
Aldrich keluar kamar hotel meninggalkan Matt yang masih berbenah. Ia menuju kamar Emma yang berada disebelah kamarnya.
"Kak." Aldrich langsung menyapa Emma yang baru saja selesai dengan kopernya.
"Oh Al. Ada apa?"
"Sepertinya nenek kak Matt sakit." Ucap Aldrich sambil duduk di samping Emma.
"Eh? Nyonya Yelena Hamilton ya? Matt tidak bilang apapun padaku."
"Tadi kak Matt bilang cerita." Aldrich berbohong dengan sangat mulus, sampai Emma benar-benar percaya. "Apakah kita harus menemui nenek kak Matt juga? Bagaimanapun kak Matt terlambat tahu kalau neneknya sakit karena liburan bersama kita."
Emma mengangguk dengan mantap. "Kamu benar juga, Al. Kita harus menjenguknya. Sekaligus bisa menghilangkan kabar miring soal Rose Group yang bersitegang dengan keluarga Hamilton, karena perebutan kekuasaan orang nomor satu."
"Iya kak." Aldrich tersenyum. Akhirnya ia bisa menemui Yelena Hamilton, otak dari kematian ibunya. Ia tidak sabar melihat ekspresi orang itu saat melihat dirinya.
◌
Akhirnya mereka bertiga berhasil pulang. Di bandara, Ron dan Ruri datang untuk membawa barang-barang Emma dan Aldrich ke rumah, sementara pemiliknya akan langsung pergi lagi bersama Matt.
Tidak disangka, Matt mengizinkan Emma dan Aldrich untuk bertemu neneknya. Sebenarnya ia lebih tidak ingin mendengarkan ceramah panjang dari sang nenek, jadi untuk meredamnya, Matt membawa bala bantuan. Neneknya tidak akan bicara sembarangan jika ada orang lain di dekat mereka. Telinganya bisa aman untuk beberapa saat.
Setelah perjalanan yang cukup singkat, mobil Matt berhenti di depan sebuah rumah sakit mewah. Gedungnya terlihat terlalu elegan untuk ukuran rumah sakit. Jelas tempat ini diperuntukkan bagi orang kelas atas yang arogan dan ingin mencari sensasi.
Memang cocok sekali untuk Yelena Hamilton. Aldrich tersenyum sarkas sambil mengikuti langkah kaki Matt dan Emma memasuki lobby.
"Nenekmu sakit apa?" Tanya Emma.
"Darah tinggi. Sering kambuh belakangan ini. Tapi belum sampai mengancam nyawa." Jawab Matt sambil melihat sekeliling mencari kamar neneknya.
Darah tinggi? Bagus juga. Aldrich mengusap dagunya karena terpikirkan sebuah ide yang menarik.
"Sebelah sini." Matt mencocokkan arah yang ia tuju dengan pesan singkat yang dikirim oleh ayahnya.
__ADS_1
Melangkah semakin jauh membuat Aldrich semakin tidak sabar. Ia sekarang sangat bahagia. Ini adalah saat-saat yang ia nantikan.
Matt tiba-tiba berhenti di depan pintu sebuah ruang rawat. Ruangan inilah yang dikatakan ayahnya di dalam pesan. Matt seperti mempersiapkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, perlahan tangannya memegang gagang pintu dan membukanya.
Mereka bertiga masuk, dan membuat seluruh orang di dalamnya menoleh.
Sepertinya baru saja ada pembicaraan serius yang terjadi. Tampak Yelena Hamilton dengan wajah sedikit keriput dan uban yang ada di beberapa sisi rambutnya, sedang duduk dengan wajah serius. Dan disampingnya ada Charles tengah berdiri berdampingan dengan Ria.
Melihat Matt masuk membawa orang lain, membuat perhatian mereka tercuri. Tapi yang membuat mereka syok adalah Aldrich. Keberadaan anak yang berdiri di samping Emma itu, membuat kedua mata Yelena terbelalak.
"Nenek, aku datang."
Suasana tiba-tiba berubah dingin. Mulut Yelena terkatup-katup seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi saking syoknya, suaranya tertinggal di tenggorokan, dan ia tidak bisa bersuara.
"Di-di-dia..." Yelena menunjuk Aldrich dengan tangan yang bergetar. Ia langsung terbayang sosok seorang perempuan lewat wajah anak itu. Perempuan yang sangat ia benci. "Kenapa dia bisa berada disini?!" Teriak Yelena Hamilton kemudian.
"Ah begini, Aldrich anak saya." Emma mencoba memperkenalkan.
"Ti-tidak mungkin!" Yelena menjambak rambutnya. Ia langsung teringat perkataan seseorang yang sempat terlupakan.
Yelena beralih melihat Charles yang ikut syok dengan Aldrich. Ia juga tidak percaya ada orang yang begitu mirip dengan orang itu.
Aldrich paham arti tatapan mata ketakutan sekaligus benci dari Yelena dan Charles. Sebelumnya Charles tidak melihat wajahnya dengan jelas di acara pertunangan Matt, tapi sekarang berbeda. Dan mereka terlihat tidak percaya.
