
Satu minggu kemudian.
Pyar!
"Tidak becus! Apa saja yang kalian lakukan seminggu ini?" Bentak Yelena sambil melemparkan mangkuk makannya yang sudah kosong. "Menghancurkan Rose Group saja tidak bisa. Penerus keluarga Hamilton sekarang lemah seperti anjing!"
Charles segera melakukan pembelaan. "Ibu tenanglah, nanti pengakitmu kambuh. Aku juga sudah berusaha, tapi Emma sangat pandai. Saat aku mencoba menghalangi proyek kosmetik baru yang akan dia buat, otaknya selalu bisa mencari solusi untuk menghilangkan masalah. Ditambah, Emma terkenal sangat baik di publik. Dia sering memberikan dana pada banyak panti asuhan di kota ini, jadi susah membuat skandal. Beberapa perusahaan dibawah naungannya juga kuat. Ini susah sekali."
"Ck! Aku tidak mau tahu! Pokoknya Rose Group harus hancur secepatnya!"
Tok! Tok!
Seseorang tersenyum sambil berdiri di bibir pintu. "Apa ada yang bilang membuat Rose Group hancur? Aku memiliki sesuatu yang bagus. Kalian pasti suka."
"Kau kan... King Korn?!"
◌
Matt menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruang keluarga yang besar. Ia sudah menjadi tahanan rumah selama seminggu. Rasanya setiap saat hanya berisi kekhawatiran. Apakah Aldrich baik-baik saja? Apa Emma bisa melindunginya?
Aaaaa!!!
Matt menggaruk kasar kepalanya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Neneknya pasti memberikan banyak bodyguard untuk menjaga di luar rumah.
Sejak pulang dari Jepang pun Matt belum bertemu lagi dengan Ryker. Mungkin sekretarisnya itu memang sengaja dipisahkan darinya oleh sang nenek. Sendirian di rumah yang besar dengan pikiran yang rumit, membuat Matt hampir gila. Bahkan tadi pagi ia tidak sadar mencuci wajah dengan pasta gigi, membuat wajahnya berbau mint.
"Tuan."
Matt langsung menoleh kearah sumber suara yang dikenalnya. Entah kenapa ia rindu pada suara dari orang berwajah memuakkan itu.
"Ryker!" Matt langsung bangkit dan berlari menuju Ryker dengan dramatis. "Rykeeer."
"Tuaaann." Ryker juga ikut berlari kearah Matt bak pertemuan yang dinanti selama bertahun-tahun. Drama pun dimulai, musik dramatis berbunyi di kepala mereka. Hingga akhirnya musik itu rusak saat Ryker tiba-tiba mengganti ekspresinya ketika Matt sudah dekat.
Plak!
"Aduh!" Matt langsung memegang pipinya yang panas akibat tamparan Ryker.
"Tuan bodoh sekali. Anda sedang apa disini hah?"
Matt menunjukkan ekspresi seperti anjing yang sedang dimarahi. "Kau tidak lihat aku sedang menjadi tahanan rumah?"
"Dan Anda benar-benar dirumah selama seminggu? Astaga, demi bekicot poligami! Kenapa Anda tidak kabur?"
Apa maksudnya coba bekicot poligami?
__ADS_1
"Nenek pasti menyuruh bodyguard untuk mengawasiku di sekeliling rumah."
"Lalu apa gunanya barang-barang disini?" Ryker celingukan dan mengambil kursi di dekatnya. "Kursi ini bisa digunakan untuk memukul tengkuk para bodyguard itu, dan membuat mereka pingsan. Atau yang lebih bagus, mungkin anda memiliki obat tidur atau semacamnya?"
"Aku punya pistol listrik. Bisa menembakkan peluru yang membuat orang yang dituju terkena sengatan listrik dan pingsan."
Plak!
"Kenapa aku ditampar lagi?!" Matt kini mengusap pipi yang satunya.
"Bodoh! Seharusnya pakai itu dari awal! Malah tiduran di sofa."
"Iya juga ya."
"Sekarang berikan padaku semua senjata yang anda punya."
Matt mengangguk dan berlari ke kamar. Disana ia mengambil semua senjata yang tersimpan. Sebagai satu-satunya calon penerus yang diketahui oleh publik, Matt harus extra hati-hati, dengan selalu membawa senjata untuk perlindungan diri kapanpun. Bahkan dikamarnya ada beberapa senjata untuk berjaga-jaga kalau ia disergap.
Setelah cukup lama berkutat di kamar, Matt keluar dengan memeluk beberapa senjata lalu menaruhnya diatas meja di depan Ryker.
