Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Musuh Atau Teman?


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Bangun! Bangun! Bangun!"


Aldrich terbangun karena teriakan heboh Emma. Ia menyibakkan selimut dan duduk. Tak jauh dari ranjangnya, Emma melompat-lompat sambil memakai pelampung dan kacamata renang.


"Bangun, Al. Ayo kita ke pantai!!!"


Astaga jam berapa ini? Aku sudah terbiasa bangun pagi, tapi kak Emma membangunkanku lebih dulu. Berarti ini masih sangat pagi.


"Pantai! Pantai! Pantai! Ayo lihat sunrise!"


Aldrich celingukan mencari jam dinding, ia masih belum hafal letak jam di kamar barunya ini.


Emma yang melihat Aldrich, langsung tahu apa yang anak itu cari. "Ingin melihat jam? Ini jam 3 pagi."


Jam 3 pagi?! Yang benar saja!!!


Aldrich memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Bukankah ini terlalu pagi? Kita bisa pergi jam 5."


"Itu sudah siang. Ayo kita pergi sekarang!"


"Memang pantainya dimana?"


"Luar negeri."


Haaahhh?!


"Tidak bisa." Wayne tiba-tiba muncul di bibir pintu.


"Eh? Kenapa?" Ekspresi Emma seketika berubah sedih.


"Dia belum punya paspor. Dan untuk membuatnya perlu akte kelahiran. Apa dia punya?" Wayne melirik Aldrich sinis.


Aldrich menggeleng lemah.


"Oh iya aku lupa. Kalau begitu, cepat buat sekarang Wayne."


"Tidak bisa secepat itu. Lagipula bukankah kita belum tidur? Hal terpenting sekarang adalah tidur. Selamat tinggal." Wayne pergi.


"Ck! Dasar pemalas."


Aldrich menatap Emma yang dengan sedih melepas kacamata renang dan pelampungnya. Rencananya untuk pergi ke pantai gagal.


Eh? kak Emma belum tidur? Semalam aku menunggunya pulang kantor tapi sampai larut masih belum pulang. Akhirnya kakek menyuruhku tidur dulu. Jadi dia belum tidur? Apa masalah pekerjaan?


"Kak Emma belum tidur?"

__ADS_1


"Ah... Iya. Baru kutinggal sebentar, pekerjaanku sudah menumpuk setinggi gunung Everest. Mungkin kalau kutinggal sebulan, tinggi pekerjaanku bisa masuk guiness book world record hahaha."


Aldrich tersenyum kemudian menepuk bagian kosong kasurnya. "Ayo tidur bersamaku kak."


"Tidur bersama?!"


Gawat kalau Ron lihat, aku akan dikira pedofil. Emma sepontan celingukan.


"Cari siapa?"


"Tidak kok hahaha."


Oke aman.


Emma langsung berbaring di samping Aldrich. Dan anak laki-laki itu ikut tiduran di sampingnya.


"Aku tidak bisa tidur, Al. Tidak mengantuk sama sekali."


"Dulu saat aku kecil, dan tidak bisa tidur, ibu akan menyanyikan lagu tidur untukku."


Dan saat besar, kalau tidak bisa tidur malah dimarahi. Katanya nanti terlambat jualan.


"Benarkah? Coba nyanyikan. Agar aku bisa tidur." Emma menoleh dan menatap Aldrich.


"Suaraku jelek. Nanti bukannya tidur, kak Emma malah sakit telinga."


"Hahaha tidak apa-apa."


"Entahlah. Aku tumbuh di panti asuhan. Ibu asuh merawat banyak anak, jadi tidak bisa memperhatikan satu persatu anak sudah tidur atau belum. Saat aku sudah diadopsi, tuan Casius menyarankanku, kalau tidak bisa tidur coba membaca pekerjaan, katanya nanti ngantuk sendiri. Tapi saat mengikuti tipsnya, aku malah tidak bisa tidur haha. Aku hanya akan tidur kalau mengantuk."


"Karena kakak tidak mengantuk, coba ceritakan padaku kehidupan sekolah kakak dulu."


Katanya, kak Matt adalah kakak kelas kak Emma dulu. Aku bisa sedikit mengetahui gerak geriknya dari cerita ini.


"Dunia sekolahku membosankan. Anak-anak orang kaya bersekolah dengan sangat serius. Bahkan saat jam kosong mereka tetap belajar. Kebanyakan adalah calon pewaris perusahaan orang tuanya, jadi sedari kecil sudah dididik untuk disiplin. Membosankan. Makanya dulu aku sering merusuh di kelas, agar anak-anak lain mengikutiku hahaha."


"Lalu?" Aldrich menatap langit-langit kamar sambil membayangkan cerita Emma.