"Kenapa kalian diam saja?! Cepat tangkap anak itu sekarang!!!" Perintah Yelena pada Charles dan Ria.
"Tunggu dulu, ada apa ini?" Matt kebingungan. Niatnya hanya membawa Emma dan Aldrich bertemu neneknya. Tapi kenapa malah jadi begini?
"Kenapa masih bertanya bodoh?!Dia anak yang kita cari!"
"Ibu tenanglah dulu." Charles coba menenangkan ibunya. Sementara Ria disebelahnya bingung harus berbuat apa.
Sekali lagi Charles melirik kearah Aldrich. Aku juga yakin kalau itu adalah anak yang kita cari. Wajahnya mirip sekali dengan Yunna dan matanya seperti Jeff. Tapi... Susah juga, Emma Rosaline bilang Aldrich adalah anaknya. Kalau mengambil anak itu secara paksa sekarang, sama saja dengan menantang Rose Group. Tidak bagus, keluargaku mulai kalah dengan Rose Group belakangan ini. Bagaimana jadinya kalau Emma Rosaline tidak terima? Sebaiknya mundur dulu, dan susun rencana.
__ADS_1
"Maaf? Apa ada masalah dengan anak saya?" Emma menatap curiga pada Yelena dan Charles. Lalu menggandeng tangan Aldrich di sampingnya.
Gawat! Dia mulai marah. Charles buru-buru mendekati Emma dengan senyum yang ia buat seramah mungkin.
"Maaf nona Emma, ibu saya baru saja disuntik obat bius. Mungkin efek sebentar lagi akan tertidur jadi seperti ini. Mohon maafkan beliau." Charles sedikit membungkuk di depan Emma.
"Apa-apaan kamu Charles?! Ibu tidak kenapa-napa. Cepat! Ambil anak itu!"
"Benar. Nyonya Yelena Hamilton tidak terlihat seperti terkena efek obat bius." Kata Aldrich dengan santai, dan semua orang langsung melihat kearahnya. "Jadi, apakah nyonya sedang berhalusinasi? Memangnya anak siapa yang dimaksud? Apakah mirip aku?"
"Dia! Memang dia anaknya! Cepat tangakap!" Yelena masih berteriak. Ia ketakutan sekaligus senang. Duri keluarga Hamilton yang ia cari bertahun-tahun akhirnya muncul di hadapannya. Rasanya ingin segera menangkap dan mencabik-cabiknya.
Matt masih terdiam. Ia melihat neneknya dan berganti menatap Aldrich. Sebenarnya ia dari awal sudah curiga saat melihat anak itu, rasanya seperti bertemu kakaknya. Tapi ia tidak yakin karena background Aldrich yang merupakan anak jalanan tanpa identitas. Melihat neneknya yang begitu yakin, membuat Matt merasa apa yang ia duga selama ini benar. Jadi, jika itu memang Aldrich, berarti dialah pewaris keluarga Hamilton selanjutnya?
Tapi... Matt curiga dengan gerak-gerik neneknya. Perkataan neneknya kasar, tidak seperti menemukan cucu yang sudah lama hilang untuk dijadikan calon pewaris. Tingkah neneknya malah seperti bertemu musuh yang akan dihabisi.
Sebenarnya ada apa ini?
Emma menarik tangan Aldrich dan mengajaknya untuk pergi. "Kalau memang seperti itu, saya dan Aldrich akan pulang. Semoga nyonya cepat sembuh, dan bisa berpikir lebih jernih kedepannya."
"Tunggu." Aldrich berhenti sebentar lalu menoleh kearah Yelena sambil tersenyum. "Sampai jumpa lagi."
Setelahnya Charles membiarkan Emma pergi bersama Aldrich, begitupun dengan Matt yang tidak berniat untuk menghalangi mereka.
"Apa yang kalian lakukan?! Bodoh! Bawa kemari anak itu cepat!"
"Ibu, dia berada disisi Emma Rosaline. Kita harus memiliki rencana yang matang untuk membawanya. Emma adalah saingan bisnis terberat kita, cukup merepotkan kalau harus berurusan dengan dia." Ucap Charles sambil berjalan mendekati sang ibu.
"Saya setuju. Lebih banyak persiapan maka lebih bagus. Sebelumnya kita terlalu gegabah." Akhirnya Ria membuka suaranya.
"Iya iya aku mengerti. Kalian urus saja. Tapi aku ingin melihat anak itu segera."
"Tunggu, apa maksud kalian?" Matt mendekati ranjang neneknya yang dipenuhi kehebohan itu. "Kalau Aldrich tidak mau ikut kita ya sudah. Kenapa harus dipaksa? Toh dia sudah menjadi anak Emma, calon pewaris Rose Group. Kenapa kalian ingin memaksa anak itu kesini?"
__ADS_1
"Si bodoh ini." Yelena tersenyum sinis lalu menatap Matt dengan tajam. "Kamu masih percaya kalau kita mencarinya untuk dijadikan pewaris? Tentu saja tidak. Yang kuinginkan adalah nyawanya."
"Apa kau bilang?"