Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Menjadi Jelek


__ADS_3

"Apaaaaa?! Kenapa aku tidak boleh ikut main detektif?" Protes Emma, setelah mereka membuat rencana untuk memotret Sylvia ketika bertemu.


"Kita kan sudah bilang, karena nona itu terkenal." Ucap Ruri yang disetujui Aldrich.


"Aku bisa menyamar seperti yang ada di film." Emma kembali antusias.


"Menyamar jadi apa kak?"


"Laki-laki dong hehe."


"Tidak pantas sama sekali. Bentuk wajah nona itu perempuan banget. Kalau menyamar jadi laki-laki pasti langsung ketahuan." Ruri mengatakannya sambil mencolek pipi Emma.


"Lalu bagaimana? Aku ingin ikut. Pokoknya ikut! Ikut! Ikut!"


"Mungkin ada satu cara." Aldrich mengusap dagunya sambil menatap wajah putih dan manisnya Emma.


"Apa itu?" Emma terlihat senang karena Aldrich memberikan jalan keluar agar dirinya bisa ikut main detektif.


"Menyamar jadi orang jelek saja."



Hampir satu jam Emma didandani menjadi seperti orang jelek oleh Ruri. Ia bahkan dipakaikan rambut palsu kribo dan riasan yang menor.


"Aku masih penasaran. Kenapa bibi Ruri membawa rambut kribo palsu?" Tanya Aldrich sambil memegang rambut palsu yang sudah berada di kepala Emma itu.


"Hahaha sebenarnya aku sangat gugup karena baru pertama kali keluar negeri. Aku bingung barang apa saja yang mau kubawa."


"Eh? Jadi kau berpikir secara random untuk membawa rambut palsu kribo?"


"Iya nona haha."


Bibir Ruri seperti kak Emma. Aneh.

__ADS_1


"Nah sudah! Bagaimana menurut nona?" Ruri dengan bangga memberikan kaca pada Emma. Dan setelah melihat pantulan dirinya, Emma langsung histeris.


"Siapa ini?! Ini bukan aku! Bukan! Huaaa kenapa sejelek ini?" Emma berguling-guling diatas lantai sambil menangis.


"Eh jangan menangis non! Semua make up ku tidak anti air!"


"Hm?"


Saat Emma mengangkat wajahnya, eyeliner yang sudah dioleskan Ruri luntur, dan membentuk aliran air mata berwarna hitam.


"Pffttt! Hahaha maaf nona, tapi ini terlihat sangat lucu. Aduh perutku sakit lagi hahaha." Ruri tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk wajah Emma.


"Eh? Ada apa memangnya?" Bukannya mengambil kaca, Emma malah mengusap jejak air mata hitamnya, membuat warnanya menyebar ke seluruh pipi. "Apa ini?!"


"Hahaha lucu sekali." Ruri masih setia tertawa.


"Ruri!" Emma kembali sedih dan menatap ke samping. "Al, lihat! Aku dikerjai Ruri." Tapi ekspresi Emma seketika berubah saat melihat tidak ada seorang pun disana. "Al? Kamu kemana Al?"


"Eh? Iya juga. Kok Aldrich tidak ada." Ruri ikut celingukan.



Tidak kusangka kak Emma membawa banyak kamera di kopernya. Saat suasana rusuh tadi, aku mengambil kamera yang kupikir mudah dipakai. Kurasa aku tahu cara pakainya. Aku pernah lihat iklan kamera di selebaran dan di koran.


Aldrich mencoba memotret hotel yang menjadi tempat menginapnya dari jauh. Ternyata pengoperasian kamera itu mudah. Aldrich bersyukur suka membaca koran bekas dulu. Wawasannya jadi lebih luas.


"Sayang, ayo pergi ke mall. Beli baju."


Aldrich terdiam saat sepasang kekasih lewat dibelakangnya. Mereka tidak memperdulikan Aldrich sama sekali, dan asik mengobrol dan berjalan bersama.


Mereka kan... Kak Sylvia dan kekasihnya.


Aldrich terus melihat dari jauh. Sylvia menyebrang jalan bersama kekasihnya.

__ADS_1


Eh? Tidak naik taksi? Memangnya dekat ya?


Puk! Puk!


Seseorang menepuk bahu Aldrich dari belakang. Dan saat anak laki-laki itu menoleh, perempuan berambut kribo dan memakai kacamata hitam besar menyambut pandangannya.


"Waaaa!!!" Aldrich sempat terkejut, kemudian ia teringat dengan Emma. "Kak Emma?"


"Kamu jangan nakal di tempat asing ya, Al. Aku bingung sekali mencarimu tahu!" Emma menarik kedua pipi Aldrich dengan gemas.


"Maaf kak. Sampai membuat kakak mencariku kemana-mana."


"Aku tidak memarahimu. Hanya khawatir. Dan sebenarnya aku tidak susah mencarimu sih. Aku melacak kamera yang kamu bawa hehe." Emma mengusap kepala Aldrich lalu memeluknya.


"Oh iya hampir saja lupa lagi." Emma mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Itu adalah sebuah kotak yang terlihat mewah dengan warna dominan emasnya. "Ini adalah jam tangan edisi terbatas. Dengan memakai ini, aku bisa melacak keberadaanmu. Dipakai terus ya." Emma memakaikan jam tangan yang dimaksud ke pergelangan tangan Aldrich.


"Terimakasih kak."


"Sama-sama kesayanganku."


"Ya ampun, aku jadi dicuekin. Keberadaanku seolah hampa." Goda Ruri yang ternyata berdiri dibelakang Emma.


"Iri ya. Makanya punya anak sana!"


"Aku ingin menikah dulu, baru punya anak. Memangnya seperti nona? Punya anak diluar nikah."


"Kenapa seolah-olah aku melakukan tindakan jahat ya?" Emma menggaruk kepalanya.


Aldrich tersenyum menanggapi pembicaraan aneh orang dewasa di depannya. Kemudian ia memberanikan diri untuk menyela "tadi aku melihat kak Sylvia lagi dengan pacarnya. Katanya mau ke mall."


"Ya ampun, kenapa tidak bilang dari tadi? Ruri cepat cari taksi."


"Mereka tidak naik taksi kak. Malah jalan kesana." Tunjuk Aldrich kearah pasangan itu menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Hmmm iya juga, disana ada mall. Hotel ini juga terkenal karena letaknya yang strategis. Dekat dengan mall, bandara, dan lokasi wisata." Emma mencoba menerangkan.


"Ah sudahlah. Nona banyak bicara. Ayo pergi." Ruri menggandeng masing-masing tangan Emma dan Aldrich.


__ADS_2