Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Melihat DIA


__ADS_3

"Jadi apakah dia baik-baik saja?" Tanya Matt pada dokter yang selalu ada di gedung Hamilton Group. Sekarang ini ia sangat khawatir pada Aldrich yang sedang berada di pangkuan Ryker, dengan salah satu pegawai perempuan lain yang mengoleskan minyak ke hidung Aldrich.


Dokter itu sedikit tidak yakin, lalu perlahan mulai bicara. "Sepertinya anak ini-"


"MATT SIALAN!!!"


Duakk!!!


Sebuah tas merah dari kulit yang mengkilap, sukses mendarat di wajah Matt. Emma yang merupakan si pelaku pelemparan terlihat masih emosi.


"Kau apakan anakku hah? Kenapa bisa pingsan?!" Emma kembali memukuli Matt.


"Hei ini bukan salahku!" Matt hanya bisa melindungi kepalanya.


"Aldrich pingsan sendiri nona." Ryker mencoba memberi pembelaan untuk bossnya.


"Kalian juga tidak ada yang memberitahuku. Untung saja aku mendapat notifikasi dari jam tangan-"


Kata-kata Emma berhenti karena Matt tiba-tiba saja merangkul bahunya, dan membawanya berhadapan dengan dokter. "Diam dulu dan dengarkan bapak ini bicara. Oke?"


Emma akhirnya mengangguk dengan kaku. "Tapi lepaskan!".


Matt langsung mematuhinya.


Dokter laki-laki yang hampir memasuki masa tua itu, akhirnya memiliki waktu bicara. "Sudah? Baiklah begini. Kemungkinan anak ini memiliki gangguan syaraf Vagus. Hal ini terjadi karena terganggunya keseimbangan antara zat adrenalin dengan asetilkolin. Adrenalin dapat merangsang jantung bergerak lebih cepat, sedangkan asetilkolin sebaliknya. Ketika asetilkolin diproduksi lebih banyak, penurunan darah ke otak terjadi. Sehingga anak ini pingsan tiba-tiba."


"Pemicunya?" Tanya Emma.


"Bisa stress, atau ketakutan yang berlebih." Jawab dokter lagi.


"Wah, anakmu kau apakan?" Matt melirik Emma.


"Sini matamu kucolok! Daritadi dia bersamamu." Emma mencoba berjinjit untuk meraih mata Matt.


"Lalu. Bagaimana agar hal itu tidak terjadi lagi?" Tanya Matt sambil menghindari tangan Emma.


"Jangan biarkan anak ini melihat atau mendengarkan sesuatu yang bisa membuat pemicu stress dan ketakutannya. Selama itu, dia akan baik-baik saja. Ini cukup umum terjadi."


Aldrich yang sebenarnya sudah bangun tapi pura-pura masih pingsan itu ikut mendengarkan ucapan dokter. Ia sendiri juga bingung kenapa pingsan tadi.

__ADS_1


Stress? Ketakutan? Apakah karena aku terlalu terkejut dengan foto itu? Sebenarnya memang aku takut sekali untuk membaliknya. Ditambah kaget dengan kak Matt yang tiba-tiba masuk. Aku harus mengganti strategi.


Aldrich membuka matanya perlahan.


"Tuan, dia bangun." Ryker memanggil Matt.


Matt segera datang dan menatap Aldrich. "Bagaimana perasaanmu-"


Gubrak!


Emma menendang Matt dari hadapan Aldrich. "Oh anakku sayang. Katakan mana yang sakit?" Emma mengusap pipi Aldrich dengan lembut.


"Katakan pada papa juga." Matt ikut menyerobot.


"Hah?! Sejak kapan kau adalah papanya? Al, itu anakku! Titik!"


"Lagipula dia tidak memanggilmu mama. Kenapa kau yang protes?" Balas Matt.


"Matt Hamilton. Kau membuatku kesal!!!"


