
Di tempat lain.
Emma sedang duduk dibalik meja kerjanya seperti biasa. Fokusnya masih tertuju pada layar komputer yang menyala. Di dekatnya, seorang laki-laki sedang duduk dengan gaya katak.
"Kakak Emma, kapan aku boleh berhenti berpose seperti ini? Kakiku kram." Eluh Ezra.
"Sampai kau mengerti kesalahanmu." Jawab Emma tanpa membagi pandangannya pada Ezra.
"Aku mengerti kok, dan aku janji tidak akan melakukannya lagi."
"Katakan apa kesalahanmu?"
"Mengejar kodok di ruang rapat, dan menjatuhkan proyektor sampai rusak."
"Lalu?"
"Dua dewan direksi yang fobia kodok pingsan di tempat. Lalu satu orang penyakit asmanya kumat."
"Intinya kau menghancurkan rapat kali ini tau!!!" Teriak Emma dengan frustasi, lalu memijat dahinya. Ia tidak tahu lagi bagaimana mengurus bayi besar ini. Bahkan Aldrich lebih bisa diandalkan daripada Ezra.
"Padahal niatku baik, ingin membawa kodok itu pergi agar tidak mengganggu rapat. Lihat kan? Yang terpenting itu niatnya."
"DIAM!!!"
Emma sekarang frustasi. Sebenarnya tugas Ezra tidak bermasalah, yang menjadi masalah utamanya adalah otak kekanakan dan sikap cerobohnya.
"Suaramu sampai terdengar dari luar tahu."
Suara seorang laki-laki yang familiar terdengar dari arah pintu. Saat Emma menoleh, matanya bertatapan dengan Matt.
"Kau!!! Kenapa selalu kemari hah?! Apa kau tidak ada pekerjaan?" Emma terduduk dan menyandarkan punggung lelahnya di bantalan kursi. Sekarang muncul orang menyebalkan lainnya, bagaimana tidak tambah frustasi?
"Eh? Bukannya itu anak yang memakan ayammu? Office boy kan?" Matt menunjuk Ezra yang masih dalam posisi sebelumnya.
"Ya. Sekarang dia sekretarisku."
"Bukan, aku asisten." Ucap Ezra.
Matt malah menggaruk kepalanya dengan bingung. "Apa bedanya?"
"Entahlah, katanya beda." Emma ikut bingung.
__ADS_1
Ah sudahlah! Kedua orang ini menganggap Asisten dan Sekretaris itu sama. Percuma berdebat, jadinya 2 lawan 1.
"Lalu kenapa dia duduk seperti itu? Salah obat?" Tanya Matt lagi.
"Dia mengacaukan rapat, dan aku sedang menghukumnya."
"Unik sekali hukumannya." Matt mengangguk sambil memperhatikan pose Ezra.
Minimal tolongin kek. Ezra membuang muka dengan kesal.
"Tidak usah basa-basi. Kenapa kau kesini? Aku sibuk, dan Al tidak ada disini." Kata Emma cepat, karena siapa tahu Matt akan langsung pergi setelah mendengarnya.
"Aku ingin menanyakan jawabanmu."
"Jawaban apa?" Emma melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Soal ajakanku pergi liburan bersama, ingat?"
Jari Emma langsung berhenti di udara, ia baru teringat kalau Matt mengajaknya liburan lewat pesan singkat kemarin.
"Jadi saat itu kau serius?" Tanya Emma.
"Tentu saja serius. Ayo pergi bertiga. Kerja terus menerus membuatmu hampir gila kan?" Matt menyindir Emma yang tadi berteriak karena frustasi.
"Tapi?"
"Aku harus bertanya pada Al dulu."
Matt tersenyum lalu berjalan mendekati meja Emma. "Berarti kau secara pribadi setuju kan? Liburan bersama?"
"Se-setuju, karena Al jarang liburan, aku kasihan padanya. Tapi kalau Al tidak mau, aku juga tidak mau."
