Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Seperti Keluarga


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan disini?!" Emma menunjuk Matt dengan aura permusuhan.


"Menunggu kalian." Jawab Matt santai sambil berjalan mendekati Aldrich dan Emma.


"Bagaimana kau bisa masuk?"


"Lewat pintu. Tidak mungkin aku memanjat gedung sampai lantai tujuh hanya untuk masuk dari jendela kan?" Matt masih saja santai menjawab Emma yang sudah meledak karena emosi sekaligus terkejut.


"Bukan begitu, tapi bagaimana caranya? Ruangan ini hanya memiliki tiga kunci. Jangan-jangan kau mengambil kunci dari petugas kebersihan ruanganku ya."


"Aku menduplikasinya. Itu mudah. Lagipula, kau memakai kunci kuno."


Wow kak Matt benar-benar mengeluarkan tenaga hanya untuk kemari. Kira-kira kenapa ya?


"Ck! Aku tidak butuh komentarmu. Sekarang pergi dari sini!" Emma menunjuk pintu dengan emosi.


"Aku kesini ingin bertemu Aldrich, bukan kau." Matt berjongkok di depan Aldrich dan mengusap kepala anak itu. "Bagaimana keadaanmu? Masih sakit kepalanya?"


"Tidak, aku baik kak." Jawab Aldrich dengan senyuman lebar.


"Sudah kubilang, panggil saja papa."


"Cuih! Dia anakku, kenapa harus memanggilmu papa?" Protes si pencemburu yang berdiri di samping Aldrich.


"Aku tertarik dengan Aldrich. Bisakah kau memberikan hak asuhnya padaku?"


Kenapa kedengarannya seperti aku anak brokenhome yang diperebutkan orang tua.


Meskipun besar kemungkinan aku berasal dari keluarga Hamilton. Tapi... Entah kenapa aku ingin bersama kak Emma.


Aduh, aku berpikir apa sih?


"Enak saja! Memangnya anakku bola yang gampang dilempar-lempar?"


"Sudahlah. Aku hanya ingin bermain. Apakah kak Matt, dan kak Emma ingin menemaniku bermain?" Aldrich menunjukkan ekspresi polosnya sambil memandang Emma dan Matt bergantian.

__ADS_1


Sepontan emosi Emma hilang, ia merasa bersalah karena hanya marah-marah dan melupakan tujuannya membawa Aldrich kemari. Matt pun sama, ia akhirnya berhenti menjahili Emma untuk sengaja membuat dia emosi.


"Kebetulan, aku membawa beberapa mainan untukmu." Matt mengangkat sebuah kantong belanjaan yang sebelumnya ia taruh diatas meja.


"Asiikkk, ayo kita main bertiga."



1 jam kemudian.


"Akhirnya Harley Quinn menikah dengan Superman, dan hidup bahagia selamanya." Aldrich menaruh dua action figure diatas buku yang ditumpuk sebagai pelaminan.


"Lalu tidak disangka Ultraman datang dan mengacaukan pernikahan." Emma mengobrak-abrik pelaminan yang dibuat Aldrich dengan pajangan Ultraman besarnya. "Hore!!! Hidup jomblo!"


"Superman memanggil temannya si Godzilla untuk melawan Ultraman." Aldrich mengeluarkan action figure Godzilla pemberian Matt, dan menekan tombol laser.


"Akh! Aku hampir kalah ninu ninu."


"Apa tuh kak ninu ninu?" Tanya Aldrich.


"Suara lampu di dadanya Ultraman." Setelah menjelaskan, Emma melirik Matt. "Bantuin woi! Malah mainan pasir."


"Ini udah ninu ninu, berarti waktunya kau muncul."


Mereka berdua lucu sekali. Tetap bertengkar meskipun memainkan hal sepele. Sepertinya, pertengkaran itu yang membuat mereka semakin dekat.


Aldrich hanya tersenyum melihat tingkah Matt dan Emma.


Tok! Tok!


Nina berdiri di bibir pintu. "Maaf menganggu acara keluarga yang hangat. Tapi... Nona, ada tamu untuk anda."


"Ya ampun, kenapa tidak telpon ke ruanganku saja seperti biasa?" Emma berdiri dan menaruh atribut bermainnya.


"Sudah, tapi tidak diangkat."

__ADS_1


"Iyakah? Berarti aku tidak dengar."


"Kau mau pergi?" Tanya Matt yang baru saja ingin masuk dalam permainan.


"Iya, tolong jaga Aldrich sebentar." Emma langsung pergi tanpa menunggu jawaban Matt.


"Yahh tidak seru." Aldrich merapikan kembali semua mainan yang sudah berserakan.


"Tanpa si cerewet itu, memang kurang seru." Matt sedikit tersenyum saat mengatakannya, lalu membantu Aldrich membersihkan mainan.


Entah kenapa perasaanku mengatakan kalau kak Matt sebenarnya menyukai kak Emma. Tapi dia tidak menyadarinya. Lalu kenapa sebelumnya dia bersama kak Sylvia itu? Pasti ada sesuatu yang terjadi diantara mereka sebelumnya.


"Oh iya, kenapa kak Matt sangat menyukai kak Sylvia? Bahkan sampai tidak percaya dengan foto-foto dari kak Emma sebelumnya."


"Tiba-tiba saja membahas ini. Memang anak yang mengejutkan." Matt tertawa sebentar lalu menatap Aldrich dengan serius. "Dulu saat aku baru pulang dari luar negeri setelah lulus kuliah, tiba-tiba ada yang merampokku saat perjalanan ke rumah. Supirku luka parah, dan semua barang-barangku diambil. Saat itu sudah malam dan jalanan sepi, tidak ada mobil yang lewat untuk meminta pertolongan. Sampai akhirnya Sylvia muncul. Dia membantu memanggil ambulan untuk supirku, dan selalu menemaniku. Sejak saat itu, aku dan dia sering bertemu. Begitulah."


Aldrich mengangguk. Sudah kuduga. Kak Matt salah mengartikan perasaan hutang budi dan kekagumannya pada kak Sylvia saat itu, dengan perasaan suka. Padahal yang ia sukai adalah kak Emma.


Akhirnya Aldrich dan Matt sudah selesai membersihkan semuanya. Termasuk berkas penting dan buku-buku yang sebelumnya dijadikan rumah dan benteng, ditata kembali dengan rapi.


"Terimakasih untuk mainannya kak. Tapi tujuan kak Matt kemari sebenarnya bukan untuk ini kan?"


Ada apa ini? Kenapa Aldrich tahu? Semakin lama aku bicara dengannya, semakin dia bisa membaca gerak-gerikku. Bukankah dia hanya anak biasa?


Atau... Mungkin memang aku terlalu banyak berpikir.


"Iya benar." Matt mengangguk. "Sebenarnya aku kemari untuk meminta maaf pada Emma. Tapi karena aku bingung bagaimana memulainya, jadi tidak sempat."


Aldrich menggeleng. "Apanya yang tidak sempat? Saat kak Emma kembali, minta maaflah dengan sepenuh hati. Aku akan pergi ke toilet, agar kak Matt tidak malu hehe."


"Dasar kau ini." Matt melempar bantal sofa pada Aldrich.


"Bayar pakai donat dong kak. Tadi aku ingin makan donat tapi malah direbut sama kak Emma." Aldrich menunjukkan ekspresi kesal.


Hehehe... Sesekali minta jajan tidak apa-apa kan?

__ADS_1


"Ya ampun, mama macam apa itu? Jangan khawatir, mau borong donat satu toko juga tidak apa-apa kok."


Itu berlebihan.


__ADS_2