
"Apa?! Masih belum ada kabar?! Kenapa mereka begitu tidak berguna? Hanya menangkap anak kecil tidak bisa!" Baru saja Yelena merasakan senangnya hidup, Tiba-tiba kembali mendapat kabar buruk.
Yelena sudah mengutus beberapa preman yang katanya ahli dalam membunuh, tapi nyatanya sampai sekarang ia belum mendapat kabar apakah mereka sudah berhasil membunuh Aldrich atau belum. Ditambah lagi, mata-matanya yang berada di rumah Emma hilang kontak. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Si Korn itu juga tidak berguna! Bukannya membantu preman kita malah pergi setelah memotret. Bodoh! Suruh orang bunuh dia dan pacar kampungnya itu."
"Baik nyonya." Jawab Ria dengan pasrah. Dirinya sudah menjadi pesuruh Yelena untuk melakukan tindakan kotor sejak pertama kali menginjakkan kaki di keluarga Hamilton. Jadi mendengar perintah seperti ini sudah tidak mengejutkan lagi Baginya.
"Ibu, Matt berhasil kabur dari rumah!" Charles tiba-tiba masuk dan berteriak dengan panik.
"Huh? Memangnya kenapa? Tidak usah terlalu mendramatisir. Sekalipun dia ingin mengadu pada Emma sekarang, perempuan itu pasti tidak akan mau menemuinya. Palingan anak bodoh itu akan kabur ke luar negeri lagi. Dia tidak akan bisa menganggu rencanaku yang sudah sampai di titik ini."
Charles menunduk. "Tapi, aku khawatir padanya."
"Anak seperti itu kenapa harus kau khawatirkan?! Pergi dan kembali ke perusahaan!"
Charles akhirnya menuruti sang ibu. Ia berjalan keluar dengan lesu. Meskipun selalu bertengkar dengan Matt dan bicara kasar padanya, tapi jujur saja sebagai ayah, ia sangat menyayangi Matt. Ia tidak ingin kehilangan anaknya lagi. Apakah ini sudah terlambat?
"Tunggu."
Charles menoleh dan mendapati Ria yang berlari kearahnya dengan terburu-buru. "Jangan khawatir. Aku dengar, Ryker tidak datang ke perusahaan pagi ini. Jadi, mereka pasti sedang bersama."
"Tapi Ryker tidak bisa bertarung."
"Setidaknya dia pintar."
Charles tersenyum sambil menggaruk kepalanya. "Benar juga, Matt kan bodoh."
◌
Aldrich menatap seorang wanita yang sedang menuangkan nasi goreng di piring. Rambutnya berwana hitam sedikit bergelombang, tatapan matanya lembut seolah mencerminkan sikapnya, dan bibirnya terus tersenyum dengan manis.
Hm... Inikah istrinya paman Wayne? Tidak cocok sama sekali.
Duk!
Wayne menendang kaki Aldrich dari bawah meja makan. Mungkin maksudnya berhenti untuk menatap istrinya. Pencemburuan sekali.
"Ayo waktunya makan." Wanita tadi menaruh piring nasi goreng di depan Aldrich.
"Ah terimakasih tante, tapi aku sudah makan."
"Makan saja!!!" Wayne langsung membentak.
"Hiks... I-iya paman." Aldrich pura-pura takut.
__ADS_1
"Aduh, jangan kasar pada anak kecil." Wanita itu menunjukkan ekspresi marah pada Wayne, lalu seketika berganti ekspresi saat menatap Aldrich. "Dimakan ya nak, kamu pasti lapar kan? Tidak apa-apa, jangan takut. Pasti kamu masih trauma setelah tersesat di pasar. Tapi tenang saja, orang tuamu sudah tahu kalau kamu disini. Nanti mereka yang jemput."
Aldrich merasa setiap kata yang dilontarkan wanita di depannya ini sangat lembut. Bahkan suaranya bisa membuat Aldrich merasa tenang. Hebat sekali!
"Nama tante siapa?"
"Karine. Salam kenal."
Aldrich mengangguk kemudian mulai makan nasi gorengnya. Tepat di sampingnya, Chris sudah makan terlebih dahulu tanpa menghiraukan pembicaraan orang tuanya.
◌
Setelah selesai makan, Wayne mengajak Aldrich berbicara di taman belakang rumahnya. Karine dan Chris sudah melakukan tidur siang mereka yang damai.
"Wah paman Wayne ternyata memiliki istri yang cantik. Kenapa disembunyikan?" Tanya Aldrich sambil mengikuti langkah Wayne mengitari taman.
"Sudah tahu ya? sesuai dugaanku. Sejak aku diusir oleh Emma hari itu, aku menyadari sesuatu. Kalau kau tidak seperti anak pada umumnya. Awalnya aku bingung kenapa kau bisa bicara begitu lancar dengan orang kaya yang asing, dan juga gaya bicaramu tertata. Kau tahu kapan harus bertanya, dan kapan harus diam untuk mengamati keadaan. Benar-benar anak licik."
Wayne berhenti berjalan dan menatap Aldrich. "Ya benar, seperti perkataanmu. Aku menyembunyikan Karine."
"Kenapa? Bahkan kak Emma juga tidak diberitahu."
"Karena aku melakukan hal yang tidak terpuji."
"Selain korupsi, hal tidak terpuji apa lagi?"