"Yaa aku sering membuat keusilan. Seperti menaruh lem di bangku siswa paling rajin di kelas, lalu saat dia bangung dari kursinya celananya sobek hahaha. Padahal aku tidak mengenalnya, aduh kasihan. Aku juga pernah menaruh boneka hantu di balik pintu kelas, agar siswa rajin yang berangkat paling awal terkejut melihatnya. Sampai pernah ada yang mengompol hahaha."


"Apa kakak tidak ketahuan?"


"Tentu saja ketahuan. Kelas itu memiliki cctv. Tapi tuan Casius tidak pernah memarahiku. Meskipun dia melarangku memiliki teman, tapi semua tingkah lakuku tidak diprotes sama sekali."


"Kakak jadi terkenal di sekolah ya."


"Oh itu pasti. Sampai Matt Hamilton mengataiku perusuh. Sejak sekolah, kita sudah menjadi musuh."

__ADS_1


"Eh? Kata kakak keluarga Hamilton akan memperkenalkan anaknya ke publik saat usia 26 tahun. Lalu bagaimana kak Matt itu diperkenalkan di sekolah?"


"Ya namanya cuma Matt. Meskipun aku tahu dia Matt Hamilton."


"Eh? Kak Emma sudah tahu?"


"Ya. Karena sebuah kejadian. Saat itu hujan deras aku tidak membawa payung, dan kebetulan supir terjebak macet jadi terlambat datang. Aku berniat naik taksi tapi tidak punya Payung untuk berjalan ke pinggir jalan besar. Lalu dia datang. Matt melempariku sebuah payung sambil berkata 'pakai itu dasar perusuh' lalu dia pergi berlari menerjang hujan. Di payung itu tertulis Matt Hamilton."


Aldrich mengangguk. "Lalu bagaimana cara kak Emma mengembalikan payungnya?"


"Saat aku mengembalikannya, aku berbisik 'kau anak keluarga Hamilton ya' lalu dia takut aku membocorkannya ke publik. Akhirnya aku meminta uang 5 juta sebagai uang tutup mulut hahaha. Bodoh kan? Seharusnya aku minta lebih banyak."


"Kak Matt tidak marah pada kakak?"


"Kurasa tidak. Kita malah tambah dekat. Dia sering mengajakku kemana-mana. Seperti, 'hei perusuh mau ke kantin tidak? Kutraktir kue Sus', atau 'hei perusuh wifi di perpustakaan baru diisi tuh, ayo marathon one Piece'. Bagiku itu kenangan yang cukup indah."


Tadi katanya musuh. Tapi kenapa terdengar seperti teman dekat?


"Hoaaaammm.... Tapi pada akhirnya, kita menjadi seperti orang lain setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Dia tiba-tiba datang ke perushaanku... Untuk mencari... Seorang...."


"Seorang?" Aldrich menoleh kearah Emma yang tiba-tiba berhenti bercerita. Ternyata perempuan itu sudah tertidur dengan nyenyaknya.


Aldrich tersenyum dan menaikkan selimut Emma. "Selamat tidur kak."


Setelah melihat Emma tidur. Aldrich malah tidak bisa tidur. Ia sudah mencoba berguling kesana kemari tapi belum juga merasakan kantuk.


Kenapa giliran aku yang tidak bisa tidur sekarang?


Aldrich meraba lemari kecil di samping ranjangnya, lalu mengeluarkan buku catatan yang sebelumnya sudah ia tulis.


Sekarang yang harus kucari dulu adalah keberadaan ayah. Dia berasal dari keluarga Hamilton. Tapi siapa? Apakah paman kak Matt? Atau yang lainnya? Ada banyak hal janggal. Kalau memang ayahku adalah pamannya atau anggota keluarga lain, kenapa aku sampai hidup miskin? Meskipun selingkuhan tetap dibiayai kan? Walaupun sembunyi-sembunyi. Dan ibu yang diracun juga aneh. Seolah-olah ingin dihilangkan. Seperti sosok anak keluarga Hamilton lain yang keberadaannya hanya sekedar rumor.


Eh? Tunggu dulu... Bukankah dari dulu keluarga Hamilton cuma memiliki satu anak? Berarti kak Matt tidak memiliki paman dong. Hanya ada keluarga inti.


Berarti yang harus dicari tahu dulu adalah, anak pertama keluarga Hamilton. Yang seharusnya menjadi kakaknya kak Matt.


"Nyam.. Nyam... Ayam goreng seember. Wah lihat! Sausnya keras seperti sabun. Ayo makan nyam nyam." Emma mengigau sambil menggigit selimutnya.


Pffttt! Kak Emma lucu sekali.


"Al."


Eh? Dia mengigau tentangku.


"Al coba pakai rok. Utututu cantiknya."


Menyeramkan! Aku ini laki-laki yang masih waras tahu!

__ADS_1


Lebih baik aku pergi membaca sesuatu. Pasti rumah ini ada koran pagi kan?


Aldrich pergi dari kamar dan berjalan menuju teras depan.


__ADS_2