
Sekarang Emma sudah membiarkan Matt makan dalam damai setelah perang dunia mereka berakhir. Tentu saja Matt langsung memakan cemilan Aldrich dengan gembira seperti Emma.
"Enak sekali. Bagaimana caramu memasaknya?" Tanya Matt sambil menatap Aldrich yang duduk di seberangnya.
"Eh? Cara? Seperti yang lainnya kok."
"Bagaimana mungkin rasanya bisa lebih enak dari restoran bintang lima?" Matt membolak-balikan bakwan jagung ditangannya dengan bingung.
"Itu karena yang buat anakku. Tangannya ajaib tau." Balas Emma sambil mengambil kembali bakwan jagung yang tersisa diatas piring.
Matt mengangguk. Ia juga berpikir kalau Aldrich sangat berbakat dalam hal ini.
"Oh iya Emma, Aldrich tidak terlihat sedih seperti yang kau ceritakan."
"Aaaaa diaaammm!!!" Emma berusaha menutupi mulut Matt, tapi laki-laki yang duduk di seberangnya itu menjauhkan wajahnya.
"Aku?" Aldrich menatap bingung pada orang dewasa yang terlihat heboh sambil membicarakannya.
"Iya. Mamamu ini khawatir, katanya melihatmu sedih dan mengurung diri di kamar."
"Aaaaa diamlah! Matt sialan!"
Aldrich akhirnya paham apa yang dimaksud Matt.
Ah begitu ya. Memang sejak pulang dari rumah kemarin, pikiranku penuh dengan ayah dan ibu. Mungkin itu membuat ekspresiku berubah sedih. Tidak kusangka kak Emma memikirkanku sampai cerita pada kak Matt.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah kemarin." Aldrich tersenyum.
"Memangnya ngapain aja dirumah lamamu?" Emma melihat Aldrich dengan khawatir.
__ADS_1
"Hanya mengenang masa lalu."
Emma mengangguk. Ia seharusnya tidak menanyakan ini, tapi mulut tanpa remnya bergerak sendiri.
Aldrich diam-diam memperhatikan Matt yang asik makan sambil memilah-milah cabai, untuk dijadikan pelengkap bakwan ditangannya.
Dalang dibalik kematian ayah dan ibu berada di keluarga Hamilton. Aku harus mendekati kak Matt agar mengetahui lebih jauh soal anggota keluarga Hamilton. Siapa itu Yelena Hamilton? Dan kenapa nama tante Ria ada di surat yang ditulis ibu? Semuanya pasti berhubungan. Aku harus mencari informasi lebih detail.
"Kenapa?"
Aldrich terkejut karena Matt tiba-tiba menoleh kearahnya seolah tahu sedang ditatap begitu lama.
"Tidak ada apa-apa." Aldrich segera menggeleng.
"Oh iya Matt. Katanya kau juga ingin menanyakan pendapat? Pendapat apa itu?" Tanya Emma setelah itu mengigit bakwan.
"Ini soal Sylvia. Aku sudah menyerahkannya pada polisi."
"Kenapa?"
"Kupikir kau akan menyanderanya sendiri dan terus menyiksanya seumur hidupmu." Kata Emma diikuti anggukan kepala Aldrich.
"Kalian pikir aku iblis tiran? Meskipun dia sudah mengambil uangku dan membuatku malu tapi dia tetaplah manusia yang harus kuperlakukan layaknya manusia."
Aldrich membuang muka. Kalau saja seluruh keluarga Hamilton berpikiran seperti ini, ibu dan ayahku tidak mungkin mati. Kenapa cuma kak Matt yang berbeda?
"Apa kau tidak takut dia balas dendam?" Tanya Emma.
"Dia bisa apa? Melawan keluarga Hamilton? Mustahil. Selain perbedaan status, posisi dia yang sekarang berada di penjara tidak akan bisa berbuat apapun."
__ADS_1
"Bukankah kak Sylvia memiliki King Korn itu? Dia bisa saja balas dendam. Dan mungkin juga sasaran balas dendamnya bukan keluarga Hamilton, melainkan orang terdekat kak Matt yang berasal dari keluarga lain." Ucapan Aldrich yang santai itu membuat Matt dan Emma langsung melotot.
"Benar juga!"
"Kenapa aku tidak kepikiran ya?"
Aldrich memutar bola matanya dengan malas. Memang apa yang bisa kalian pikirkan selain bertengkar satu sama lain?
"Aku akan menyuruh orang untuk mengawasi Korn." Matt langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu dengan cepat disana.
"Tuan muda Hamilton ini langsung sigap ya." Ledek Emma.
"Tentu saja, karena aku lebih tidak ingin dia menyakitimu dan Aldrich."
Mendengar perkataan Matt, Emma dan Aldrich saling lirik dengan bingung.
Matt tiba-tiba tersadar dengan kata-katanya yang terbilang memalukan. Ia buru-buru membuat pembelaan sambil menahan malu. "Ja-jangan salah paham ya! Aku juga khawatir dengan teman-temanku yang lain."
"Perkataan anda membuat orang salah paham." Ryker tiba-tiba muncul di samping Matt.
"Waaa!!! Kau ini apa-apaan hah?" Matt langsung berdiri dari kursi saking terkejutnya.
"Sudah waktunya kita pergi. Ada rapat pagi yang harus anda hadiri." Kata Ryker sambil mengetuk jam tangannya.
"Ck! Iya iya. Kau cerewet sekali."
Matt menoleh kearah Aldrich dan Emma yang hanya terdiam melihatnya berdebat dengan Ryker. "Aku pergi dulu. Terimakasih untuk makanannya, enak sekali."
Setelah berkata begitu, Matt pergi bersama Ryker.
__ADS_1
"Dasar orang tidak jelas."