
"Apa kau bilang?!" Matt melotot tidak percaya.
"Saya melacak nona Sylvia 5 hari yang lalu. Dan memang benar, dia pergi dari rumah menuju bandara. Lalu bertemu dengan seseorang seolah sudah janjian sebelumnya. Saya berpikir begini, karena orang itu menunggu nona Sylvia sekitar 30 menit di dekat pintu masuk bandara. Setelah saya telusuri lagi, nona Sylvia pergi dengan laki-laki itu ke negara X, lalu memesan kamar di hotel Sun Flower. Dari cctv itu juga saya bisa melihat rombongan nona Emma."
"Tidak. Pasti tidak mungkin." Matt melihat satu persatu kertas di tangannya yang berisi gambar serta jam tempat gambar itu diambil. "Apakah menurutmu ini murni? Maksudku Emma bisa saja membuat settingan ini."
Ryker menggeleng pelan. "Saat baru sampai hotel, seharusnya rombongan nona Emma sudah bertemu Sylvia. Tapi mereka seperti tidak sadar, karena salah satu teman mereka sakit perut. Mereka seperti memergoki nona Sylvia saat berada di sebuah restoran kecil, dan mereka mulai mengambil beberapa gambar. Sejak saat itu, gerombolan nona Emma seperti mengincar nona Sylvia dan terus mengambil gambarnya. Itu mustahil jika disebut settingan."
"Beraninya menipuku!" Matt melempar semua kertas ditangannya.
"Nona Sylvia tidak hanya melakukannya sekali. Saat saya menelusuri lebih dalam, saya menemukan kebohongan yang serupa. Saat nona Sylvia bilang ingin mengurus adiknya yang sakit di luar kota, membeli kasur untuk ibunya, dan masih banyak lagi. Semua uang yang tuan berikan juga dipakainya untuk berbelanja bersama orang yang sama."
"Katakan siapa selingkuhannya?" Tatapan Matt berubah menjadi penuh dendam dan amarah.
"Julukannya King Korn. Dia salah satu model dari agensi kecil. Namanya cukup terkenal, dan sering disebut di sosial media." Ryker menunjukkan tabletnya yang berisi deretan akun media sosial Korn.
Matt melirik sebentar kemudian membuang muka. "Berikan scandal untuk dia. Buat seluruh orang mencaci-makinya. Untuk Sylvia... Biar aku sendiri yang urus." Matt melihat salah satu kertas di kakinya, lalu menginjak foto Sylvia disana.
◌
Beberapa jam kemudian, Aldrich baru saja sampai di gedung Hamilton Group. Ia tercengang dengan tempat yang mewah itu.
"Nak, mau ditemani atau bagaimana?" Tanya pak Darma dari balik kemudi.
"Tidak usah paman. Tadi kak Emma sudah bilang sama kak Matt. Paman pulang saja, pasti pekerjaannya banyak."
"Kamu hati-hati ya. Kalau mau pulang, tinggal suruh tuan Matt menelpon ke rumah." Ucap Pak Darma sambil melihat Aldrich turun dari mobil.
Sepertinya orang-orang dirumah mulai tertular sikap tidak sopannya kak Emma. Bisa-bisanya pak Darma menyuruhku untuk memerintah seorang Matt Hamilton dari keluarga nomor satu di negara ini. Tapi tidak apa-apa, aku kan dianggap anak kecil yang polos.
"Baik paman. Sampai nanti." Aldrich berlari memasuki gedung seperti anak yang kegirangan.
Seorang satpam penjaga pintu yang melihat Aldrich keluar mobil mulai menyapa. "Kamu anak yang bersama nona Emma kemarin ya?"
"Iya paman."
"Di foto wajahmu tidak terlalu terlihat. Tapi karena kamu keluar dari mobil nona Emma, membuatku sangat yakin."
"Paman hafal semua mobil kak Emma?"
"Hahaha, tidak. Mobil yang kamu pakai tadi, hanya ada 3 di negara ini. 2 dimiliki tuan Matt dan ayahnya, dan satu lagi dimiliki nona Emma Rosaline. Kamu keponakan nona Emma atau bagaimana?"
