
Emma menatap Aldrich yang sedang minum coklat hangat dengan ekspresi gembira. Tadi setelah lelah bermain salju, Aldrich bilang badannya kedinginan, dan Emma langsung membelikannya coklat panas.
"Mau tambah?" Tanya Emma saat melihat Aldrich sudah menghabiskan tegukan terakhir minumannya.
Aldrich menggeleng. "Sudah cukup kak."
"Non, laper nih. Makan sup daging enak kali ya." Ucap Ruri sambil mengusap perutnya.
Kenapa semakin hari, Ruri semakin kurang ajar padaku? Ya sudahlah, lagipula aku tidak suka sikap terlalu formal.
"Oke. Ayo makan sup daging."
"Horeee"
Aldrich dan yang lain akhirnya pergi menuju restoran yang menjual sup daging. Setelah sampai, Emma membahas kegiatan menyenangankan lain yang akan mereka lakukan.
"Tidak terasa besok hari terakhir kita disini. Kemana enaknya nih?"
"Terakhir? Kok cepet banget. Kita tidak jadi menginap seminggu disini non?"
"Tidak. Itu karena Wayne yang lemot bikin paspor buat Aldrich, kita jadi berangkat terlambat. Dan lusa adalah hari pertunangan Matt. Kita harus kembali."
"Baiklah." Wajah Ruri terlihat lesu. Ia hanya salah satu pembantu di rumah Emma, perjalanan menyenangkan ke luar negeri seperti ini tidak akan ia rasakan lagi. Cukup sedih kalau dibayangkan.
"Tidak apa-apa bibi, kita bisa membuat kenangan indah yang tidak bisa dilupakan." Aldrich menepuk bahu Ruri sambil tersenyum.
"Iya." Ruri mengangguk.
Nona Emma mengadopsi anak yang benar-benar baik. Dia seperti batu baterai yang bisa menyalurkan energi ke siapapun. Sayangnya, nona Emma sudah kelebihan energi. Dengan adanya Aldrich, dia semakin liar.
__ADS_1
"Al benar. Utututu pintar sekali anakku." Emma menarik pipi Aldrich dengan gemas. Kemudian cekikikan sendiri.
Lihat kan? Energi nona Emma semakin melimpah ruah.
"Oh iya. Sebelum kembali jalan-jalan, aku ingin beli setelan jas untuk Aldrich dulu. Jas disini bahannya bagus-bagus." Ucap Emma sambil melirik Aldrich.
"Hm? Jas?" Aldrich menghentikan kegiatannya menyendok sup daging. "Memangnya kenapa aku dibelikan jas?"
"Tentu saja untuk ikut denganku ke acara pertunangan Matt dengan babi betina itu."
"Tapi nona, hanya ada satu undangan untukmu." Ruri mengingatkan.
"Lalu? Apakah mereka bisa menghentikan seorang Emma Rosaline? Tidak semudah itu Fergosong."
Aldrich dan Ruri saling menatap. Memang tidak ada yang bisa menghentikan Emma, bahkan mereka sekalipun. Emma lebih percaya dengan dirinya sendiri, dan berbuat seenaknya.
◌
Wayne berjalan dengan cepat memasuki kantor bagian keuangan. Ia celingukan mencari orang yang biasanya menetap di kantor meskipun jam istirahat pegawai sedang berlangsung.
Akhirnya perempuan yang dicari Wayne terlihat. Dia sedang makan bekal sambil sibuk mengotak atik komputer untuk lembur kerja. Kacamata bulat besarnya menjadi ciri khas dari perempuan itu.
"Ratna!"
Melihat Wayne datang, perempuan itu sedikit ketakutan dan bingung harus apa. "Tuan Wayne."
"Transfer lagi uang ke rekening ini. Seperti biasa jangan tinggalkan jejak." Wayne melempar sebuah amplop yang berisi data-data bank.
"Ta-tapi saya takut. Ini namanya korupsi. Tuan sudah banyak mengambil uang perusahaan. Lalu-"
__ADS_1
"Diam kau! Berani menceramahiku? Transfer sekarang!" Bentak Wayne yang membuat nyali Ratna langsung menciut.
"I-ini... Tidak benar tuan."
"Oh? Masih pura-pura menjadi anak baik? Aku bisa melaporkanmu pada polisi dan melimpahkan semua kesalahan padamu. Kau yang mentransfer semuanya dari awal."
"Tidak! Tolong jangan lakukan itu tuan. Baik saya mengerti. Akan saya transfer." Ratna terpaksa mengangguk.
"Bagus. Ingat ibumu yang sakit. Dan jangan mempersulitku." Wayne pergi dengan langkah besar.
Ratna menunduk dan merasa bersalah. Ini semua adalah salahnya. Dulu pertama kali Wayne menyuruhnya melakukan korupsi dengan imbalan uang yang sangat besar, kebetulan Ratna membutuhkan uang untuk berobat ibunya. Semakin lama, Wayne malah memaksanya dan mengancamnya. Hingga ia tidak punya pilihan lain selain menurut.
◌
Ding!
Emma mengambil ponselnya yang mendapat notifikasi pesan. Setelah membaca isi pesan itu, ujung bibirnya terangkat lalu mengangguk pelan.
"Kak Emma, tadi pelayan memberiku hadiah mainan anak. Katanya ulang tahun restoran." Aldrich kembali ke meja setelah ijin ke toilet. Ia dengan senang memperlihatkan mobil-mobilan berwarna kuning ditangannya.
Emma mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, dan menatap malaikat kecilnya. "Wah keren sekali. Lumayan buat kenang-kenangan."
"Ya hehe." Aldrich mengangguk.
Ruri kembali menatap aneh. Eh? Kok Aldrich paham bahasa mereka? Dia tadi pergi sendirian loh. Jadi apa dugaanku benar?! Kenapa nona tidak sadar sih?
"Makannya sudah semua kan? Ayo kita pergi. Aku tidak sabar memilih setelan jas untuk Al."
"Aduh seharusnya tidak usah." Aldrich mengekori Emma.
__ADS_1
Aku akan kembali mengetes Aldrich. Apakah dia benar-benar anak genius atau bukan. Kalau benar genius, berarti nona Emma menemukan anak yang luar biasa. Dan orang-orang di rumah yang masih meremehkan Aldrich, harus ditampar dengan fakta.