"Hmmm... Ada stun gun baton, taser, dan... Apa ini?" Ryker yang masih mengabsen, melihat benda yang tidak lazim.
"Itu samurai dari jaman Edo. Aku membelinya di tempat lelang."
Ryker menghela nafas dan memberikan samurai itu pada Matt. "Tuan bawa ini saja. Biar saya yang pakai senjata normal."
"Percuma mahal, kalau yang bawa tidak bisa ilmu pedang." Ryker mengambil beberapa perlengkapan, dan melihatnya satu persatu untuk mengetahui cara kerjanya.
"Oh iya, bagaimana caramu masuk ke sini? Bodyguard penjaga tidak menghalangimu?"
"Tentu saja dihalangi. Tapi apa anda ingat pohon asam yang ada di samping kanan rumah? Saya memanjatnya lalu lompat ke balkon lantai 3." Jawab Ryker.
"Wah, aku baru tahu kau bisa parkour."
"Anda tidak tahu kalau saya hampir saja pipis di celana saking takutnya. Butuh waktu satu minggu untuk saya mengumpulkan keberanian melompat."
"Tolong kembalikan kekagumanku tadi."
"Heh? Bukankah anda lebih tidak berguna?"
"Ayo kita bergelud sekarang."
"Sudah selesai." Ryker merapikan dirinya yang sudah membawa beberapa perlengkapan. "Ayo kita meratakan mereka semua."
"Ya. Tapi jangan pipis di celana."
__ADS_1
Plak!
"DAN JANGAN TAMPAR AKU LAGI!!!"
◌
Sebelumnya,
Seorang laki-laki tampak membenarkan tudung jaket hitamnya, dan membenamkan wajahnya pada topi yang ia pakai di dalam. Dia adalah King Korn yang sudah kehilangan pekerjaannya berkat Matt.
Korn baru saja pulang dari penjara menjenguk Sylvia. Setiap ia menjenguk kekasihnya, perempuan itu selalu menangis minta dibebaskan.
"Apa ada keperluan? Jangan melewati tempat ini lebih jauh."
Korn menatap beberapa orang bertubuh besar yang memakai pakaian rapi menghalanginya. Jelas sekali kalau orang itu adalah bodyguard. Tapi berarti tempat tujuannya sudah dekat.
"Aku ingin menemui nyonya Yelena Hamilton yang sedang dirawat disini."
"Hah?! Kau siapa? Pakaianmu tidak terlihat seperti orang penting." Salah satu bodyguard yang menghadangnya mencoba melihat wajah Korn dari sela-sela topinya.
"Aku datang untuk menawarkan sesuatu pada nyonya Yelena Hamilton."
"Hahaha mana mungkin nyonya membutuhkan sesuatu yang kau punya. Jangan terlalu bodoh dalam menipu. Kalau ingin uangnya, caranya bukan begini."
Korn menggeleng. "Aku tidak ingin uang. Cepat pertemukan aku dengan dia."
"Maaf ya, hanya orang penting yang bisa menemuinya. Kau tahu, yang memakai jas, sepatu kulit, dan berakal. Bukan seperti dirimu hahaha."
Korn mengepalkan tangannya penuh amarah. "Kalau dia benar-benar terbantu dengan apa yang kupunya, maka aku akan menyuruh nyonya Yelena memecat kalian."
"Wah takutnya hahaha."
Tidak, aku tidak bisa terus berlama-lama disini dan menjadi bahan tertawaan para bawahan ini. Aku akan menerjang mereka sekarang.
Saat semua bodyguard sedang asik tertawa, Korn dengan cepat berlari melewati mereka.
"Hei cepat hentikan dia!!!"
Korn terus berlari sampai mendekati ruangan yang pintunya sedang terbuka. Sayup-sayup ia mendengar suara orang berteriak.
"Ck! Aku tidak mau tahu! Pokoknya Rose Group harus hancur secepatnya!"
Korn menyinggungkan senyumnya. Tidak disangka timingnya begitu pas. Tujuannya kemari sebenarnya ingin barter foto Emma dengan kebebasan Sylvia. Awalnya, ia pikir itu akan sulit, ternyata Yelena Hamilton sedang membutuhkan apa yang ia punya sekarang.
Tok! Tok!
__ADS_1
Korn masuk dengan tiba-tiba sambil tersenyum. "Apa ada yang bilang membuat Rose Group hancur? Aku memiliki sesuatu yang bagus. Kalian pasti suka."