Kalau tahu mobilnya langka, seharusnya aku tidak memilih itu tadi. Pak Darma malah menyuruhku memilih mobilnya sendiri. Dan sialnya di garasi ada banyak mobil. Perkataan kak Emma tadi pagi seolah dia hanya memiliki satu mobil tersisa.
Aldrich tersenyum. "Saya bukan keponakannya. Untuk lebih detailnya bisa tanya kak Emma sendiri."
"Aduh mana berani orang kecil sepertiku mengobrol dengan CEO besar hahaha."
Kalau paman ini disebut orang kecil. Lalu aku yang dulu disebut apa? Orang seupil? Satpam di Hamilton Group pasti gajinya besar.
"Kamu ingin bertemu siapa nak? Tuan Matt?"
Aldrich mengangguk dengan cepat, lalu satpam itu menunjuk bagian di dalam gedung. "Bilang sama kakak resepsionis itu ya. Nanti diantar ke ruangan tuan Matt. Paman ada urusan soalnya."
__ADS_1
"Baik paman. Terimakasih." Aldrich sedikit membungkuk tanda hormat, lalu masuk ke dalam gedung.
Hebat... Mewah sekali.
Oke! Aldrich jangan terpesona dulu! Tugasmu disini untuk mencari tahu lebih detail tentang keluarga Hamilton. Apakah mereka memiliki anak lain selain Matt Hamilton? Kalau iya dimana dia sekarang? Dan apakah dia adalah ayah?
Keberuntunganku bertemu kak Emma akan dipertaruhkan disini. Jika saja statusku masih penjual gorengan, pasti sudah diusir paman satpam tadi.
"Aduh!"
Belum sampai di meja resepsionis, Aldrich melihat Sylvia bersama seorang pegawai yang membawa nampan minuman.
"Bisa kerja ga sih? Aku itu minta minum buat diminum, bukan buat mandi! Mata kamu kemana? Mau kubuat buta sekalian hah?!" Sylvia berteriak pada pegawai itu.
"Maaf nona, saya tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi. Jadi tidak sengaja airnya jatuh."
Aldrich melirik kaki si pegawai perempuan yang berdiri menunduk sambil membawa nampan itu. Dia ketakutan dengan bentakan Sylvia sampai hampir menangis.
Kaki kakak itu merah. Terkilir? Tapi masih berusaha berdiri untuk minta maaf.
"Heh! Kau tahu tidak aku siapa? Sylvia! Calon istri Matt Hamilton. Berani menyiramku seperti ini apa kau sudah bosan hidup? Akan kusuruh Matt memenjarakanmu, dan membuat keluargamu tidak tenang!"
"Ampun nona. Saya tidak bermaksud."
"Sujud di depanku, dan cium kakiku. Baru kumaafkan."
"Ba-baik."
Suasana tiba-tiba menjadi tidak enak. Orang-orang hanya melihat karena takut dengan Sylvia, termasuk satpam lain yang berada di dalam gedung.
"Kau! Anak yang sama Emma Rosaline kan? Ck! Bocah dari jal4ng. Tidak usah ikut campur, palingan kau tidak paham apa yang kukatakan." Sylvia tersenyum remeh kearah Aldrich.
"Maaf? Tadi anda menyebut kak Emma apa?" Aldrich berdiri berhadapan dengan Sylvia.
"Eh? Marah nih? Aduh takutnya dimarahin anak kecil. Mau kuulangi lagi? Emma Rosaline adalah J-A-L-A-N-G."
Aldrich tersenyum, dan tiba-tiba ia menjegal kaki kanan Sylvia. Karena sepatu hak tinggi dan tubuhnya yang lambat merespon, dia oleng ke kanan dan jatuh.
Bruk!
"Aduh kakiku! Tolong!"
Tap!
Aldrich sengaja menginjak rok Sylvia dengan sepatu kotornya, hingga membuat perempuan itu menjerit histeris. "Bajuku! Dasar anak gila! Pergi! Apa kau tidak tahu seberapa mahal baju ini? Emma jal4ng itu tidak bisa menggantinya! Kau pasti hanya anak haram! Punya kekuasaan apa kau berani padaku calon istri Matt Hamilton?"
