Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Kamu Ketahuan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Emma sedang menyiapkan keperluannya liburan bersama Aldrich. Meskipun hari sudah sangat larut, ia masih semangat ketika mengingat wajah senang Aldrich.


"Nah bawa ini juga, lalu ini." Emma memasukkan beberapa baju. Ia sengaja tidak membawa banyak baju, karena ingin berbelanja banyak baju selama disana. "Lalu..." Emma terhenti saat melihat undangan pertunangan Matt yang tergeletak didekat koper yang sedang ia kemas.


Ternyata bisa laku juga nih orang.


Emma mengambil undangan itu dan menatap nama Matt disana. Entah kenapa perasaan tidak enak kembali muncul.


Siapa sih Sylvia ini?


Tunggu, kenapa aku peduli? Terserah orang aneh itu mau tunangan dengan siapa. Dengan kucing pun boleh.


Emma melemparkan undangan itu ke sembarang arah, dan kembali berkemas.


Tap! Tap! Tap!


Terdengar suara orang berlari mendekati kamar Emma. Di jam itu, tidak mungkin ada asistennya yang masih bangun.


Wih setan lagi lomba lari kah? Videoin ah biar viral. Emma mengambil ponselnya dan buru-buru mendekati pintu.


Krieeet


"Waaah!!!" Aldrich terkejut dan langsung menutupi wajahnya dengan buku.


"Ya ampun, Al. Kukira siapa. Ngapain malam-malam keluyuran?"


Setelah tahu itu suara Emma, Aldrich membuka buku di wajahnya. "Ambil buku ini kak. Karena takut jadi cepat-cepat."


"Hahaha apa yang kamu takutkan? Pasti Ruri yang lagi pakai masker wajah. Dia kalau sudah selesai pakai masker wajah suka keluyuran. Bikin senam jantung." Emma mengusap kepala Aldrich untuk menenangkannya.


Ternyata kak Emma juga pernah melihat bibi Ruri pakai masker. Tapi emang menyeramkan sih. Aldrich mengangguk.


"Baca buku apa tuh? Lihat dong."


"Oh ini kak. Buku bahasa Inggris." Aldrich mengangkat bukunya, dan judul 'Percakapan Mudah Bahasa Inggris Untuk Pemula' langsung terpampang jelas.


"Hem, begitu. Tapi buat apa kamu belajar itu? Kita akan bersama-sama terus, jadi aku yang akan bicara pada orang-orang."


"Hehe iseng saja kak."

__ADS_1


"Lagipula memangnya kamu paham? Susah pengucapannya."


Eh?! Iya juga. Bagaimana kalau kak Emma curiga padaku?!


"Ah ini... Ada gambarnya jadi seru bacanya hehe."


"Baiklah. Kamu kembali ke kamar dan tidur. Besok kita berangkat pagi. Nanti bisa ketinggalan pesawat loh."


"Iya kak." Aldrich kembali menuju kamarnya dan masuk.


Aduh anakku lucu sekali. Emma senyum-senyum sendiri sambil meremas tangannya karena gemas.



Esok harinya.


"Kak bangun!"


"Nona, pesawat kita hampir terbang."


Aldrich dan Ruri sudah berkumpul di kamar Emma. Mereka mencoba membangunkan perempuan yang masih tertidur sangat pulas itu.


"Kasihan juga kalau dibungunin. Kemarin nona Emma pulang malam karena pekerjaannya sangat banyak." Ucap Ruri sambil menatap Emma sedih.


"Tidak!!! Ayamku!" Emma langsung terbangun dan duduk sambil celingukan. "Ayam? mana ayamku?"


"Tidak ada ayam. Ini jadi berangkat tidak?" Tanya Ruri sambil memperlihatkan jam tangannya.


"Oh iya! Kenapa kalian tidak membangunkanku?!" Emma langsung berdiri dan menggunakan jurus rahasianya yang bisa berganti pakaian secepat kilat. "Ayo berangkat!"


