
"Hampir selesai." Emma fokus mengoleskan sesuatu pada Ruri, dan para pengurus rumah dipaksa melihat itu. "Nah sudah jadi. Tada! Inilah produk baru dari Rose Group. Lipstik tiga warna!"
Prok! Prok! Prok!
Aldrich satu-satunya orang yang bertepuk tangan melihat demonstrasi yang Emma lakukan.
"Apa itu tidak sedikit... Mencolok?" Tanya Molly.
"Eh? Apa iya?" Emma memperhatikan bibir Ruri yang baru saja ia jadikan objek penelitian.
"Tidak cocok untuk riasanĀ sehari-hari seperti iklan yang nona buat." Tambah Ron.
"Eh? Itu untuk riasan sehari-hari? Kukira khusus untuk cosplay jadi badut." Komentar Aldrich yang langsung membuat semua orang tertawa.
"Becandain terus. Kan aku sudah memperlihatkan padamu proposalnya." Emma cemberut sambil melirik Aldrich, setelah itu membereskan lagi lipstik yang ia bawa.
"Haha maaf. Tapi memang terlalu mencolok. Mungkin kalau warnanya diturunkan dua tingkat akan lebih bagus."
Emma menoleh kearah Aldrich yang baru saja memberinya pendapat. "Benar juga! Idemu sangat cemerlang! Aku akan mengadakan rapat untuk membahasnya."
"Lalu nasibku bagaimana?" Ruri menunjuk bibirnya yang malang.
"Lap saja." Usul Milly.
"Tidak bisa, itu transferproof." Jelas Emma.
"Apa itu transferpoop?"
Pffft!
Aldrich menutup mulutnya dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak tertawa. Seperti biasa, Ruri selalu mengatakan bahasa Inggris dengan sangat lucu.
__ADS_1
Emma menjitak kepala Ruri. "Poop siapa yang kau transfer hah?! Aku bilang transferproof, artinya tidak mudah menempel dari satu permukaan ke permukaan lain. Alias tidak bisa dihapus."
"Eh?! Trus bagaimana ini?" Ruri semakin panik.
"Tunggu saja. Lipstiknya tahan 18 jam kok."
Ruri hampir menangis mendengarnya. "Tuan Ron bantu aku."
Ron yang dimintai tolong hanya tersenyum, setelah itu menghilang di pintu belakang.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, Emma buru-buru mengambil jas dan tas kerjanya. Itu pasti Ezra yang menjemputnya seperti biasa. "Baiklah, waktunya aku berangkat." Tidak lupa Emma mengusap kepala Aldrich sebelum berlari ke depan.
Rumah menjadi sepi. Si kembar Milly dan Molly langsung kembali ke lantai 3 karena tontonan asik mereka sudah berakhir. Sementara Ruri masih berusaha menghapus lipstiknya dengan tisu.
"Bibi Ruri tidak pergi ke pasar?" Tanya Aldrich basa basi sambil memakan kripik singkong yang menjadi cemilan ringan diatas meja makan.
"Hari ini tumben sekali Melin yang mau pergi ke pasar. Mana perginya buru-buru lagi. Mungkin takut kehabisan diskon."
Aldrich langsung menghentikan kegiatan makannya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Sejauh ingatannya tinggal di rumah ini, Ron selalu memarahi Ruri yang menggantikan tugas Melin berbelanja ke pasar. Tapi kenapa kali ini berbeda?
"Iya bibi Ruri. Semoga berhasil."
Aldrich mengambil ponselnya dari saku celana. Belakangan ini ia sering memakai ponsel pemberian Emma untuk melihat berita terkini di internet. Sungguh sangat praktis membaca berita dengan cara seperti ini. Ia juga bisa memakainya untuk membaca kabar terbaru tentang keluarga Hamilton.
Selama seminggu ini, keluarga Hamilton mengirimkan beberapa serangan dan ancaman secara langsung maupun tidak langsung pada Emma dan Rose Group. Untung saja berkat kerjasama Aldrich dan Emma semua itu bisa terselesaikan dengan mudah. Kadang Emma yang meminta pendapat anak itu, kadang mereka yang memikirkannya bersama. Dan tim kecil berotak pintar ini selalu menang. Secara tidak sadar, Aldrich menantikan trik seperti apa lagi yang akan keluarga Hamilton berikan.
Tidak ada berita tentang kak Matt. Kira-kira dia pergi kemana ya? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?
Tiba-tiba sudut mata Aldrich melihat sebuah berita yang aneh.
TERNYATA INI CARA KOTOR YANG DILAKUKAN EMMA ROSALINE AGAR BISNISNYA BERJALAN MULUS.
__ADS_1
Kedua alis Aldrich menyatu. Itu jelas hanya berita gosip, tapi yang membuatnya aneh adalah jumlah komentar dan total dibagikannya berita. Angkanya tidak wajar.
Apa keluarga Hamilton yang ada dibaliknya? Mereka mungkin membayar orang untuk menggerakkan massa sebanyak ini agar beritanya menjadi tranding topic. Menjijikkan.
Aldrich mencoba melihat berita itu, agar siapa tahu ia bisa memikirkan jalan keluar atau bahkan balasan yang pantas.
Tapi sebuah foto yang terpajang dibawah judul membuat kedua mata Aldrich berhenti berkedip saking kagetnya. Foto itu memperlihatkan Emma sedang memberikan uang pada sekelompok preman yang sebenarnya adalah teman-teman Aldrich sebelumnya.
Aldrich menggulirkan layar untuk membaca berita palsu itu lebih jauh.
Karir seorang Emma Rosaline dalam dunia bisnis yang selama ini dianggap paling bagus dan cerdas, ternyata menyimpan fakta yang begitu miris. Dia secara diam-diam menyuruh preman untuk melakukan perbuatan kotor. Kabarnya, pesaing bisnisnya yang kalah bukan karena tidak bagus dalam bekerja, melainkan diancam dengan kekerasan oleh para preman suruhan Emma.
Berita apa ini?! Bohong sekali! Dan lagi kenapa bisa ada orang yang memotret kami saat itu? Dia pasti mengikuti kak Emma.
Aldrich kembali menggeser layar untuk melihat tanggapan orang-orang.
"Beberapa saat yang lalu aku masih mengidolakan Emma. Sekarang aku benar-benar menyesalinya."
"Astaga, kenapa bisa ada orang yang sejahat itu?"
"Pantas saja diterpa masalah besar sebelumnya langsung beres dalam waktu 7 hari. Ternyata pakai cara ini toh. Pintar sekali ya."
Aldrich meremas ponsel di genggaman tangannya. Ia langsung emosi hanya dengan membaca beberapa komentar saja. Dirinya yang tahu perjuangan keras Emma merasa tidak terima.
Klontang!
"Hei siapa kalian?! Jangan masuk seenaknya!"
Aldrich menoleh kearah pintu depan. Teriakan pak Darma sangat keras sampai terdengar di dapur.
Cih! Aku tidak menyangka keluarga Hamilton akan sebuntu ini mencari cara.
__ADS_1
Aldrich sepontan berlari menuju kamar. Ia buru-buru mengambil ransel dan memasukkan semua catatan mendiang ibunya ke dalam sana.
Ingin membawaku paksa huh? Tidak akan bisa!