Aldrich mengangguk dan melakukan gerakan mengunci mulut.
"Hal tidak terpujinya adalah, akulah yang sudah membunuh suami Karine, ayahnya Chris. Jadi Emma pasti akan membenciku."
"Astaga plot twist sekali. Pasti karena cintanya paman Wayne ditolak ya? jadi membunuh suaminya untuk bisa mendapatkan tante Karine?" Tebak Aldrich dengan wajah pura-pura polosnya.
"Sebentar lagi aku akan benar-benar merobek mulutmu."
Aldrich kembali melakukan gerakan mengunci mulut.
"Suami Karine itu jahat. Aku melihatnya saat ingin menyakiti Karine dengan pisau. Aku berniat menghalanginya, tapi dia malah berusaha membunuhku. Ya sudah kubunuh saja."
"Enteng sekali ya." Aldrich sedikit menjauh setelah berkomentar. Karena mungkin saja Wayne benar-benar akan merobek mulutnya.
"Sudahlah, berhenti membahasku. Sekarang ceritakan apa yang terjadi?"
Aldrich merasa kalau Wayne bukanlah ancaman. Malah sebaliknya, jika ada Wayne mungkin saja tidak akan ada lagi preman yang berani masuk ke rumah Emma. Tapi apakah Wayne bersedia tinggal lagi bersama Emma?
Ah sudahlah, itu pikir belakangan saja. Yang terpenting paman Wayne tidak jahat, dan aku bisa menceritakan semuanya.
__ADS_1
Aldrich mulai berbicara. Menceritakan dari awal seolah baru saja terjadi. Sikapnya tenang seperti mengatakan cerita orang lain. Sambil membayangkan wajah ibunya dan sang ayah yang berada di foto, Aldrich mengatakan soal keluarga Hamilton dan keinginan Emma untuk membantunya. Hingga akhirnya semua menjadi seperti sekarang ini.
Wayne terus mendengarkan cerita Aldrich dengan serius. Tatapan matanya tak beraturan seperti memikirkan sesuatu. Terkadang menghela nafas, dan menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Wayne, ia merasa kasihan dengan Aldrich. Di tubuh anak yang sekecil itu, sudah membawa beban hidup yang begitu berat. Pantas saja, Emma yang pada dasarnya mudah tersentuh, bersedia membantu Aldrich dan rela terkena imbasnya.
Hingga cerita berakhir, Wayne masih belum bicara. Ia sedang mencerna perkataan Aldrich.
"Aku berterimakasih sekali karena paman Wayne sudah menyelamatkanku. Sekarang aku harus pergi lagi."
"Kemana?" Wayne melirik Aldrich yang mulai menggendong ranselnya.
"Mengajak seseorang untuk bekerjasama."
"Seseorang?"
"Intinya aku harus pergi sekarang. Sampaikan terimakasihku pada tante Karine, dan semoga Chris bisa sadar kalau buaya tidak makan kue."
"Ha?!" Wayne belum sempat protes, tapi Aldrich sudah berlari meninggalkannya.
Jika menurut ceritanya, apakah Aldrich ingin menemui keluarga Hamilton? Celaka, kenapa aku baru paham?! Belakangan ini otakku menjadi tumpul.
Wayne berlari ke depan rumah dan melihat sekeliling, ternyata Aldrich sudah benar-benar hilang.
"Kenapa anak itu larinya cepat sekali? Harus memberitahu Emma sekarang. Untung saja aku masih ingat nomor telepon rumah."
◌
Aldrich mulai berjalan saat hampir sampai di tempat tujuannya. Sedari tadi berlarian membuat kedua kakinya pegal. Tanpa menurunkan kewaspadaannya, Aldrich memasuki beberapa gang sempit yang penuh tikungan. Sampai akhirnya ia sampai di pinggir sungai yang sama dengan sungai belakang rumahnya.
Tatapan mata Aldrich menyusuri bantaran sungai, dan ia tersenyum saat orang yang dicari terlihat disana. Seorang anak laki-laki berumur 15 tahun yang sedang mencuci piring di pinggir sungai. Dia adalah Popol, temannya.
"Popol!" Aldrich berjalan mendekati Popol yang sudah terkejut setengah mati hanya dengan mendengar suaranya.
"Aldrich?! Astaga, adik kecilkuuu." Popol sepontan mendekati Aldrich dan memeluknya dengan haru. "Kau kemana saja? Paman Tong dan yang lain cerita kalau bertemu denganmu malam-malam. Curang sekali! Kenapa kau tidak menemuiku juga?"
Aldrich melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Katanya pantatmu sakit karena ngesot."
"Oh iya, ini baru sembuh hehe." Popol menggaruk tengkuknya dengan malu. "Lalu kenapa kau tiba-tiba menemuiku? Ada apa?"
"Aku ingin mengumpulkan paman Tong dan yang lain. Untuk mengajak mereka menakut-nakuti seseorang."
"Hei kedengarannya asik. Aku ikut juga."
Aldrich mengangguk. Popol juga terbilang kuat karena sering ikut memalak komplotan preman asuhan paman Tong. Terlebih lagi tubuhnya memiliki banyak tato yang membuatnya terlihat lebih menyeramkan.
__ADS_1
Bagus. Tante Ria adalah target pertamaku. Semoga dia senang.