Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Cerita Darinya


__ADS_3

Hari sudah mulai larut. Ria berjalan sendirian menuju lift yang akan membawanya ke tempat parkir di lantai bawah. Sekarang ia sangat lelah. Entah lelah badannya atau pikirannya, tapi rasanya sekujur tubuhnya seperti ditusuk-tusuk. Hari ini Yelena terus berteriak dan marah-marah, padahal pagi harinya dia cukup senang dan terus tertawa. Apakah sudah bisa disebut gila?


Aku ingin cepat-cepat mandi dan tidur.


Ria mulai berjalan keluar lift yang sudah sampai di tempat parkir tujuannya.


Deg!


Tubuh Ria seketika kaku saat melihat pemandangan di depannya. Seorang anak laki-laki tengah duduk di atas kap mobilnya dengan tatapan tajam. Dia adalah Aldrich.


Ria menoleh ke sekeliling, karena tiba-tiba saja banyak preman bermunculan dari segala arah dan mulai mengepungnya. Entah dimana mereka bersembunyi tadi, tapi itu sukses membuat Ria tidak menyadarinya.


"Heh? Kukira akan melihat ekspresi senang di wajah tante Ria. Bukankah kalian sudah berpikir bisa membunuhku?" Aldrich tersenyum kemudian melompat turun dari mobil.


Ria tidak menjawab. Ia berada diantara rasa takut dan kebingungan. Sebenarnya ada apa ini?


"Mulai sekarang, aku akan bicara seperti ibuku." Aldrich berjalan pelan mendekati Ria. "Tante tahu kan kalau ibuku baik? Jadi aku akan bicara baik-baik terlebih dahulu."


"A-aku tidak mengerti maksudmu." Ria mengangkat bahu.


"Tidak ingin bicara baik-baik?" Aldrich mengangkat sebelah alisnya.


"Hei lihat tas mahal itu."


"Aku lebih tertarik dengan kalungnya, pasti mahal."


"Omong kosong. Yang paling penting itu dompetnya."


Ria merasa ngeri mendengar bisikan dari para preman di sekelilingnya.

__ADS_1


Apakah maksud Aldrich bicara baik-baik itu, karena dia bisa mengendalikan para preman ini? Kalau tidak menurutinya, bagaimana nasibku?


Ria berusaha menelan ludah, dan mengangguk pelan. "Ba-baiklah, ayo kita bicara."


"Di dalam mobil saja."


Ria menuruti Aldrich. Mereka masuk mobil dan para preman tadi mengerumuni mobil itu untuk terus mengawasi Aldrich.


"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?" Ria sudah pasrah sekarang. Ia pasti akan diinterogasi oleh anak ini.


Aldrich mengambil ranselnya dan mengeluarkan sebuah foto dari dalam. Itu adalah foto sang ibu.


"Tidak perlu kutanya, tante Ria pasti kenal orang ini kan?"


Melihat foto Yunna disana, langsung mengingatkan Ria pada kejadian hari itu. Ia tidak pernah bisa melupakannya sedetikpun. "Ya."


"Sekarang ceritakan yang sebelumnya terjadi. Sebenarnya ada apa dengan ayah dan ibuku? Tenang saja, hanya aku, anak kecil polos yang akan mendengarkan. Teman-temanku di luar tidak akan mendengarnya." Aldrich tersenyum, dengan sebelah tangannya yang berada di dalam ransel menekan tombol on pada sebuah benda perekam suara. Ia sempat mengambil benda itu di perpustakaan, mungkin itu milik Emma.


"Oh? Itu bagus. Lanjutkan."


Ria mencengkram tangannya. Ia bingung harus memulai darimana. Sebenarnya, ia tidak ingin bercerita apapun, tapi semuanya hanya masalah waktu. Meskipun tidak bercerita sekarang, anak itu pasti akan mencari jawaban pada orang lain. Terlebih lagi, keluarga Hamilton yang sekarang sudah sangat sakit. Padahal dulu tidak seperti ini. Dulu... Semuanya sangat menyenangkan.


"Saat itu aku masih sangat muda, dan diterima bekerja menjadi salah satu asisten pribadi nyonya Yelena Hamilton. Lalu tiba-tiba ada kabar kalau istri tuan Charles sakit, jadi aku dipindah ke rumah tuan Charles dan istrinya, untuk membantu tugas perusahaan sekaligus membantu merawat istrinya. Dan disanalah aku pertama kali melihatnya. Anak itu bernama Jeff." Ria tersenyum sambil membayangkan potongan kejadian itu.


