aku masuk dulu."


"Eh tunggu." Pak Darma tiba-tiba menahan Aldrich. "Aku ingin meminta penjelasan. Kenapa kamu memanggilku 'pak'? Padahal Wayne dipanggil 'paman'. Aku lebih muda dari Wayne tahu."


"Ya ampun Ayang. Gitu aja dipermasalahin loh." Ruri bersiap melemparkan nampan untuk kedua kalinya.


"Habisnya, aku jadi kelihatan tua banget, ayang." Pak Darma menunjukkan ekspresi sedih.


"Maaf. Karena pak Darma berkumis, jadi kukira lebih tua dari paman Wayne. Baiklah, mulai besok akan kupanggil paman." Aldrich tersenyum ramah.


"Oke. Besok aku juga mau cukur kumis." Pak Darma menunjukkan kepalan tangannya dengan tekad bulat.


"Dari dulu kek. Biar mirip King Korn." Komentar Ruri.


Aldrich yang mendengar ucapan Ruri membuatnya kembali teringat dengan janji Matt. Katanya, Matt akan membuktikan kalau Sylvia tidak selingkuh hari ini. Mungkin Emma memanggilnya untuk mengajak Aldrich ke kantor Matt.


Dengan langkah cepat, Aldrich berjalan memasuki rumah melalui pintu di dekat dapur. Dari sana sudah terlihat sosok Emma yang berdiri di dekat meja makan. Aldrich sempat tertegun melihat betapa anggunnya Emma pagi itu. Rambut yang panjangnya hanya sebahu lebih sedikit itu, diikat menjadi satu, dengan poni tipis yang manis. Pakaian kerjanya yang berwarna merah, menambah kesan elegan yang misterius. Tidak lupa jas dengan warna senada tergantung di kedua bahunya.


"Al, bagaimana menurutmu dengan anting ini? Bagus tidak?" Emma mengangkat sebuah anting besar dan menempelkannya di telinga.


"Hahaha baiklah, aku akan ganti ke yang lebih kecil." Emma terlihat fokus memilih beberapa anting yang sudah ia taruh diatas meja makan.


"Ngomong-ngomong kak. Apa nanti kita akan pergi ke kantornya kak Matt?" Tanya Aldrich sambil berjalan mendekati Emma.


"Entahlah, jadwalku padat." Emma menjawab tanpa melihat kearah Aldrich. Tatapannya masih fokus pada deretan anting.


"Eh? Kalau begitu usaha kita percuma dong."


Perkataan Aldrich akhirnya membuat Emma menoleh lalu mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Kamu benar, Al. Tapi aku sangat sibuk hari ini. Lagipula, asisten Matt itu pasti akan mengatakan semuanya. Dan memberikan tamparan keras untuk Matt."


"Begitu ya."


Aldrich diam-diam tersenyum. Sudah kuduga akan begini. Jadi waktunya menggunakan rencanaku!


"Kakak hati-hati ya kerjanya. Aku di rumah saja sendirian tidak apa-apa. Kakek Ron tidak bisa menemaniku bermain. Para bibi juga sibuk dengan pekerjaan rumah. Kukira aku bisa menemukan mainan di kantor kak Matt, ternyata kita tidak jadi ke sana. Ya sudah tidak apa-apa." Aldrich pura-pura menghapus air mata buayanya.


Ya ampun! Aduh apa yang kau lakukan Emma?! Al masih anak-anak, jelas suka main dan jalan-jalan. Tapi... Pekerjaanku tidak bisa ditinggal!

__ADS_1


"Oh begini saja. Kamu kesana sendiri ya. Akan kutelpon Matt bodoh itu, supaya dia bisa mengajakmu bermain. Oke?"


"Oke! Horeeey!!!" Aldrich melompat-lompat kegirangan.


"Sebentar." Emma mengambil ponselnya dan mulai menelpon Matt.


"Halo Matt. Ingat janjimu kan? Sudah, jangan bicara dulu. Anakku akan ke sana menggantikanku. Jadi aku ingin kau mengurusnya sebentar. Jangan lupa belikan dia mainan dan makanan enak. Awas saja kalau kau menyiksanya. Bye." Tanpa basa-basi Emma menutup telponnya.


Ya ampun, seperti pemaksaan. Aldrich menggeleng pelan.


"Sudah, Al. Nanti kamu bisa ke sana pakai mobilku yang satunya. Suruh pak Darma nganterin. Tenang saja, dia itu mantan supir bus pariwisata. Dia hafal map 3 provinsi."


Ternyata pak Darma sangat hebat! Lalu kenapa kak Emma sebelumnya lebih memilih menjadikan paman Wayne supirnya?


"Aku berangkat dulu, Al. Love u. Muah!"


Aldrich terkejut karena Emma tiba-tiba saja mencium keningnya.


"Wah pedofil." Ruri yang baru saja masuk sambil membawa nampan berteriak pada Emma.


"Aku bebas mencium anakku! Iri ya karena tidak punya anak? Cium saja pak Darma." Goda Emma.


"No-nona Emma jangan bicara sembarangan!" Wajah Ruri langsung memerah seperti tomat.



Di tempat lain.


"Apa-apaan dengan orang ini?" Matt menaruh ponselnya dengan kesal. "Tiba-tiba saja bilang tidak bisa datang dan hanya menyuruh anaknya kemari. Memangnya anak itu tahu apa? Malah mengajarinya masalah perselingkuhan. Dan yang lebih parah, menyuruh aku untuk mengurusinya."


Tok! Tok!


Tiba-tiba seorang laki-laki masuk setelah mengetuk pintu. Ia sudah terbiasa keluar masuk ruangan Matt tanpa pemiliknya mempersilahkan. Karena ia sudah menjadi sekertaris Matt sejak lama.


"Ryker, kebetulan sekali. Aku menunggumu." Matt langsung bangun dari kursinya dan menatap Ryker penuh harap, menunggu hasil dari kerja keras sekertarisnya.


Ryker masih terdiam sampai ia menyerahkan beberapa lembar kertas pada Matt. "Maaf tuan, tapi... Semua itu benar."

__ADS_1


__ADS_2