"Emma Rosaline. Kau juga membuatku kesal!"


"Aku baik-baik saja kok." Ucap Aldrich sambil merubah posisinya menjadi duduk.


"Ini minum dulu." Ryker yang menjadi satu-satunya orang tenang, menyodorkan segelas air mineral pada Aldrich.


"Terimakasih paman." Aldrich segera meminumnya.


Paman? Aku baru saja lulus kuliah.


Matt bangkit dan mengucapkan terimakasih pada si dokter. Ia juga menyuruh salah satu karyawan perempuannya untuk pergi. Sekarang hanya tersisa Matt, Emma, Aldrich, dan Ryker saja.


"Benar-benar tidak apa-apa kan Al?" Emma masih terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa kak. Hanya kepalaku sedikit sakit. Mungkin karena terbentur saat jatuh." Aldrich mengusap kepalanya.


"Ck! Matt itu bodoh sekali. Tidak bisa menangkapmu tepat waktu. Dasar siput! Dia bukan laki-laki."


"Apa kau bilang?" Matt menepuk kepala Emma. "Posisiku sedang berada di kolong meja tahu."

__ADS_1


"Oh maaf tuan tidak ada kerjaan. Pikiranmu random sekali ya, bisa tiba-tiba di kolong meja." Cibir Emma.



Ria baru saja kembali ke gedung Hamilton Group dari pertemuan bisnisnya. Ia menuju meja kerjanya dengan lesu. Dirinya gagal mengerjakan tugas yang Matt berikan. Ia hanya pasrah jika seandainya Matt memarahinya lagi.


Belum juga sampai di meja kerjanya, Ria melihat seorang dokter yang keluar dari ruangan Matt.


Kenapa Matt memanggil dokter? Baru pertama kalinya dia melakukan ini. Jangan-jangan dia sakit?


Karena penasaran, Ria menghampiri dokter itu. "Permisi pak, apakah Matt sakit?" Tanya Ria sambil menunjuk ruangan Matt.


"Tidak bu Ria. Tadi tuan Matt menyuruh saya untuk memeriksa seorang anak yang pingsan."


"Anak?"


"Ya, anak laki-laki. Sepertinya anak itu milik nona Emma Rosaline yang sedang berkunjung."


Mendengar itu, Ria langsung terkejut setengah mati. Anak laki-laki? Jangan-jangan sama seperti yang dibawa nona Emma di pesta kemarin? Anak yang mirip DIA.


Tidak mungkin! Apakah Matt tidak sadar dengan kemiripan mereka.


Krieeet...


Pintu ruangan Matt terbuka. Ria menoleh dan pemandangan yang ia lihat membuatnya diam membeku.


Matt berjalan sambil menggandeng Aldrich, dan anak laki-laki itu juga menggandeng Emma dengan tangan satunya.


"Jangan sentuh tangan anakku!" Bentak Emma.


"Terserah Aldrich dong."


Padahal sudah kubuat sama rata begini tapi masih saja bertengkar.


Aldrich menghela nafas dan terus berjalan. Ia berusaha mengacuhkan dua orang dewasa yang berdebat karena masalah sepele. Tapi kedua mata Aldrich menangkap sosok Ria yang sedang berdiri mematung menatapnya. Karena sudah terlanjur saling lihat, dan takut dikira tidak sopan, Aldrich menyapanya.


"Halo tante. Kita bertemu lagi."


"Huh?" Matt menatap Ria penuh permusuhan.

__ADS_1


"Ha-halo... Apa kabar?" Keringat dingin mulai muncul di kening Ria. Entah itu karena tatapan Matt, atau karena dia berhadapan dengan Aldrich. Seorang anak yang dilihat dari dekat semakin mirip dengan orang yang selalu membuatnya merasa bersalah. Dengan kedatangan Aldrich, seolah-olah memberitahu Ria kalau karmanya akan segera datang.


__ADS_2