"Jeff selalu disibukkan dengan tumpukan buku. Aku hampir mengira dia bukan manusia. Sampai akhirnya, aku pernah melihatnya tertawa terbahak-bahak saat menonton kartun. Dan akhirnya aku sadar kalau dia sebenarnya sama dengan anak-anak lain. Di hari berikutnya, aku sering membuatkan cemilan untuk menemani Jeff belajar. Lalu kita jadi dekat seperti halnya keluarga. Dia akan memanggilku tante Ria dengan wajah imutnya kalau aku sedang sedih. Istri tuan Charles juga sangat baik, aku memanggilnya nona. Dia mengajariku cara memasak makanan berat, menyulam, dan mengajarkanku banyak bahasa karena dia juga orang yang sangat pintar. Aku senang sekali. Rasanya tidak ingin kehilangan masa-masa itu."


Ekspresi Ria berubah sedih, lalu menutup matanya. "Hingga saat itu tiba. Seorang dokter yang dipanggil ke rumah untuk mengecek nona, mengatakan diagnosa nya. Ternyata nona yang sering kelelahan dan lemas belakangan itu karena sedang mengandung anak kedua. Jelas semua orang terkejut, karena awalnya mereka kira karena kondisi fisik nona yang memang lemah sejak lahir. Tapi ternyata bukan."


Berarti hamil kak Matt ya. Aldrich mengangguk.

__ADS_1


"Kamu tahu kutukan keluarga Hamilton kan? Selama tujuh generasi, keluarga Hamilton hanya memiliki satu anak. Tapi sekarang ada anak lagi. Entah kenapa itu membuat nyonya Yelena sangat ketakutan. Dan meminta nona untuk menggugurkan anaknya. Tapi tuan Charles menentang keras, dia ingin menyelamatkan anaknya yang belum lahir itu. Lalu perang dingin di keluarga Hamilton terjadi."


"Jadi, hal itulah yang memicu orang tua itu menjadi gila?" Tanya Aldrich yang merujuk pada Yelena.


"Benar. Nyonya menjadi sangat aneh sejak saat itu. Katanya ini kutukan, dan kejayaan keluarga Hamilton akan hilang, jika tidak membunuh anak itu. Sampai akhirnya Jeff angkat bicara. Anak yang masih kecil itu mengatakan pendapatnya, yang membuat nyonya Yelena berhenti marah saat itu. Katanya 'Biarkan adikku hidup, karena meskipun dia mati sekarang, fakta aku memiliki adik itu tidak bisa dihilangkan. Dan tidak akan ada kutukan, karena pewaris keluarga Hamilton hanya satu, yaitu aku', jika mengingatnya lagi selalu membuatku merinding."


Ternyata banyak orang yang menyayangi kak Matt. Hanya saja dia yang salah berpikir, dan mengira orang-orang membencinya. Padahal dialah yang paling disayang.


Aldrich menghela nafas saat mengingat kata-kata Matt.


"Sejak saat itu, Jeff seolah ditargetkan oleh nyonya Yelena. Kebebasannya direnggut, dan dipaksa mempelajari bisnis di usianya yang masih kecil. Meskipun begitu, Jeff tidak pernah mengeluh. Dia mempelajari itu semua dengan patuh. Nyonya Yelena selalu menganggap cucunya hanya satu, yaitu Jeff, dan mengacuhkan Matt setiap melihatnya."


Ria menangkupkan wajahnya dengan frustasi. "Bertahun-tahun kemudian, kondisi nona semakin memburuk yang kemudian harus sepenuhnya berada di rumah sakit. Akhirnya aku yang merawat Jeff dan Matt. Hingga saat Matt masuk sekolah dasar, aku sudah disibukkan dengan urusan kantor dan tidak pulang ke rumah itu lagi."


"Beberapa tahun setelahnya, saat ingin menginjak masa kuliah, Jeff bersikeras ingin kuliah di luar negeri, tapi nyonya tidak mengijinkannya, meskipun begitu dia tetap pergi. Lalu disanalah Jeff bertemu perempuan itu." Ria melirik foto Yunna yang dikeluarkan Aldrich tadi. "Perempuan pembawa sial itu-"


Pak!


Aldrich memukul Ria dengan penggaris yang lagi-lagi ia ambil dari dalam ranselnya. "Berani sekali mengatai ibuku didepanku." Dengan emosi Aldrich memberi kode pada paman Tong yang terus memantaunya. Setelah melihat kode dari Aldrich, boss preman itu langsung membuka pintu mobil untuk menunggu perintah.


"Ambil kalungnya." Kata Aldrich dengan dingin.


"Oke Tobeli."


"Apa?! Tidak-" Belum sempat mempertahankan kalungnya, tangan boss preman itu lebih cepat menarik si kalung malang hingga putus.


"Selesai, silahkan dilanjut." Paman Tong kembali menutup pintu setelah mendapatkan rampasannya. Di luar, para anak buahnya mulai menggila karena mendapatkan harta berharga.


"Dengar ya tante Ria. Jika aku mendengar kau mengatai ibuku lagi, mungkin perintahku pada preman di luar akan lebih kejam lagi."

__ADS_1


Ria mulai mengeluarkan keringat dingin. Sepertinya ia benar-benar dalam masalah sekarang.


__ADS_2