Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Aman Sentosa


__ADS_3

Emma langsung menghela nafas saat melihat wajah Ezra. Lalu ia mengubah pandangannya pada office boy sebelumnya.


"Kau bisa pergi." Perintah Emma.


"Baik nona." Office boy itu akhirnya pergi.


"Aku bagaimana kakak Emma?" Ezra tersenyum lebar. Ia sangat senang bertemu dengan Emma.


"Pulanglah. Ayahmu mencarimu." Emma menggandeng Aldrich, dan berniat membawanya pergi.


"Aku tidak mau!" Ezra cemberut.


Aldrich sedikit iba pada Ezra. Ia menarik-narik jas yang dipakai Emma lalu bertanya. "Kak Emma kenal kakak ini?"


Nina memasang pendengarannya dengan seksama. Sebenarnya ia juga tidak tahu siapa orang ini. Karena Emma selalu menyuruh dirinya mengusir Ezra, maka ia hanya bisa mematuhinya.


"Ya. Dia anak salah satu kepala cabang Rose Group. Tapi beberapa minggu yang lalu, dia membuat kerusuhan di kampusnya di luar negeri. Membuat ayahnya harus membayar denda yang cukup besar. Ditambah dia juga dikeluarkan dari kampusnya. Karena sudah lelah mengurusi anak ini, ayahnya mengusirnya dari rumah dan dilarang pulang sebelum mengembalikan uang ayahnya yang sudah dipakai membayar denda."


"Huh! Ayahku sangat labil. Mengusirku tapi setelah itu menyuruhku pulang." Ezra melipat tangannya dengan kesal.


"Karena kau anak satu-satunya. Dan ayahmu memohon padaku agar menyuruhmu kembali ketika aku bertemu denganmu. Jadi sekarang kembalilah, Maverick."


"Aku tidak mau. Aku ingin membuktikan pada ayah kalau aku bisa mencari kerja dan mengembalikan uang itu padanya. Dan satu lagi, aku menggunakan sisa tabunganku untuk merubah nama, sekarang namaku Ezra."


Aldrich menggeleng pelan.


Benar-benar orang aneh. Punya tabungan bukannya dipakai untuk hal penting, malah dipakai mengganti nama. Lagipula dia anak tunggal keluarga kaya, pasti sudah memiliki sifat bawaan yang manja. Sangat tidak cocok bekerja jadi apapun. Pantas tingkahnya begitu polos, dia baru dalam hal mencari kerja. Kak Emma pasti sudah menyadari itu dan menolaknya bekerja disini.


"Ayolah kakak Emma, terima diriku." Ezra tiba-tiba memeluk salah satu kaki Emma.


Ini sih pemaksaan. Aldrich menatap Ezra yang otomatis juga berada di dekat kakinya.


"Ck! Baiklah." Emma akhirnya mengangguk.


Sontak Ezra melepaskan kaki Emma dan melompat kegirangan. "Horeee. Jadi apa nih? Sekretaris? Atau direktur?"

__ADS_1


Wah langsung minta jabatan tinggi.


"Lebih penting dari itu semua." Emma menunjukkan ekspresi serius. Membuat Ezra yakin akan mendapatkan posisi yang menguntungkan.


"Apa itu kakak?"


"Jadi tukang cuci piring."


Gubrak!


Aldrich dan Nina sudah tidak tahu lagi jalan pikiran Emma. Mereka hanya bisa melihat Ezra untuk menunggu jawabnnya.


"A-aku tidak menyangka kalau tukang cuci piring ternyata pangkatnya sangat tinggi. Terimakasih kakak Emma. Aku menerima pekerjaannya dengan senang hati. Sepertinya ini adalah jalanku menuju sukses. Aku akan pamer pada ayah!" Ezra senangnya bukan main.


Sudahlah. Dia ternyata mirip dengan kak Emma.


"Nina, antarkan Mave- maksudku Ezra ke bagian personalia."


"Baik nona."


"Memangnya disini butuh tukang cuci piring?" Aldrich melihat Emma dengan bingung.


"Disini ada cafetaria, dan menyediakan makanan bagi pegawai. Tentu saja butuh tukang cuci piring." Emma akhirnya menunjukkan ekspresi jahilnya, ia menutup mulut untuk menahan tawa.


Kak Emma sengaja. Jadi mari kita tunggu saja kabar berapa piring yang dipecahkan kak Ezra.


"Oh iya! Ayo ke ruang kerjaku, Al. Aku punya mainan loh disana." Emma kembali berjalan sambil menggandeng Aldrich.


"Yang benar?"


"Iya benar. Ada robot Gundam dan Ultraman."


"Kak Emma menyimpan barang seperti itu?"


"Untuk pajangan. Bukankah itu cocok untuk dipajang diperusahaan seperti ini?"

__ADS_1


Tapi ini perusahaan kosmetik.


"Itu apa, Al?" Emma melihat tangan Aldrich satunya yang memegang sebuah kantong plastik.


"Ini donat dari kak Nina. Katanya enak." Saat kerusuhan tadi, Aldrich masih sempat mengamankan donat yang dibelikan oleh Nina.


"Sini kucicipi." Emma langsung mengambil satu donat dan memakannya tanpa menunggu persetujuan Aldrich. "Jangan dimakan, Al. Ini terlalu manis. Tidak baik untuk gigimu. Sini kumakan semua." Emma merebut kantong plastik berisi donat itu dan memakannya sendiri.


Memangnya anak kecil tidak boleh makan makanan manis?


"Nanti kusuruh orang saja membawakanmu donat kentang yang tidak terlalu manis."


"Iya." Aldrich mengangguk dengan malas. Padahal tujuan utamanya menyelamatkan donat itu untuk dimakan. Tapi malah sekarang ia tidak bisa memakannya.


Emma membawa Aldrich muju lift dan menekan tombol lantai tujuh. Setelah sampai di lantai yang dimaksud, lift berhenti dan pintunya terbuka.


"Ruanganku diujung sana." Emma masih senantiasa menggandeng Aldrich. Sementara anak itu malah sibuk melihat sekeliling.


Lorong yang mereka lewati dari arah lift terlihat cukup unik. Disisi kanannya adalah tembok yang berisi lukisan, dan sebelah kirinya adalah kaca tembus pandang raksasa yang menyajikan pemandangan perkotaan yang padat. Jika dilihat pada malam hari pasti lebih indah.


"Nah ini dia." Emma berhenti di depan sebuah ruangan. Dari depan, tidak terlihat seperti kantor CEO karena pintunya yang biasa saja, seperti ruangan lain yang mereka lewati sepanjang lorong.


Emma mulai memasukkan kunci untuk membuka pintu.


"Eh? Sebelumnya dikunci?" Tanya Aldrich.


"Ya benar. Asal kamu tahu saja, ini adalah tempat paling aman di gedung ini loh. Orang luar tidak akan ada yang tahu kalau ini ruangan CEO. Selain karena tidak ada nama ruangannya, jika dilihat-lihat ini sama seperti ruangan lain. Kunci ruangan ini hanya ada 3. Satu kubawa, satu lagi ada di tangan petugas kebersihan, dan satunya lagi... Dibawa Wayne. Jadi cctv tidak dibutuhkan disini. Aman sentosa."


Setelah bercerita begitu, Emma membuka pintu perlahan.


"Oh kalian lama sekali." Matt berdiri dari kursi yang seharusnya milik Emma.


"Kau!!!"


Apakah ini yang disebut aman sentosa?

__ADS_1


__ADS_2