
Keesokan harinya.
"Matt sialan, mati saja sana!"
Ron yang sedang menyiapkan sarapan dikejutkan dengan Emma yang tiba-tiba duduk di meja makan sambil meracau.
"Masih pagi tapi mood sudah buruk?" Ucap Ron sambil menaruh roti panggang di depan Emma.
"Itu karena Matt bodoh itu! Mengajak liburan kok mendadak. Memangnya aku tidak sibuk apa? Dasar otak udang! Kepala batu!" Emma yang masih kesal memakan roti dengan cara mencabik-cabiknya seperti singa kelaparan.
Ron tersenyum dan mencoba menenangkan nonanya. "Ada yang bilang, kalau liburan yang direncanakan malah berakhir dengan wacana. Kalau liburan dadakan, biasanya langsung bisa terwujud."
"Hah? Siapa yang bilang? Akan kuinjak-injak mulutnya!"
"Haha setiap orang berbeda-beda. Ada yang lebih suka terencana, dan ada yang suka dadakan."
Emma berdesis, "Aku lebih suka terencana. Meskipun kalau lapar sering dadakan sih."
Bukan begitu maksudnya.
"Pagi kak." Aldrich muncul, dan duduk di samping Emma.
"Baru bangun Al?"
Tentu saja tidak. Aku menghabiskan waktu semalaman untuk mempelajari cara menggunakan ponsel. Setelah itu, mencoba mencari berita tentang keluarga Hamilton disana.
Meskipun ingin berkata begitu, tapi kalimat yang keluar dari mulut Aldrich adalah, "Iya kak baru bangun hehe."
"Bagus, mulailah bangun kesiangan seperti aku haha."
"Jangan dengarkan nak." Ron menutupi telinga Aldrich setelah menaruh sarapan untuk anak laki-laki itu.
"Apa salahnya kalau anak mencontoh kebiasaan ibunya?"
__ADS_1
Ron menghela nafas dan membuka kembali telinga Aldrich. "Tapi itu contoh buruk."
"Tenang saja kek. Aku tahu mana yang harus kucontoh dari kebiasaan kak Emma."
"Wah anakku pintar. Mana kebiasaanku yang sering kamu contoh?"
"Bernafas."
"Itu bukan kebiasaan!!!"
"Memangnya kak Emma tidak terbiasa bernafas?"
"Y-ya bukan gitu pokoknya!!!"
Ron tertawa melihat kelakuan aneh ibu dan anak itu. Ia ikut senang karena semenjak ada Aldrich, Emma selalu terlihat ceria. Meskipun sebelumnya juga murah senyum tapi tatapan matanya terlihat serius dan ambisius. Sekarang, hanya ada kehangatan disana.
Ron tiba-tiba teringat sesuatu, hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan pada Emma kemarin. "Nona, bolehkah saya membawa Aldrich untuk tes IQ?"
Aldrich yang baru saja menggigit roti sarapannya langsung tersedak. Ia terkejut mendengar peekataan Ron. Bagaimana dia bisa menyarankan hal seperti itu?
"Kenapa tes IQ?"
"Saya pikir, sudah waktunya Aldrich untuk bersekolah. Dia pintar dan sering baca buku. Mungkin jika sekolah, dia bisa lebih menambah wawasan. Ada salah satu sekolah Internasional yang cukup bagus. Tapi untuk bisa masuk ke sana, harus tes IQ terlebih dahulu. Bukankah... Aldrich akan menjadi calon pewaris Rose Group?"
Emma mengangguk. Ia merasa ide Ron sangat bagus. "Baiklah-"
"Tidak mau! Aku tidak mau sekolah." Aldrich melipat tangannya dengan ekspresi kesal. Sebenarnya ia tidak sedang kesal sekarang, melainkan takut setengah mati. Jika Emma memaksanya ikut tes IQ maka kepintarannya akan terbongkar. Setidaknya, ia ingin menunjukkan kepintarannya saat berhadapan langsung dengan Yelena Hamilton untuk balas dendam.
Normalnya, anak-anak seusiaku tidak mau bersekolah. Jadi sebagai anak yang disayang, jika aku menolak untuk sekolah pasti diperbolehkan.
"Jangan begitu. Kamu harus sekolah."
Aldrich terkejut mendengar Emma membujuknya. Apakah aktingnya kurang menjiwai?
__ADS_1
"A-aku kan sudah umur 10 tahun. Karena tidak sekolah, pasti diulang dari kelas 1. Nanti diejek teman-teman." Kini Aldrich mengganti aktingnya dengan ekspresi sedih.
"Benar juga. Lagipula terlalu mencolok kalau menyewa bodyguard untuk mengawalmu di kelas."
Nah iya, jangan suruh aku untuk tes IQ.
"Oh begini saja." Ron mengangkat jarinya. "Bagaimana dengan homeschooling? Saya memiliki kenalan yang memakai cara itu juga pada anaknya. Tapi tetap harus tes IQ, untuk menentukan guru mana yang cocok."
ITU SAMA SAJA!!!
Aldrich hampir berteriak karena terlalu frustasi. Ia tidak pernah menyangka akan dihadapkan dengan persoalan seperti ini.
"Ide bagus! Aku setuju." Emma memberikan acungan jempol pada Ron.
TAPI AKU TIDAK SETUJU!!!
Sial! Jika semakin menolak, malah mencurigakan. Dan kesannya, aku seperti anak yang malas.
"Kak." Aldrich menggoncangkan bahu Emma dengan wajah memelas. "Tahun besok saja ya sekolahnya. Aku masih lelah memikirkan semuanya." Kali ini akting Aldrich lebih totalitas. Ia menunjukkan mata yang berkaca-kaca.
Emma bingung bagaimana menanggapinya. Benar juga, belum ada setahun Al kehilangan ibunya. Pasti cukup berat kalau ditambah dengan pikiran sekolah.
"Baiklah. Tahun besok saja." Emma mengangguk.
Fuuhhh... Berhasil. Tapi itu berarti aku harus segera membongkar misteri kematian ayah dan ibu. Yang pasti itu adalah ulah Yelena Hamilton.
"Oh kalian sudah siap rupanya."
Suara laki-laki yang tiba-tiba terdengar itu membuat semua orang menoleh bersamaan.
"Matt?!"
"Aku juga sudah siap." Ucap Matt sambil menepuk koper disampingnya. "Ayo kita pergi!"
__ADS_1