Aldrich dengan wajah datarnya sekarang meraih gelas yang masih tersisa sedikit air diatas nampan. "Silahkan nikmati minuman anda nona." Aldrich menuangkan isi air dari gelas itu ke muka Sylvia yang masih sibuk mengomel.
"Keteralaluan! Siapa saja, singkirkan anak gila ini dari hadapanku!" Teriak Sylvia. Tapi tidak ada seorang pun yang membantunya. Orang-orang hanya melihat, dan sebagian besar menertawakan Sylvia.
"Rasain tuh!"
"Sama anak kecil kalah."
__ADS_1
"Orang desa tapi sok berkuasa."
"Belum jadi istri tuan Matt sudah semena-mena pada kita."
Orang-orang mulai berbisik dengan suara keras. Membuat Sylvia merasa malu setengah mati.
"Ada apa ini?!" Matt muncul dari arah lift bersama Ryker. Orang-orang yang tadi bergosip langsung terdiam. Mereka takut karena mengatai tunangan tersayang bossnya.
"Sayangku! Anak ini-"
"Kak Matt. Kakak ini kakinya terkilir. Bisa tolong obati dulu." Sela Aldrich sambil menunjuk pegawai malang sebelumya.
Matt melirik kearah Ryker. "Urus dia."
"Siap tuan." Ryker pergi menuntun pegawai itu untuk diobati.
"Sayang, anak ini berani sekali! Lihat aku jatuh basah kuyup, kakiku terkilir, dan dia menginjak rok kesukaanku sampai kotor. Bahkan dia juga berani menyela kata-kataku." Sylvia bangun dengan tergopoh-gopoh dan merangkul tangan Matt seolah teraniaya.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa?" Tanya Matt sambil memandang Aldrich.
"Suruh Emma Rosaline kemari dan bersujud dihadapanku! Anak haramnya membuat onar sampai membuatku begini."
Sylvia diam-diam tersenyum puas. Heh? Bagaimana pendapat orang kalau melihat seorang Emma Rosaline bersujud di kakiku? Pastinya mereka tidak bisa meremehkanku lagi.
"Idemu bagus. Kenapa kau tidak mencobanya duluan? Sujud di kaki Aldrich sekarang." Ucap Matt dingin.
"Apa katamu?"
Aldrich mengangguk pelan. Rupanya sudah tahu kebenarannya.
"Kau tuli? Aku bilang sujud di kaki Aldrich sekarang!!!" Bentak Matt hingga membuat semua orang ketakutan. Sylvia yang baru pertama kali dibentak Matt sampai seperti itu lebih takut lagi.
Aldrich masih kesal juga karena Sylvia mengatai Emma, jadi ia ingin ikut serta. "Kak Sylvia cantik. Sepatuku sudah bersih kok, kan tadi dilap pakai rok kakak yang mahal. Silahkan kalau mau sujud."
Sylvia melihat kearah Matt lalu Aldrich bergantian. Ia tidak percaya dengan situasinya sekarang ini. Kenapa Matt tiba-tiba berubah? Sebenarnya ada apa?
"Kenapa hanya berdiri mematung? Apa kau idiot?" Matt sekarang menatap Sylvia dengan tajam.
"A-aku mau pergi! Kalian jahat!" Sylvia berjalan dengan cepat kearah pintu sambil pura-pura sesenggukan untuk mencuri simpati Matt.
Ctak!
Matt menjentikkan jarinya, dan menunjuk Sylvia. "Tahan dia. Jangan biarkan kabur." Sontak perintah Matt langsung dilaksanakan oleh petugas keamanan disana. Mereka menahan Sylvia dengan cepat.
"Apa ini? Lepaskan aku! Kalian tidak berhak menyentuhku!"
Aldrich terus menonton drama menarik ini. Tidak ia sangka kalau karma akan datang secepat ini.
"Aldrich kan namamu?" Matt berjalan mendekati Aldrich.
"Ah? Iya kak Matt."
Matt tersenyum dan menepuk bahu Aldrich. "Mulai sekarang, kamu boleh memanggilku papa."
__ADS_1
"HAAAHHH?!"