Tidak cuci muka atau apa gitu? Aldrich hanya menatap aneh. Tapi Ruri terlihat biasa saja. Mungkin dia sudah melihat adegan itu berkali-kali.


"Ayo!"


Perjalanan menuju bandara cukup lancar. Tidak ada macet sama sekali. Itu bagus, karena kalau terjebak macet, sudah pasti mereka akan terlambat berangkat.


Saat sampai di bandara, Emma menuntun Aldrich dan Ruri yang masih kebingungan bagaimana cara naik pesawat. Untung saja mereka berdua sudah disiapkan paspor oleh Wayne sejak lusa kemarin.


Aldrich dan Ruri yang baru saja naik pesawat dibuat terkagum-kagum hanya dengan kursi yang mereka duduki. Emma senang sekali melihatnya, karena ia bisa memberikan pengalaman pertama naik pesawat pada Aldrich dan Ruri.


Pesawat mulai lepas landas. Sempat panik karena pesawat bergoyang-goyang, dan Ruri tiba-tiba mengucapkan wasiat. Tapi kedua pemula itu akhirnya senang setelah pesawat sudah mengudara. Mereka sibuk melihat pemandangan dari jendela di samping tempat duduk.

__ADS_1


"Lihat Aldrich! Itu rumah kita!" Ruri menunjuk pemandangan dibawah.


"Mana mungkin rumah kita kelihatan?" Komentar Emma.


"Aku melihat tukang bakso langganan kita bi!" Seru Aldrich.


"Itu lebih mustahil lagi."


Akhirnya Aldrich dan Ruri berhenti bicara saat pemandangan sudah berubah menjadi hamparan awan. Dan sekarang mereka sedang menyantap makanan yang diberikan oleh pramugari.


"Aduh makanannya sedikit. Aku tidak kenyang." Ucap Ruri yang sudah menghabiskan makanannya dalam hitungan detik.


"Bibi Ruri, kalau pesawat ini membawa banyak makanan nanti jatuh. Coba bayangkan seberapa berat grobak bakso?" Balas Aldrich.


"Kalaupun mereka bawa bakso, tidak mungkin sama gerobaknya juga dong, Al."


"Hehe siapa tahu sama gerobaknya."


"Ruri, kalau masih lapar akan kupesankan menu tambahan. Mau?" Tawar Emma.


"Pasti mau! Yang tadi cuma di tenggorokan, belum sampai perut hehe." Jawab Ruri malu-malu.


"Berarti bibi Ruri tersedak ya? Ayo cepat minum." Aldrich menggeser air mineralnya kearah Ruri.


"Haha bisa saja kamu, Al."


Jauh dibelakang tempat duduk Emma dan yang lainnya. Seorang perempuan duduk sambil bersandar di bahu laki-laki yang duduk di sampingnya.


"Sayang, nanti kita belanja yang banyak ya. Aku baru dapat uang nih dari Matt." Ucap perempuan itu dengan bangga.


"Wih mantap. Aku mau beli jam tangan baru ah. Tapi aman kan? Matt tidak tahu kau pergi denganku?"


"Aman. Dia itu sudah percaya sekali sama aku. Dan aku bilang sedang di rumah nenek. Pasti tidak diganggu deh." Sylvia mengacungkan ibu jarinya dengan yakin.


"Bagus sekali Sylvia sayang. Jangan lupa tutupi wajahmu, nanti ada orang yang mengenalimu loh."


"Kita akan berlibur ke luar negeri, siapa yang akan mengenaliku disana?"


Aldrich terdiam setelah melewati tempat duduk pasangan kekasih itu. Ia yang berniat pergi ke toilet malah mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.


Sylvia? Dia...

__ADS_1


Rupanya begitu. Ternyata cerita seperti di sinetron ini biasa kulihat secara langsung. Kak Sylvia yang cantik, kira-kira bagaimana kalau kak Matt tahu?


Aldrich tersenyum, kemudian kembali melanjutkan langkah kaki kecilnya menuju toilet.


__ADS_2