
Aldrich sekarang berada di balkon kamar hotel sambil menatap pemandangan jalan raya di dekat sana. Ia kepikiran dengan Sylvia, yang ternyata hanya menginap dua hari di hotel yang sama dengannya. Setelah itu dia berpindah entah kemana. Saat Emma iseng coba menelpon Matt untuk bertanya dimana calon tunangannya, Matt menjawab perempuannya sedang di desa bersama nenek. Itu jelas tidak benar.
Kemarin, Aldrich, Emma, dan Ruri kembali memata-matai Sylvia. Tapi sayang, kegiatan orang itu tidak banyak. Setelah sarapan di restoran, pasangan itu kembali ke kamar dan tidak keluar lagi hingga sore. Emma berkata pada Aldrich kalau mereka pasti sedang main monopoli di dalam kamar. Aldrich berpikir itu masuk akal. Monopoli memang permainan yang seru, mereka pasti jadi lupa waktu.
Selama dua hari pula, Aldrich dan yang lain mengumpulkan banyak gambar, serta rekaman video cctv. Yang jadi masalah sekarang, apakah Matt akan percaya? Atau malah menuduh Emma pembohong?
Orang bilang, cinta itu buta dan tuli. Mereka yang terhipnotis cinta, hanya akan melihat orang yang disukainya saja. Sisanya, seperti sapi yang hanya tahu memamahbiak.
Kutipan itu pernah kubaca di koran. Ternyata itu benar. Kak Matt kenapa bisa percaya dengan kak Sylvia? Dengan status keluarganya yang tinggi seharusnya dia bisa mencari tahu sendiri kegiatan kak Sylvia dibelakangnya. Aku yakin ayah atau teman terdekat kak Matt sudah tahu tentang sifat asli kak Sylvia. Dan disitulah kebutaan dan ketulian kak Matt karena cinta muncul. Sungguh disayangkan.
"Al? Kenapa masih di luar? Dingin loh." Emma menghampiri Aldrich dan mengalungkan sebuah syal ke lehernya.
"Aku sedang berpikir."
"Hm? Berpikir tentang apa?" Tanya Emma sambil fokus melilitkan syal.
"Kenapa kak Matt bodoh sekali?"
"Pfffttt!!! Kamu benar. Ayo kita sadarkan si bodoh itu di acara pertungannya lusa."
Aldrich mengerutkan alisnya dengan bingung. "Bagaimana cara menyadarkannya?"
"Kita pikirkan nanti. Ayo main salju. Di kota sebelah, salju sudah turun. Kita bisa menyewa mobil dan supir untuk kesana. Ayo lihat salju sama-sama."
Salju... Benda putih dan lembut itu? Aku mau lihat!
"Ayo. Apakah rasanya seperti es serut?" Aldrich mengikuti Emma masuk kembali ke kamar untuk bersiap.
"Haha tidak. Pokoknya jangan dimakan ya."
◌
Di tempat lain.
"Apa-apaan dengan si aneh itu? Tiba-tiba bertanya dimana Sylvia. Memang apa urusannya dengan dia?" Matt menatap layar ponselnya yang tertera riwayat panggilan dari Emma.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir... Ini pertama kalinya kita menelpon secara pribadi. Bahkan dulu saat sekolah tidak pernah.
Matt membuka laci mejanya dan mengambil sebuah foto yang sengaja ia letakkan di bawah berkas-berkas penting. Itu adalah foto dirinya saat masih SMA. Ada tiga orang dalam foto tersebut, dirinya sendiri, Emma, dan... Brandon.
Rasanya... Dulu cukup seru kalau aku tidak begitu membosankan.
◌
Saat SMA. Kejadian dibalik foto itu.
"Tin! Tin! Emma ojek datang." Emma berlari mendekati Matt dan Brandon yang sedang istirahat sambil seolah-olah sedang naik motor.
Brandon merasa senang melihat Emma datang dan ikut berakting. "Akhirnya ojek datang, ayo Matt kita naik!" Ia berdiri dibelakang Emma sambil pura-pura naik motor.
"Maaf aku masih waras." Matt menggeleng.
"Tin! Tin! Duk! Waaa Matt ketabrak ojekku!" Emma mendorong Matt dan histeris sendiri.
Brandon langsung mendalami perannya. "Ninuninu ambulan datang!"
"Kita butuh alat pacu jantung!"
"Ya ampun, apa kalian bisa diam? Aku sedang mencoba menikmati rotiku."
"Eits! Pasien tidak boleh makan roti." Emma merebut roti Matt dan memakannya. "Wah enak!"
"Haha lihat mulutmu belepotan krim." Brandon mengelap ujung bibir Emma dengan lembut. "Nah sudah cantik lagi."
"Hehe Terimakasih ya."
Matt tiba-tiba berdiri dan hendak pergi.
"Eh? Mau kemana?" Tanya Emma.
"Cari udara segar. Disini sesak."
__ADS_1
"Pencopet muncul! Dapet ponsel!" Brandon mengambil ponsel Matt yang hanya ditaruh di saku. "Ayo kita foto bertiga."
"Hei kembalikan!" Matt hendak meraih ponselnya, tapi Emma tiba-tiba mengalungkan tangannya ke leher Matt untuk menjauhkannya dari ponsel.
"Sip!" Emma berseru.
"Satu dua tiga."
Cekrek!
◌
Matt tersenyum sendiri saat mengingat kejadian itu. Dulu Emma sering mengganggunya, lalu ia balik mengganggu gadis itu dengan cara mengajaknya ke kantin dan ke perpustakaan, berharap dia akan kesal. Tapi malah kenangan indah yang diberikan Emma padanya. Setelah itu, salah satu sahabat Matt bernama Brandon ikut menjadi teman Emma. Mereka bertiga sering bersama. Hingga akhirnya terpisah, karena Matt dan Brandon lulus lebih dulu dibanding Emma. Mereka sama-sama kuliah di luar negeri dan putus kontak satu sama lain. Hingga akhirnya... Menjadi seperti orang lain.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan Matt diketuk beberapa kali.
"Masuk!"
Seorang wanita yang membawa beberapa berkas berjalan ke meja Matt. Dia adalah Ria.
"Ini semua sudah direvisi."
Matt tidak menjawab dan hanya menjulurkan tangannya untuk meminta berkas di tangan Ria. Ekspresinya juga terlihat kesal. Karena tidak ingin menyulut amarah Matt, Ria memberikan berkas itu dengan patuh.
Tiba-tiba fokus Ria teralihkan pada sebuah foto yang berada di atas meja.
"Aku hampir lupa kalau saat SMA, kamu satu sekolah dengan Emma Rosaline. Kalian bertiga terlihat sangat akrab. Kenapa tidak membuat acara reuni bersama? Pasti menyenangkan."
"Heh! Siapa kau berani bicara seperti itu padaku? Aku ini atasanmu. Panggil aku tuan. Lagipula, memang posisimu pantas untuk memberikan usulan padaku? Berkacalah, kau bukan ibuku. Pergi!" Matt menunjuk pintu dengan ekspresi marah.
Ria tersenyum tipis dan mengangguk. "Baik tuan."
"Ck! Dasar benalu!"
__ADS_1