"Dia mau. Karena pikirannya pasti sama sepertiku, yang khawatir padamu."
Emma mengedipkan matanya berkali-kali. Ia tidak salah dengar kan? Matt mengkhawatirkannya? Memangnya mereka sedekat itu untuk bersikap perhatian?
"Bu-bukankah kau juga sibuk?" Tanya Emma.
"Tidak terlalu. Aku ini seperti boneka, apa yang kulakukan dan semua keputusan yang kubuat, harus berdasarkan perintah ayah dan nenek. Aku tidak boleh menjalankan perusahaan sendiri."
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
Matt hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Ia tidak bisa bercerita terlalu banyak pada Emma. Meskipun sebenarnya ia ingin sekali memiliki seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Setidaknya untuk meringankan sedikit tekanan batin yang ia rasakan. Tapi ini bukanlah saat yang tepat.
"Cepat pulang dan tanyakan pada Aldrich." Matt menarik tangan Emma dan memaksa perempuan itu untuk beranjak dari tempatnya.
"Kakak, kakiku kram."
"Kalian bisa diam tidak?! Ini masih jam kerja, tidak bisa pulang. Dan kamu!!!" Emma menunjuk Ezra yang malang. "Pergilah istirahat sebentar, lalu duduk seperti itu lagi."
"Akhirnya... Aku bisa istirahat." Ezra berjalan terseok-seok menuju pintu untuk keluar. Kakinya masih bergetar karena posisi tidak mengenakkan itu menghambat peredaran darahnya. Kalau menjadi sekretaris sesengsara ini, lebih baik jadi office boy saja.
Matt menatap kepergian Ezra, lalu beralih pada Emma yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba ia teringat perkataan dua temannya yang gagal mendekati Emma. Apakah itu benar? Dirinya yang hanya mengajak dari pesan singkat saja langsung diterima.
"Jangan menatapku terus. Aku jadi merinding."
Matt bingung ingin bicara apa setelah tertangkap basah menatap perempuan itu. "Aku hanya mendengar kabar kalau kau menolak ajakan kencan dari beberapa anak pembisnis. Apa itu benar?"
Emma terlihat bingung, lalu mengangguk pelan. "Tidak cuma anak pembisnis. Masih ada artis, atlet, dokter, guru, bahkan sampai astronot."
"Astronot?!"
"Iya. Katanya, kalau aku mau makan malam bersamanya, dia akan membawakanku batu bulan."
Matt tersenyum kaku sambil mengangguk. Ternyata kelasnya sudah berbeda.
"Lalu kau menjawab apa?" Entah kenapa Matt bertanya seperti itu. Yang jelas ia sangat penasaran.
"Aku bilang kalau batu bulan terlalu biasa. Jika ingin makan malam bersamaku, dia harus membawakanku bayi Alien."
Sudah kuduga jawabannya akan aneh. Matt menepuk dahinya sambil menyesali pertanyaannya.
"Lalu... Kenapa kau mau pergi liburan bersamaku?" Kali ini Matt menatap Emma dengan serius. Inilah yang sebenarnya membuat ia bingung.
"Karena ini pertama kalinya, ada yang mengajakku pergi bersama anakku." Emma tersenyum, dan Matt bersumpah kalau itu adalah senyuman termanis yang pernah dia lihat. "Kau juga tidak mempunyai niatan untuk mengambil hati Al. Malah aku curiga kalau kau yang coba mengambil hatiku supaya bisa merebut hak asuh Al. Haha tapi tidak masalah, karena Al suka bermain bersamamu jadi aku setuju untuk liburan. Tapi jangan harap bisa mengambilnya dariku."
Deg!
Deg!
Matt merasakan ada sesuatu yang aneh merasuki dirinya. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat, dan nafasnya sesak. Hal ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kenapa? Malah melamun."
__ADS_1
Matt langsung berlari kearah pintu. "Aku sakit, mau ke dokter dulu. Selamat tinggal." Teriaknya kemudian.
"Perasaan tadi sehat."